Kung Fu Panda 3 (2016)

95 min|Animation, Action, Adventure|29 Jan 2016
7.1Rating: 7.1 / 10 from 210,055 usersMetascore: 66
Continuing his "legendary adventures of awesomeness", Po must face two hugely epic, but different threats: one supernatural and the other a little closer to home.

Franchise animasi laris andalan Dreamworks, Kung Fu Panda, kini sampai pada seri ketiganya.Pada akhirseri keduanya memang telah terlihat potensi sekuelnya. Po yang sudah sedemikian sakti kini mau apa lagi? Masa lalu dan asal usul Po menjadi lahan eksplorasi cerita lanjutan kini. Terlalu dibuat-buat? Bisa jadi, namun pencapaian seri ketiga inibisa dibilang jauh dari buruk.

Alkisah di alam baka, seorang ksatria jahat, Kai, mengumpulkan chi (energi murni) dari para ksatria di alam baka untuk bisa kembali ke dunia fana. Master Oogway, mantan guru sesepuh Po pun ikut menjadi korbannya. Sementara Po secara mengejutkan kedatangan ayah kandungnya, Li Shan, yang menimbulkan kecemburuan terhadap ayah angkatnya, Mr Ping. Kembalinya Kai menimbulkan kekacauan dimana-mana dan Po pun dianggap tidak akan mampu mengalahkannya tanpa mengetahui rahasia energi Chi. Sang Ayahmenawarkan untuk membantunya mempelajari Chi namun Po harus ikut ayahnya ke kampung rahasia Panda untuk bertemu dengan saudara-saudaranya.

Dari plotnya inti kisahnya tidak jauh berbeda dari dua seri sebelumnya. Po sebagai ksatria Naga harus memahami sesuatu yang ia sendiri belum pahami untuk meraih tingkat kesadaranilmu kung-fu yang lebih tinggi. Po yang sudah tanpa tanding sampai harus dicarikan lawan tangguh dari alam baka. Hasil akhir semua orang pasti sudah bisa menebak hasilnya namun bagaimana prosesnya adalah hal yang menarik disini. Master Shifu serta rekan-rekan satu tim Po, Tigress dan kawan-kawan, tidak lagi menjadi sorotan utama. Tema keluarga kali ini adalah yang menjadi nilai lebih,utamanyaperseteruan antara Mr. Ping dan Li Shan cukup mencuri perhatian. Diluar sisi aksi komedinya yang menghibur sertakehangatan keluarga, kata-kata bijak sering sekali muncul dalam dialog-dialognya. Solusi yang ditawarkan pun begitu manis menyatukan semuanya dalam satu ikatan keluarga besar.

Baca Juga  Us

Kung Fu Panda 3 masih menggunakan formula cerita relatif sama namun sisi komedi, aksi, serta tema keluarga yang hangat dijamin menghibur penonton segala usia, dikemas dalam pencapaian animasi yang luar biasa dan penuh warna. Penonton dijamin bakal tertawa geli melihat aksi dan polah Po sepanjang filmnya. Nama-nama besar untuk pengisi suara masih sama seperti lalu, yakni Jack Black, Dustin Hoffman, Angelina Jolie, Jackie Chan, Seth Rogen, Lucy Liu, Kate Hudson,hingga J.K Simmons sebagai Kai. Film ini mengajarkan banyak hal pada kita untuk mengenali diri kita sendiri. Potensi sejati kita terdapat dari sesuatu hal yang kita suka dan cintai. Jika kita melakukan hal ini maka apapun bisa tercapai.

Watch Trailer

PENILAIAN KAMI
Overall
80 %
Artikel SebelumnyaLondon Has Fallen
Artikel BerikutnyaPesantren Impian
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses