Kung Fu Panda (2008)
92 min|Animation, Action, Adventure|06 Jun 2008
7.6Rating: 7.6 / 10 from 515,817 usersMetascore: 74
To everyone's surprise, including his own, Po, an overweight, clumsy panda, is chosen as protector of the Valley of Peace. His suitability will soon be tested as the valley's arch-enemy is on his way.

Setelah sukses fenomenal dengan seri animasi Shrek, Dreamworks Animation kembali mengulangi suksesnya melalui film animasi terbaru mereka, Kung Fu Panda. Film ini hanya dalam waktu seminggu rilisnya telah meraih pendapatan kotor lebih dari $60 juta hanya di Amerika Utara saja. Seperti halnya ShrekKung Fu Panda diisi oleh suara beberapa bintang besar antara lain, Jack Black, Dustin Hoffman, Angelina Jolie, Jackie Chan, serta Lucy Liu.

Alkisah seekor panda besar dan gemuk bernama Po (Black), adalah penggemar berat dan amat terobsesi dengan Kung Fu. Po bersama ayahnya bekerja sebagai penjual mie, sang ayah berharap anaknya mampu meneruskan usahanya yang merupakan tradisi leluhurnya. Suatu ketika Master Oogway, si kura-kura tua pemimpin Jade Temple, meramalkan kedatangan kembali si harimau jahat, Tai Lung, dan hanya Ksatria Naga-lah (Dragon Warrior) yang sanggup mengalahkannya untuk memberikan kedamaian bagi seluruh warga desa. Ada lima kandidat kuat sebagai ksatria terpilih, yakni Tigress (Jolie), Monkey (Chan), Viper (Liu), Crane, serta Mantis yang kelimanya merupakan murid dari Master Shifu (Hoffman). Sewaktu acara pemilihan berlangsung, Po yang bersusah payah pergi ke Jade Temple untuk melihat para idolanya, justru secara mengagetkan ditunjuk oleh Master Oogway sebagai sang ksatria terpilih. Para murid lainnya bahkan Master Shifu sangat kecewa dengan penunjukan Po. Namun sepeninggal Master Oogway, Master Shifu akhirnya menyadari kekeliruannya dan melihat potensi bakat natural dari Po.

Plotnya sama seperti halnya film-film kung fu dan animasi (baca: anak-anak) lazimnya sangat sederhana, yakni kebaikan versus kejahatan, sang tokoh utama harus bersusah-payah menjalani latihan sebelum menjadi jagoan hebat, lalu pertarungan klimaks dimana sang jagoan akhirnya menang melawan tokoh jahat. Jujur, memang hanya itu saja, bahkan sosok Po sedikit banyak mengingatkan sosok si Ogre Hijau, Shrek, hanya saja sosok sang panda jauh lebih lucu dan menggemaskan ketimbang si monster hijau. Lalu apa yang istimewa dari kisahnya? Di luar sekuen aksi yang begitu seru dan menghibur, Kung Fu Pandamampu menampilkan humor “biasa” dengan kemasan yang lebih segar, serta diselingi petuah-petuah bijak (ala Yoda) dari Master Oogway. Seperti dalam satu adegan, Po menirukan polah dan gaya bicara Master Shifu yang ditangggapi gelak-tawa dari rekan-rekannya. Adegan seperti ini bisa jadi telah kita lihat ratusan kali dalam film namun tetap saja mampu membuat penulis tertawa hingga menangis. Walau nyaris tiap adegan sarat dengan unsur aksi dan komedi namun film ini tetap mampu menjaga ritme antara komedi, aksi, dan drama dengan baik sehingga kita tidak pernah kehabisan energi untuk tertawa.

