Oleh: Himawan Pratista

Tahun rilis: 2022 | Studio: MD Pictures | Sutradara: Awi Suryadi| Produser: Manoj Punjabi | Penulis Naskah: Lele Laila Gerald Mamahit | Pemain: Tissa Biani Adinda Thomas Achmad Megantara Aghniny Haque Calvin Jeremy Fajar Nugraha | Musik: Ricky Lionardi | Sinematografi: Ipung Rachmat Syaiful Editor: Firdauzi Trizkiyanto Denny Rihardie |Durasi: 121 menit (versi Disney+) | Bujet: Rp 15 M | Raihan: 10.061.033 penonton

Dari kemarin sudah ada beberapa kejadian. Apa gak lebih baik kalian sudahi saja KKN-nya?

TENTANG KKN DI DESA PENARI

Cerita KKN di Desa Penari sudah menjadi fenomena bahkan jauh sebelum filmnya dibuat. Kisahnya diadaptasi dari kumpulan cuitan cerita di twitter yang diunggah oleh akun berinisial SimpleMan. Cerita horor viral yang konon diadaptasi dari peristiwa nyata ini amat menarik perhatian banyak pihak, dari penerbit buku hingga produser film. MD Pictures membeli hak cipta untuk memproduksi filmnya dengan catatan, nama-nama asli tokoh dan lokasinya harus disamarkan. Entah, apakah film ini bakal meledak jika dirilis pada tanggal 19 Maret 2020 silam, hanya sesaat sebelum lockdown secara nasional diberlakukan? Pengunduran jadwal rilis hingga beberapa kali rupanya adalah strategi yang tepat dan akhirnya film ini diputar pada tanggal 30 April 2022. Pada hari ke-19 rilisnya, KKN di Desa Penari telah meraih lebih dari 7 juta penonton menggeser Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1 (2016) sebagai film terlaris di tanah air (filmindonesia.or.id). Bahkan versi director’s cut-nya dengan tambahan embel-embel titel “Luweh Dowo, Luweh Medeni” (terjemahan: Lebih panjang lebih menakutkan) kembali dirilis pada akhir tahun 2022 sehingga meraih total 10.061.033 penonton. Seistimewa apakah pencapaian film ini sehingga mampu meraih predikat tersebut?

KKN di Desa Penari berkisah tentang enam orang mahasiswa yang melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di sebuah desa terpencil di Jawa Timur. Mereka adalah Nur (Tissa Biani), Ayu (Aghiny Haque), Widya (Adinda thomas),  Bima (Achmad Megantara), Wahyu (Fajar Nugra), dan Anton (Calvin Jeremy). Dusun tempat mereka KKN berlokasi di tengah hutan yang banyak memiliki lokasi keramat ditandai dengan sesaji di beberapa tempat. Sejak tinggal di sana, Nur dan Widya merasakan ada sesuatu yang aneh. Khususnya Widya yang dihantui sesosok penari perempuan serta suara penyanyi sinden dan gamelan. Berjalannya waktu, gangguan semakin meningkat bahkan Widya pun sempat kesurupan. Sementara Nur memergoki Ayu dan Bima yang tengah bermesraan di tempat terlarang. Ayu dan Bima pun harus membayar mahal perbuatan mereka.

Kisah KKN di Desa Penari adalah sebuah plot sederhana dan amat tipikal untuk genrenya. Sekelompok muda-mudi pergi ke lokasi terpencil dan terjebak dalam situasi genting di mana pihak antagonis mengancam mereka. Plot macam ini dikenal dengan plot “rumah hantu” atau “lokasi angker”. Dalam jenis plot ini seorang atau sekelompok protagonis masuk ke sebuah lingkungan yang baru, seperti rumah baru (pindahan), apartemen baru, bangunan kuno, kunjungan ke resor atau tempat wisata, atau sebuah desa/kampung yang biasanya memiliki lokasi terisolir. Di sana mereka mengalami gangguan oleh entitas gaib berwujud seram yang bertujuan untuk mengusir atau berusaha untuk merasuki salah seorang di antara mereka (Pratista, Nugroho, Arifin, Puspasari, 2023). Ratusan film horor dan thriller telah menggunakan plot yang sama. Hanya kali ini yang membedakan adalah sumber adaptasi kisahnya. Alur plotnya terhitung loyal dengan sumber aslinya walau di sana-sini tentu banyak pengolahan cerita sebagai konsekuensi alih wahana. Kita tidak akan membahas ke arah ini, namun tentu lebih ke pencapaian sisi penceritaan dan estetik yang ditawarkan si pembuat film.

