Ada problematika yang jamak namun luput di jagat film dalam negeri, sebetulnya. Bukan persoalan pra produksi, atau keberlangsungan sebuah produksi. Bukan intrik dan konflik antara produser dan sutradara. Bukan pula peluncuran film dan apapun yang menyangkut itu semua. Klise sekali. Masalah ini adalah masalah yang sudah amat bergebalau—dan berkembang begitu matang—entah ada yang menyadari atau tidak. Di mana yang saya maksudkan ialah—sebuah ‘kritik’ terhadap ‘film’ yang tumbuh di lingkungan perfilman Indonesia, telah kehilangan maksud esensialnya. Kritik film tak lagi membicarakan apakah film ini bagus, apakah film ini berhasil memanfaatkan medium filmnya, dan semacamnya dan semacamnya. Indikator-indikator itu hilang, lenyap tak meninggalkan bekas.

Pemicu. Terlihat ada pemicu yang merubahnya, mentransfigurasikan takrif dari kritik film itu sendiri. Apa yang dimaksudkan dari kritik film—yang menjadi fungsi dari sebuah kritik film, tidak lagi berotasi pada poros yang semestinya. Sebagai contohnya, pembahasan sinematik, keotentikan, logika naratif, karakteristik, juga estetika dalam sebuah film—sedikit demi sedikit tenggelam. Sebab? Semuanya sibuk berlarian pada ranah ide, ide, dan ide. Gagasan menjadi pokok bahasan yang substansial dalam kritik film. Gagasan mempunyai kedudukan yang mayor dalam kritik film hari ini. Sementara apa yang saya sebutkan di atas, dalam kedudukan yang minor pun nihil. Pemicu pergantian wajah dari kritik film ini tak lain tak bukan terjadi akibat sebuah penciptaan ruang atau lingkungan kritik film yang tidak pada tempatnya. Kritik film, di Indonesia, berorientasi bukan lagi pada upayanya melahirkan penilaian terhadap sebuah film. Tetapi ada usaha yang direngkuh—yang pada kenyataannya keluar dari atmosfir perfilman.

Pada titik kulminasi, permasalahan tersebut semakin dibudaya-rawatkan oleh suatu komunitas atau dewan yang bergerak di lini penghargaan dalam jagat sinema. Festival Film Indonesia tahun kemarin dan tahun sekarang (atau mungkin ini bakal terjadi pada tahun mendatang) ialah pelaku yang paling menonjol menciptakan perubahan tersebut. Salah satu festival film yang bisa dikatakan paling prestisius di Indonesia. FFI, secara tidak langsung merawat transformasi lingkungan kritik film di Indonesia—lewat power eksistensinya.

Pada Nominasi Penghargaan Karya Kritik Film Terbaik—pembahasan mengenai film—pada karya-karya yang tercantumkan, sesungguhnya terkikis. Di sana, kritik film tidak lagi membahas apa yang kurang dan apa yang musti dibenahi dalam sebuah film. Tidak lagi ada penuntasan atau pengamatan unsur-unsur yang kurang mencolok di dalam sebuah film. Tidak lagi menguntit pencapaian sinematik dan estetika apa yang dipanjati-didaki oleh seorang sineas dalam filmnya. Hal-hal demikian, tak mendapatkan tempat pada karya-karya kritik film yang berhasil masuk ke dalam nominasi. Seakan-akan Catatan Dewan Juri yang menjadi tolak ukur penilaian karya hanyalah hitam di atas kertas.

Apa memang kritik film itu berlarian pada pembahasan ide dari sebuah film? Atau mengembangkan ide tersebut menjadi pengetahuan baru? Menyelaraskannya dengan pelbagai teori yang jauh dari dimensi film? Apa benar kritik film harus terikat kuat dengan keilmuan-keilmuan akademik? Lalu di mana letak pembahasan film yang sesungguhnya? Di bagian mana aspek sinematik dalam kritik film dibahas? Saya tak mendapatkan informasi apakah film-film yang dikritik dalam karya yang masuk nominasi tersebut baik atau tidak—berhasil secara bahasa gambar atau tidak. Dan saya malah tak mendapatkan informasi di mana letak ‘kritik’ berada.

Jika memang bunyi Catatan Dewan Juri FFI seperti berikut: “karya-karya yang terpilih dalam daftar nominasi ini mengulas dengan tajam aspek-aspek cerita dan estetika dengan berimbang”. Lalu di mana keseimbangan yang dimaksudkan itu? Saya tidak melihatnya—saya merasa sulit menemukannya dalam karya kritik yang lahir dari tulisan-tulisan penulis yang masuk nominasi tahun ini. Dan pada karya tulis yang menang tahun lalu. Keseluruhannya timpang—ada dominasi pembahasan di dalamnya, meski agaknya sukar untuk dikatakan pembahasan aspek-aspek film mendapatkan tempat dalam karya-karya tulis tersebut.

