https://www.imdb.com/title/tt1462546

King merupakan film besutan sutradara Ari Sihasale, yang sebelumnya pernah sukses memproduseri film anak-anak sejenis, yaitu Denias. Film ini dibintangi oleh aktor cilik, Rangga Raditya didampingi aktor-aktris populer, seperti Mamiek Prakoso, Surya Saputra, serta Wulan Guritno. Film ini juga menampilkan cameo beberapa pemain bulutangkis ternama, seperti Liem Swie King, Heryanto Arbi, Maria Kristin, Ivanna Lie, dan lainnya.

Alkisah, Guntur (Rangga Raditya) adalah seorang anak desa yang memiliki talenta untuk menjadi seorang pemain bulu tangkis handal. Ayahnya, Tejo (Mamiek), dan sahabatnya, Raden, tidak henti-hentinya memotivasi Guntur untuk meraih mimpinya menjadi pemain bulutangkis besar seperti idolanya, Liem Swie King. Dalam meraih cita-citanya, Guntur dihadapkan pada masalah besar, yakni kondisi keluarganya yang miskin. Dengan semangat pantang menyerah dan dibantu orang-orang terdekatnya, Guntur akhirnya dapat masuk ke klub bulutangkis besar di Kudus yang membuka jalan untuk meraih cita-citanya.

Kelemahan utama film ini seperti film-film kita kebanyakan lagi-lagi terdapat pada alur kisahnya yang datar. Konflik ceritanya terlalu lemah dan kadang tampak terlalu mengada-ada. Konflik ayah dan anak memang biasa terjadi namun rasanya aneh bocah seumur Guntur tidak bertegur sapa dengan ayahnya hingga beberapa hari. Konflik Guntur dengan Raden dan Michele di penghujung kisah juga sama sekali tidak jelas motifnya, semata-mata hanya untuk mendramatisir adegan perpisahan. Konflik Guntur dengan rekan satu klubnya juga tidak menghasilkan pelajaran yang berarti bagi sang bocah. Logika cerita juga banyak yang mengganjal dan cerita seringkali terpotong sehingga banyak hal tak jelas penyebabnya. Satu contohnya, tak jelas alasan Raden menguntit ayah Guntur ke pabrik shuttlecock di desa sebelah. Apa setelah sekian lama Guntur tidak mengetahui jika disana ada klub bulutangkis? Jika Tejo ingin anaknya maju kenapa ia tidak mendaftarkan Guntur kesana? Toh ia kenal dengan pelatihnya.

Baca Juga  Maju Kena Mundur Kena

Satu-satunya nilai lebih film ini ialah panorama alam serta pedesaan yang mampu dioptimalkan dengan sangat baik. Bukit-bukit yang indah, kawah gunung, hutan, padang rumput dengan rusa-rusa yang tengah berlarian, hingga desa tempat Guntur tinggal, semua tersaji dengan indah, mengisyaratkan alam kita yang damai jauh dari hiruk pikuk kota. Sementara permainan bulutangkis sendiri yang menjadi jiwa filmnya kurang tersaji dengan baik. Apa sebenarnya kelebihan permainan Guntur ketimbang bocah-bocah lainnya. Apakah smash, drop shot, atau lainnya? Tidak ada shot yang menjelaskan hal ini. Satu shot yang mampu menggugah rasa nasionalisme kita serta kerinduan gelar juara yang beberapa tahun ini gagal diraih oleh pemain-pemain bulutangkis kita adalah ketika Guntur melihat foto-foto para legenda bulutangkis kita yang terpampang di dinding klub barunya. Ilustrasi musik terutama lagu menghentak yang disajikan sepanjang filmnya juga menjadi satu nilai plus filmnya.

King judul filmnya tapi apa sebenarnya hubungan antara Guntur dengan Liem Swie King? Guntur bisa jadi merupakan refleksi dari kehidupan Liem Swie King (nama kecilnya juga Guntur) di masa kecilnya atau bisa pula Guntur merupakan refleksi dan harapan dari generasi muda yang melahirkan “King – King” baru. Nilai positif film ini adalah mampu memberikan warna bagi perfilman kita, khususnya film anak-anak, setelah belakangan ini kita selalu dicekoki film-film horor remaja dan parodi politik yang tidak mendidik.

WATCH TRAILER

Artikel SebelumnyaHome, Mengajak Kita untuk Peduli Bumi
Artikel BerikutnyaGaruda di Dadaku, Tentang Mimpi, Sepakbola, dan Kematangan Teknis
Febrian Andhika lahir di Nganjuk, 18 Februari 1987. Ia mulai serius mendalam film sejak kuliah di Akademi Film di Yogyakarta. Sejak tahun 2008, ia bergabung bersama Komunitas Film Montase, dan aktif menulis ulasan film untuk Buletin Montase hingga kini montasefilm.com. Ia terlibat dalam semua produksi awal film-film pendek Montase Productions, seperti Grabag, Labirin, 05:55, Superboy, hingga Journey to the Darkness. Superboy (2014) adalah film debut sutradaranya bersama Montase Productions yang meraih naskah dan tata suara terbaik di Ajang Festival Film Indie Yogyakarta 2014, dan menjadi runner up di ajang Festival Video Edukasi 2014. Sejak tahun 2013 bekerja di stasiun TV swasta MNC TV, dan tahun 2015 menjadi editor di stasiun TV Swasta, Metro TV. Di sela kesibukan pekerjaannya, ia menyempatkan untuk menggarap, The Letter (2016), yang merupakan film keduanya bersama Montase Productions. Film ini menjadi finalis dalam ajang Festival Sinema Australia Indonesia 2018.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.