 ESTETIKA HOROR KKN DI DESA PENARI

Kekuatan cerita horor tidak akan berarti tanpa kemasan estetik yang didukung aspek-aspek sinematiknya. Untuk membangun elemen horornya, sineas tidak hanya bergantung pada sosok seramnya, namun juga atmosfir dan tentu saja trik horornya. Trik horor mengalami banyak perubahan dari masa ke masa, hingga kini satu varian populernya, jump scare, menjadi tradisi yang tak pernah lepas dari film horor masa kini (Pratista, Nugroho, Arifin, Puspasari, 2023).

Satu kekuatan terbesar film ini adalah setting lokasinya yang meyakinkan. Terlihat sekali bahwa film ini menggunakan shot on location yang berlokasi di wilayah Yogyakarta (https://id.wikipedia.org/wiki/KKN_di_Desa_Penari_(film)). Sejak pembuka adegannya yang megah telah menampakkan lokasi lereng pegunungan yang memesona dengan latar Gunung Merapi di belakangnya, walau lokasi kisah sebenarnya di Jawa Timur. Ini tentu bisa dimaklumi karena keotentikan lokasi bukan masalah besar dalam medium film . Masuk ke dalam hutan dan desa di dalamnya, lokasinya pun masih tampak meyakinkan. Bangunan rumah tinggal, baik eksterior dan interior pun juga sama. Hanya saja, beberapa lokasi, seperti gapura dusun, bangunan candi mini atau bangunan tempat sesaji, sedikit terlihat dipaksakan ada di sana. Pun sesaji dan asap menyan yang seolah ada tiap jengkal wilayahnya. Melalui penggunaan shot on location ini telah mampu memberikan atmosfir yang membangun mood horornya, khususnya untuk adegan di malam hari.

Sementara elemen horor yang menjadi menu utama film ini bukan terbilang istimewa, sekalipun untuk sang sineas ini adalah peningkatan dari tiga film seri Danur yang digarapnya. Bagi yang sudah akrab dengan film-film Awi Suryadi pasti sudah hapal betul dengan gaya jump scare-nya yang seringkali bermain dengan pergerakan dan sudut kamera, serta blocking pemain. Seringkali trik-triknya mudah terantisipasi. Satu adegan horor yang “memorable” adalah ketika Nur dan Widya mandi di bilik pinggir hutan. Sesosok “genderuwo” yang meneror Nur pun disajikan lumayan karena visualisasi sang demit yang mengerikan. Namun adalah ketika giliran Widya, adegan “slow burn” horor disajikan begitu mengesankan tanpa sosok yang menyeramkan. Permainan sudut kamera plus teknik editing yang membuat adegan horor ini begitu intens dan mengerikan. Entah mengapa, sosok penari yang tidak terlihat seram justru memberikan efek horor yang kuat dalam banyak adegannya. Sisanya, tak banyak jump scare yang membekas.

Baca Juga  Sukses Spider-Man: No Way Home, Bangkitnya penonton bioskop global?

LOGIKA DAN PESAN YANG TERABAIKAN

Seperti tipikal film horor kita, sisi penceritaan film adalah aspek terlemah dari segalanya (Dwi Nugroho & Arifin, 2021). Di luar cerita sumber adaptasinya, banyak hal yang rasanya janggal dan tak bisa diterima akal sehat. Satu lagi yang mengganggu adalah pesan kisahnya yang kabur. Naratif adalah suatu rangkaian peristiwa yang berhubungan satu sama lain dan terikat oleh logika sebab-akibat (kausalitas) yang terjadi dalam suatu ruang dan waktu. Sebuah kejadian tidak bisa terjadi begitu saja tanpa ada alasan yang jelas. Segala hal yang terjadi pasti disebabkan oleh sesuatu dan terikat satu sama lain oleh hukum kausalitas. Dalam sebuah film cerita, setiap kejadian pasti disebabkan oleh kejadian sebelumnya. (Pratista, 2017)

Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang menjadi penyebab utama mereka di sana, tidak digagas konsepnya dengan matang sehingga aktivitas tersebut hanya terlihat menempel dengan peristiwa horor yang sebenarnya hanya terjadi di sela-sela keseharian mereka. Bagi yang pernah merasakan KKN di wilayah terpencil pasti memahami ini. Entah ini mahasiswa dari kampus mana, namun KKN adalah satu kegiatan pengabdian masyarakat yang terkoordinasi secara kelompok wilayah yang pasti dikontrol dan diawasi oleh pihak kampus. Tak mungkin mahasiswa dilepas begitu saja, tanpa ada koordinator lapangan dan pengawasan rutin dari pihak Kampus. Tidak hanya itu, bahkan mahasiswa tidak sekali pun terlihat berkegiatan dan bersosialisasi dengan warga, seolah mereka bekerja terpisah. Tentu kita semua tahu, bukan ini arah kisahnya, namun teknik montage sekilas saja yang menyajikan aktivitas mereka bersama warga, sudah cukup mewakili itu semua.

Jika misal saja, kamu berkunjung ke sebuah lokasi dan di sana kamu diperlihatkan atau diganggu hantu berwujud menyeramkan. Apa kamu bakal kembali ke sana lagi? Orang normal pasti akan menjawab tidak. Di ruang bioskop yang bangkunya penuh tanpa sisa, celotehan dan celetukan penonton di kanan kiri tak terhindarkan dengan komentar, “wes muleh wae mbak (sudah pulang saja mbak)”. Komentar singkat ini tentu mewakili orang normal yang berpikiran waras ketika menonton adegan dalam filmnya. Hei, tapi kita kan tidak pernah lagi melihat adegan Nur dan Widya mandi di lokasi yang sama? Ya, bisa jadi mereka tidak lagi pernah mandi di bilik setan itu, tapi pertanyaannya, mengapa mereka masih ada di desa itu? Alasan menyelesaikan program KKN adalah jelas bukan jawabannya. Seperti penjelasan sebelumnya, mereka pun tidak pernah terlihat serius melakukan program kerja KKN. Jika visualisasi kegiatan proker KKN dan observasi dari kampus terlihat, tentu akan mampu memberi kesan urgensi yang berbeda.

Sah-sah saja, jika sebuah film dibuat tanpa memiliki pesan moral atau petuah bijak lainnya. Bisa jadi, banyak pembuat film menganggap ini terlalu konvensional dan tidak ingin filmnya berceramah soal moral dan nilai-nilai luhur lainnya. Ini bukan soal mengekang kebebasan berekspresi si pembuat film, namun adalah konteks kisah yang digagasnya. KKN di Desa Penari butuh ini untuk menjaga keseimbangan atas konsekuensi mencatut elemen lokal dengan pelanggaran tradisi yang diusung kisahnya. Namun, apa yang terjadi? Di dalam kisahnya tidak mencerminkan apa yang sesungguhnya menjadi “pesan moral”nya. Bagaimana mungkin dua muda-mudi ini dihukum dengan bayaran nyawa mereka atas perbuatan dosa yang mereka lakukan tetapi motivasi melakukan itu adalah akibat bisikan entitas jahat penguasa wilayah tersebut? Mereka bukan pendosa namun dijebak. Pada segmen penutup, nyaris semua tokohnya berucap, “ini salah saya”. Ini bukan salah siapa-siapa melainkan kelemahan naskahnya yang tidak digarap dengan matang.

KONKLUSI

KKN di Desa Penari saat ini memiliki prestise sebagai film terlaris di Indonesia sepanjang masa. Satu pencapaian yang patut diapresiasi tinggi, bukan karena kualitas filmnya, namun adalah kejelian para produser dan pembuat film dalam melihat situasi dan gelagat pasar. KKN di Desa Penari mewakili puluhan film horor lokal lainnya yang memiliki pencapaian yang sama. Jika ada yang mengatakan film ini adalah kebangkitan film nasional setelah era pandemi COVID-19, benar, jika bangkit dimaksudkan adalah sisi ekonomi (baca: profit). Ini sama sekali bukan hal buruk, namun adalah sebuah kerugian jika tren ini diikuti mentah-mentah oleh para pembuat film lainnya. Pencapaian komersial setinggi ini seyogyanya kelak bisa diimbangi film-film horor yang lebih berkualitas dengan konsep yang lebih matang, dari mana pun sumber kisahnya.

Naskah dan pengembangan kisahnya memang masih menjadi penyakit dalam kebanyakan film horor kita, secara umum film-film Indonesia. Pemaksaan cerita agar plotnya berjalan seperti yang dikehendaki pembuat film seringkali mengabaikan nalar dan logika. Selalu ada cara jika kita tidak malas dan berpikir kreatif tanpa mencari jalan pintas. Kita bisa belajar dari film-film horor Barat populer yang jarang melakukan kesalahan yang sama. Penonton pun (khususnya pengulas film) tidak hanya boleh berteriak lantang di bioskop atau media sosial dengan berkomentar kasar, namun memberi argumen dengan tulisan-tulisan terukur yang santun akan lebih mampu memberikan simpati bagi penonton lain maupun para pembuat film. Semoga film horor Indonesia ke depannya tidak semata hanya mengandalkan kisah bersumber pada sensasi namun juga naskah yang berkualitas.

 

SUMBER DATA DAN REFERENSI

filmindonesia.or.id

akun twitter SimpleMAn

Agustinus Dwi Nugroho & Miftachul Arifin, Asih 2, Cermin Film Horor Indonesia Kontemporer, montasefilm.com, 10 Agustus 2021, Yogyakarta

Pratista, Himawan, Memahami Film, Montase Press, 2017, Edisi Kedua.

Agustinus Dwu Nugroho, Himawan Pratista, Miftachul Arifin, Dewi Puspasari, Film Horor Indonesia: Bangkit dari Kubur, Montase Press, 2023, Edisi E-book.

SUMBER GAMBAR

https://www.imdb.com/title/tt11013610/mediaindex/?ref_=tt_mi_sm

Artikel SebelumnyaKajiman: Iblis Terkejam Penagih Janji
Artikel BerikutnyaThe Quiet Girl
His hobby has been watching films since childhood, and he studied film theory and history autodidactically after graduating from architectural studies. He started writing articles and reviewing films in 2006. Due to his experience, the author was drawn to become a teaching staff at the private Television and Film Academy in Yogyakarta, where he taught Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut film book, "Understanding Film," was published in 2008, which divides film art into narrative and cinematic elements. The second edition of the book, "Understanding Film," was published in 2018. This book has become a favorite reference for film and communication academics throughout Indonesia. He was also involved in writing the Montase Film Bulletin Compilation Book Vol. 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Additionally, he authored the "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). Until now, he continues to write reviews of the latest films at montasefilm.com and is actively involved in all film productions at the Montase Film Community. His short films have received high appreciation at many festivals, both local and international. Recently, his writing was included in the shortlist (top 15) of Best Film Criticism at the 2022 Indonesian Film Festival. From 2022 until now, he has also been a practitioner-lecturer for the Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts in the Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.