Lights Out (2016)

81 min|Horror, Mystery|22 Jul 2016
6.3Rating: 6.3 / 10 from 140,762 usersMetascore: 58
Rebecca must unlock the terror behind her little brother's experiences that once tested her sanity, bringing her face to face with a supernatural spirit attached to their mother.

Berawal dari sukses film pendek Lights Out (2013) asal Swedia garapan David F. Sandberg, beberapa produser besar tertarik untuk menggarap versi panjangnya. Sutradara kenamaan, James Wan pun tertarik untuk memproduseri filmnya dan Sandberg dipercaya untuk menggarap filmnya. Film berdurasi 3 menit ini memang tidak berkisah banyak namun yang menarik adalah pendekatan sinematik yang digunakan sangat efektif untuk menakuti penonton. Diluar dugaan film versi panjangnya pun juga ternyata mampu menampilkan teknik tersebut secara efektif dengan balutan kisah drama yang kuat.

Rebecca yang kini tinggal sendiri menjauh dari ibunya, Sophie yang memiliki gangguan kejiwaan. Sang adik, Martin tinggal bersama Sophie menemui kejanggalan terhadap sang ibu hingga puncaknya ia melihat sesosok entiti bersama ibunya di dalam kegelapan. Rebecca kemudian membawa sang adik ke rumahnya namun sosok entiti halus tersebut justru muncul ketika lampu dimatikan. Rebecca kemudian menyelidiki latar belakang Sophie dan menemui jika hal tersebut terkait dengan masa kecil sang ibu bersama seorang sahabatnya.

Hal yang sangat menarik dari film versi panjangnya ini adalah keberhasilan penulis naskah untuk membuat cerita yang lumayan berbobot dari versi pendek filmnya. Kisahnya tidak terkesan dicari-cari atau dipanjangkan sekenanya namun justru sebaliknya dengan kesederhanaannya mampu membuat segala dugaan arah cerita tidak mampu diprediksi. Sisi drama dan ketegangan dibangun dengan efektif sehingga semakin lama kisahnya justru semakin menarik. Sisi horor pun demikian. Dijamin penggemar film horor pasti akan terpuaskan sejak awal hingga akhir.

Baca Juga  2012

Pendekatan sinematik dengan teknik off/on (saklar) nyala lampu menjadi keunggulan film ini. Memang bukan hal yang baru sebuah entiti halus takut dengan cahaya dalam medium film. Contoh efektif adalah Darkness Fall (2003) namun film horor ini lebih menitikberatkan aksi ketimbang horor. Dari segala sisi jelas Lights Out lebih unggul. Sekalipun teknik off/on nyala lampu digunakan secara dominan sejak awal namun tiap kali teknik tersebut digunakan selalu berbeda rasa. Harus diakui sang sineas memang amat terampil mengemas film ini.

Walaupun idenya tak sepenuhnya segar namun penggunaan teknik sinematik yang inventif membuat Lights Out memberi warna baru bagi genre horor. Film ini menjadi bukti bahwa terobosan baru masih dimungkinkan pada genre ini dan eksplorasi teknik-teknik baru akan amat menarik untuk ditunggu. Kabarnya Lights Out yang hanya berbujet kurang dari $US 5 juta ini sudah mendapat lampu hijau untuk diproduksi sekuelnya karena sukses baik kritik maupun komersil.

WATCH TRAILER

WATCH SHORTS

https://www.youtube.com/watch?v=-fDzdDfviLI

PENILAIAN KAMI
Overall
70 %
Artikel SebelumnyaAlice Through The Looking Glass
Artikel BerikutnyaTiga Dara
Hobinya menonton film sejak kecil dan mendalami teori dan sejarah film secara otodidak setelah lulus dari studi arsitektur. Ia mulai menulis artikel dan mengulas film sejak tahun 2006. Karena pengalamannya, penulis ditarik menjadi staf pengajar di Akademi Televisi dan Film swasta di Yogyakarta untuk mengajar Sejarah Film, Pengantar Seni Film, dan Teori Film sejak tahun 2003 hingga tahun 2019. Buku film debutnya adalah Memahami Film (2008) yang memilah seni film sebagai naratif dan sinematik. Buku edisi kedua Memahami Film terbit pada tahun 2018. Buku ini menjadi referensi favorit bagi para akademisi film dan komunikasi di seluruh Indonesia. Ia juga terlibat dalam penulisan Buku Kompilasi Buletin Film Montase Vol. 1-3 serta 30 Film Indonesia Terlaris 2012-2018. Ia juga menulis Buku Film Horor: Dari Caligari ke Hereditary (2023) serta Film Horor Indonesia: Bangkit Dari Kubur (2023). Hingga kini, ia masih menulis ulasan film-film terbaru di montasefilm.com dan terlibat dalam semua produksi film di Komunitas Film Montase. Film- film pendek arahannya banyak mendapat apresiasi tinggi di banyak festival, baik lokal maupun internasional. Baru lalu, tulisannya masuk dalam shortlist (15 besar) Kritik Film Terbaik dalam Festival Film Indonesia 2022. Sejak tahun 2022 hingga kini, ia juga menjadi pengajar praktisi untuk Mata Kuliah Kritik Film dan Teori Film di Institut Seni Indonesia Yogyakarta dalam Program Praktisi Mandiri.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.