Lift adalah film aksi pencurian (heist) yang digarap oleh F. Gary Gray. Sang sineas kita kenal menggarap film-film sukses, macam The Italian Job (2003), Straight Outta Compton (2015), hingga The Fate and the Furious (2017). Film rilisan Netflix ini dibintangi Kevin Hart, Gugu Mbatha-Raw, Vincent D’Onofrio, Úrsula Corberó, Billy Magnussen, Jacob Batalon, Jean Reno, hingga Sam Worthington. Di tangan sang sineas, apakah Lift mampu memberi sesuatu yang baru bagi genrenya?

Cyrus (Hart) bersama timnya adalah kelompok pencuri kelas atas yang menjadi incaran interpol. Agen interpol, Abby (Raw), mengincar Cyrus sejak lama dan ketika diambang bisa membekuknya, sesuatu terjadi. Atasan Abby jutru meminta Cyrus dan timnya untuk mencuri sesuatu dengan imbalan penghapusan catatan kriminal. Misi mereka adalah mencuri emas bernilai USD 500 juta milik milyuner berpengaruh, Jorgensen (Reno) untuk pembiayaan aksi terorisme di seluruh dunia. Masalah terbesar adalah emas tersebut dibawa melalui pesawat komersial dari London ke Zurich.

Ratusan film aksi pencurian macam ini dengan ragam varian genre telah banyak diproduksi dengan plot senada. Sejak The Great Train Robbery,  The Italian Job, Heat, seri Ocean Eleven, seri Mission: Impossible, hingga Fast Five.  Lantas apa yang beda? Tentu adalah obyek berharga yang dicuri dengan segala protokol keamanannya hingga tim harus memiliki latar yang beragam untuk merampungkan misinya. Lift pun menggunakan tipikal plot yang sama, sejak perekrutan, survei, persiapan, hingga aksi pencurian. Catatan unik dari Lift adalah aksinya di dalam pesawat terbang dan ini teramat langka. Walau kisahnya sendiri tak sulit diantisipasi, namun segmen-segmen aksinya terbilang menghibur.

Satu hal di luar kebiasaan adalah sosok Kevin Hart yang juga bertindak menjadi produser film ini. Komedian ini jarang bermain dalam film “serius”  tapi tidak kali ini. Tipikal mulutnya yang bawel dan ceplas ceplos kini tidak terlihat dan ini justru terlihat aneh. Bukannya Kevin bermain buruk, hanya saja sang aktor terlihat kurang pas. Rasanya banyak aktor yang bisa mengambil peran ini lebih baik, misal saja Jamie Fox. Citra pembawaan sebagai komedian terlalu kuat sehingga tak cocok bermain dalam peran serius. Semua pemain lainnya tak ada masalah, kecuali sang bintang dan produser. Mungkin ini sebab.

Baca Juga  Overlord

Bukan yang terburuk dan terbaik di genrenya, namun Lift memiliki beberapa momen aksi yang menghibur. Sebagai tontonan streaming, Lift sudah lebih dari cukup untuk menyita waktu di tengah cuaca yang tidak bersahabat. Jika ingin sesuatu yang lebih, bisa tonton film-film yang disebut di atas. Selamat menonton.

 

 

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
60 %
Artikel SebelumnyaMonster
Artikel BerikutnyaBeef
Hobinya menonton film sejak kecil dan mendalami teori dan sejarah film secara otodidak setelah lulus dari studi arsitektur. Ia mulai menulis artikel dan mengulas film sejak tahun 2006. Karena pengalamannya, penulis ditarik menjadi staf pengajar di Akademi Televisi dan Film swasta di Yogyakarta untuk mengajar Sejarah Film, Pengantar Seni Film, dan Teori Film sejak tahun 2003 hingga tahun 2019. Buku film debutnya adalah Memahami Film (2008) yang memilah seni film sebagai naratif dan sinematik. Buku edisi kedua Memahami Film terbit pada tahun 2018. Buku ini menjadi referensi favorit bagi para akademisi film dan komunikasi di seluruh Indonesia. Ia juga terlibat dalam penulisan Buku Kompilasi Buletin Film Montase Vol. 1-3 serta 30 Film Indonesia Terlaris 2012-2018. Ia juga menulis Buku Film Horor: Dari Caligari ke Hereditary (2023) serta Film Horor Indonesia: Bangkit Dari Kubur (2023). Hingga kini, ia masih menulis ulasan film-film terbaru di montasefilm.com dan terlibat dalam semua produksi film di Komunitas Film Montase. Film- film pendek arahannya banyak mendapat apresiasi tinggi di banyak festival, baik lokal maupun internasional. Baru lalu, tulisannya masuk dalam shortlist (15 besar) Kritik Film Terbaik dalam Festival Film Indonesia 2022. Sejak tahun 2022 hingga kini, ia juga menjadi pengajar praktisi untuk Mata Kuliah Kritik Film dan Teori Film di Institut Seni Indonesia Yogyakarta dalam Program Praktisi Mandiri.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.