Baca Juga  Jumlah Layar Bioskop Indonesia, Idealkah?

Karena dari apa yang berhasil saya amati, karya yang disebutkan sebagai kritik itu—yang mendapatkan posisi dalam nominasi itu—hanya berhenti pada tingkatan kajian. Dan saya rasa ini perlu untuk diketahui, bahwa kajian dan kritik tidaklah beririsan. Memang, beberapa kawan-kawan pegiat film memiliki pendapat dan pandangan sendiri, bahwa kajian film merupakan produk dari kritik film itu sendiri. Tapi ini agaknya harus ditelisik ulang lagi, menurut saya.

Karena apabila kajian film itu sama atau merupakan produk dari kritik film, berarti siapa saja dapat dikatakan kritikus film. Orang-orang yang berilmu dari lintas disiplin dapat mengkorek film lewat korelasi keilmuannya dengan tema yang diangkat dari sebuah film. Semisal perang, kesehatan, botani, dan sebagainya. Dan mereka bisa dikatakan seorang kritikus film. Walhasil, kritik film tidak punya batasan, sebagaimana kritik seni, kritik sastra, kritik musik, dan kritik-kritik yang lainnya. Yang mana mereka tentu memahami seluk-beluk dari seni, sastra, musik. Tetapi kritik film, dengan alasan yang remeh ini, bermodalkan teladan ilmu pramuka pun bisa mengkritik film, bukan begitu? Barangkali.

Kritik dan kajian film, menurut saya, tetaplah dua hal yang berbeda—memiliki disfaritas yang signifikan. Bukan hanya arti harfiahnya dalam dimensi film, tapi juga alamatnya yang berlainan jalur. Kajian, mendudukkan film bukanlah sebagai karya—melainkan sebagai kumpulan fragmen yang selain menjadi suatu yang dikaji, juga memperkuat gagasan atau pengembangan pengetahuan yang dikelupas dari film—dan itu akan disampaikan ke khalayak umum. Sementara kritik, mutlak memposisikan film sebagai karya—yang artinya sebuah karya film dimungkinkan untuk dinilai—juga dapat dikupas, dapat dilakukan proses pembedahan—yang bertujuan untuk membenahi yang rusak, memoleskan yang keropos—pada film tersebut. Dan untuk melakukan itu, butuh pencapaian pada titik yang tak cuma memahami teori-teori film saja atau mengetahui teknis-teknis saja, tapi juga mempunyai referensi film yang banyak—relasi tontonan yang luas—bahkan sampai tak terhitung jumlahnya. Itu yang paling elementer.

Maka dari sini jikalau kritik film masih saja mengandung takrif yang keluar dari maksud serta tujuannya, yaitu menilai film—sinema yang hadir dalam negeri ini, sulit untuk berkembang. Akhirnya mentok pada kreasi yang terus diulang-ulang. Betapa memuakkannya. Kritik film (walau masih dipandang sebelah mata) merupakan jantung evaluasi bagi tumbuh-kembangnya perfilman. Bila kritik itu tajam, sineas-sineas pun akan belajar—tekun mengasah tangannya pada bahasa-bahasa visual, misalnya. Kontribusi dari kritik terletak pada apa yang tak dapat dilihat oleh sineas—apa yang tak dapat dijangkau oleh sineas. Oleh karena para pelaku kritik film memiliki pengalaman menonton yang berlimpah. Pelaku-pelaku tersebut jelas mempunyai kepekaan dalam menelisik kekurangan dan keunggulan dari sebuah film. Jelaslah dari sini, kalau kritik film semata dimaknai berkutat pada ranah ide saja, lantas apa yang akan berkembang dari film-film Indonesia? Kita, perfilman Indonesia, begitu banyak punya film yang memuat narasi besar—narasi yang luar biasa—narasi yang hangat dengan isu zaman. Tapi, toh, pada akhirnya pemanfaatan medium film tidak dieksplor dengan sebaik-baiknya.

Artikel SebelumnyaWeird: The Al Yankovich Story
Artikel BerikutnyaSri Asih
Azman H. Bahbereh, lahir dan besar di Singaraja, Bali. Saat ini menempuh pendidikan di Kota Malang. Kegemarannya menonton film telah tumbuh semenjak kecil ketika melihat tarian dengan iringan musik dari jagat sinema Bollywood, terkhusus Soni Soni Akhiyon Wali di film Mohabbatein. Selain menulis film-film yang ditontonnya, ia juga aktif menulis puisi dan bergiat di komunitas sastra yang ada di Kota Malang.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.