Baca Juga  Elvis

Namun uniknya tidak seperti plot film-film animasi sejenis, Kung Fu Panda tidak mengangkat tema (umum), seperti roman, persahabatan, keluarga, atau bahkan keberpihakan pada kaum lemah, namun… it’s just simply about destiny. Bagaimana Master Shifu akhirnya mampu memahami makna kata-kata Master Oogway; Bagaimana rekan-rekan Po akhirnya menerima takdir Po sebagai sang Dragon Warrior; lalu bagaimana ayah Po akhirnya mampu menerima takdir sejati anaknya; serta pula Po yang akhirnya memahami dirinya sebagai sosok ksatria terpilih (namun masih saja terengah-engah ketika menaiki ribuan anak tangga Jade Temple di akhir kisahnya).

Sekuen-sekuen aksinya yang sangat seru dan menghibur jelas tidak perlu diragukan lagi. Adegan-adegan perkelahian “Kung Fu” yang begitu cepat dan energik amat sangat memanjakan mata kita, terutama ketika Tai Lung keluar dari penjara dan menghadapi ribuan pasukan penjaga, serta ketika Tigress dkk menghadapi Tai Lung. Walau tidak seserius dan atraktif seperti dua pertarungan diatas, aksi latihan unik antara Master Shifu dan Po (berebut dumpling), serta pertarungan klimaks antara Po dan Tai Lung dijamin mampu membuat penonton tertawa hingga sakit perut.

Hal yang sedikit tidak lazim justru malah pada para pengisi suaranya. Jack Black (Po) bersama Dustin Hoffman (Shifu) mendominasi seluruh dialog dalam film dan bintang-bintang lainnya nyaris tak terdengar. Angelina Jolie (Tigress) masih agak mending, namun Jacky Chan (Monkey) dan Luci Liu (Viper) hanya berucap beberapa patah kata saja. Bayangkan, karakter komandan penjaga penjara (Michael Clark Duncan) serta ayah Po(James Hong) berbicara jauh lebih banyak daripada ketiga karakter diatas. Hal ini memang tidak salah cuma tidak lazim. Mengapa harus diisi oleh suara mereka (bintang-bintang besar) yang tentu membuang uang (bujet) dan bakat mereka, atau cuma sekedar ingin memakai nama-nama besar mereka untuk bisa muncul dalam poster filmnya. Memang sama sekali tidak masalah, tapi bagi pononton tertentu yang ingin mendengar suara Jolie atau Chan lebih banyak bisa dipastikan kecewa.

Bisa dijamin sukses film ini dipastikan memicu sekuel petualangan sang panda berikutnya. Sejauh ini bisa pula kita katakan Kung Fu Panda adalah film “kung fu” terbaik yang pernah diproduksi Hollywood. Walau secara umum masih dibawah film-film animasi produksi Pixar, seperti Finding Nemo, The Incredibles, dan Toy Story namun film ini lebih baik dari film-film animasi produksi Dreamworks lainnya. Untuk perkara yang satu ini, Master Oogway ternyata salah, “There’s no Good or Bad…”. This movie is actually good. It will bring joy and laugh to audience all ages… but if you seek deep enough maybe you will find joy and peace… even in our hearts.”

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
90 %
Artikel SebelumnyaDari redaksi montase
Artikel BerikutnyaThe Incredible Hulk
His hobby has been watching films since childhood, and he studied film theory and history autodidactically after graduating from architectural studies. He started writing articles and reviewing films in 2006. Due to his experience, the author was drawn to become a teaching staff at the private Television and Film Academy in Yogyakarta, where he taught Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut film book, "Understanding Film," was published in 2008, which divides film art into narrative and cinematic elements. The second edition of the book, "Understanding Film," was published in 2018. This book has become a favorite reference for film and communication academics throughout Indonesia. He was also involved in writing the Montase Film Bulletin Compilation Book Vol. 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Additionally, he authored the "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). Until now, he continues to write reviews of the latest films at montasefilm.com and is actively involved in all film productions at the Montase Film Community. His short films have received high appreciation at many festivals, both local and international. Recently, his writing was included in the shortlist (top 15) of Best Film Criticism at the 2022 Indonesian Film Festival. From 2022 until now, he has also been a practitioner-lecturer for the Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts in the Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.