lilo & stitch

Lilo & Stitch adalah film remake live action dari film animasinya yang dirilis tahun 2002 dan kini diarahkan oleh Dean Fleischer Camp. Uniknya, sineas film lawasnya, Chris Sanders, masih pula berperan sebagai pengisi suara sang alien, Stitch. Film ini dibintangi oleh beberapa bintang ternama serta pendatang baru, sebut saja Maia Kealoha, Sydney Elizebeth Agudong, Hannah Waddingham, Billy Magnussen, Zach Galifianakis, serta Courtney B. Vance. Apakah film ini mampu mengangkat tren remake studio Walt Disney yang kini tengah menurun pamornya?

Nun jauh di galaksi sana, seorang ilmuwan Dr. Jumba Jookiba (Galifianakis) menciptakan ras genetik alien berbahaya yang berinisial “eksperimen 626”. Sang ratu pimpinan Dewan United Galactic Feredation (Waddingham) memutuskan untuk memusnahkannya, namun 626 berhasil mencuri pesawat, berhasil kabur dan terdampar di Planet Bumi. Jumba, dan seorang ahli Planet Bumi, agen Pleakley diutus untuk menangkapnya. 626 yang jatuh ke sebuah pulau wisata, seketika itu pula langsung membuat onar di sebuah pesta perkawinan.

Sementara di sebuah pulau di wilayah Hawaii, Nani (Agudong) memiliki masalah dengan adiknya, Lilo (Kealoha) yang selalu membuat masalah sepeninggal orang tua mereka. Komisi perlindungan anak setempat mengancam akan mengambil hak asuh Lilo jika sang kakak dinilai tak layak. Sebagai solusi, sang nenek tetangga mereka, membawa Lilo ke tempat penampungan anjing untuk mengadopsi salah satunya. 626 yang diburu oleh Jumba dan Pleakley, mencoba membaur dengan menyamar sebagai seekor anjing bernama Stitch, yang akhirnya diadopsi oleh Lilo. Petualangan Lilo dan Stitch pun dimulai.

Tak banyak perbedaan kisah antara versi animasi dengan remake-nya, kecuali penambahan beberapa karakter minor. Latar kisahnya pun tentu diubah menyesuaikan penonton masa kini. Tempo plot mengalir relatif cepat dan adegan pun sering kali dipersingkat dengan penggunaan teknik montage. Inti kisah, sesungguhnya tertuju pada relasi antara Nani dan Lilo yang terjalin hangat, sementara sang alien, ibarat katalis yang mengacaukan sekaligus menyeimbangkan hidup mereka.

Baca Juga  Edge of Darkness

Alur plotnya terasa campur aduk, antara polah Lilo & Stitch, Nina yang mencari pekerjaan, aksi Jumba dan Pleakley, hingga agen CIA bernama Bubble yang menduga keberadaan alien. Dengan segala kehebohannya, alur plotnya akhirnya menemui ritme yang “nyaman” menjelang babak ketiga dengan ditutup sebuah resolusi yang menyentuh dan hangat. Entah sejak sekian lama, Disney akhirnya kembali  mampu menyajikan sebuah drama keluarga yang sungguh-sungguh membumi. Peran dua kasting utamanya, khususnya Kealoha, memegang peranan besar sepanjang kisahnya.

Lilo & Stitch adalah sebuah remake menyegarkan dari sumber animasinya melalui set eksotis, humor, tema keluarga yang hangat, serta penampilan memikat si bintang cilik. Film ini adalah tontonan bagus dan cocok buat untuk keluarga. Bisa jadi, bagi penonton yang bersituasi sama dengan dua tokohnya, kisahnya bakal terasa personal. Lilo & Stitch bukan soal kehebohan alien atau keamanan nasional, namun hanyalah relasi antara dua orang kakak adik yang mencoba menyelesaikan masalah mereka di tengah dunia yang kini begitu sulit dipahami. Disney telah mengembalikan segala apa yang menjadi tradisinya (nilai keluarga) tanpa pretensius serta menyelipkan isu-isu “sampingan” yang terlalu absurd bagi target penontonnya. Semoga ini terus berlanjut.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
75 %
Artikel Sebelumnya10th FSAI 2025
Artikel BerikutnyaFountain of Youth | REVIEW
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses