“Pertukaran dalam film fiksi nyaris selalu kapital. Pertukaran dalam film pendek bisa murni kebudayaan. Pemain film fiksi terikat dengan bayaran per adegan, misalnya, sedang ikatan pembuat film dan subjek dokumenter bisa cukup dengan kepercayaan.”

—Tonny Trimarsanto dalam DocTalk, 5 November 2019.

Selain pemutaran film dan panel diskusi, Festival Film Dokumenter (FFD) 2019 juga menyelenggarakan lokakarya kritik. Bekerja sama dengan Cinema Poetica, Adrian Jonathan Pasaribu dan Reksa Santana terlibat sebagai mentor. Kelas yang berlangsung sedari 2-6 Desember 2019 tersebut diikuti tujuh peserta dari berbagai daerah, di antaranya Yogyakarta, Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, dan Banjarnegara—walau sebagian besar rupanya berdomisili di Yogyakarta untuk menempuh pendidikan.

Di kelas sepanjang lima hari itu, materi dasar disodorkan pada hari pertama. Selebihnya, peserta mendapat tugas harian berupa kewajiban menonton satu film untuk kemudian dituliskan sebelum kelas berikutnya dimulai. Karena ada dua mentor, tujuh peserta dibagi menjadi dua kelompok untuk menonton dua film berbeda yang tayang berbarengan. Maka biasanya, saat tulisan para peserta dievaluasi oleh mentor esok harinya, akan ada sudut pandang dari yang sudah menonton dan belum menonton.

Bila disederhanakan, rutinitas yang terbentuk setidaknya sebagai berikut: masuk kelas di pagi hari, diskusi DocTalk di siang hari, menonton di sore hari, dan menulis saat malam atau pagi atau sepanjang malam hingga pagi—tergantung peserta.

Tulisan ini mecoba sedikit menjabarkan kritik film dokumenter yang diperoleh dari lokakarya kritik tersebut.

Beberapa Perimbangan dalam Menulis Kritik Film Dokumenter

Prinsip dasar kritik film dokumenter pada dasarnya sama dengan film fiksi. Pembahasan perlu mencakup apa yang tampak, apa yang tidak tampak, dan bagaimana film tersebut terkait dengan hal-hal di luarnya. Secara singkat: konten, konsep, dan konteks.

Konten pada dasarnya mencakup sinopsis, serta deskripsi mengenai apa saja yang tampak ataupun terdengar. Karena mengandung gagasan, penjelasan konten mesti disertai pembahasan konsep. Memahami bahasa visual yang berlaku dalam film fiksi, pada dasarnya, sudah menjadi modal untuk menguraikan konsep film dokumenter.

Hanya saja, hal itu tidak perlu jadi patokan yang kaku sebagai penentu kuaitas. Bila editing dalam film fiksi, katakanlah, cenderung mengejar kerapihan, dalam dokumenter kejomplangan kerap dianggap wajar. Perbedaan kualitas kamera dalam satu adegan film fiksi, tanpa ada logika cerita yang jelas, umumnya adalah kekurangan. Dalam dokumenter, hal semacam itu dimaklumi. Sebab terbebas dari tuntutan-tuntutan yang umumnya mengikat film fiksi, dokumenter lebih bebas mengeksplorasi bahasa visual.

Film pendek Another Color TV yang diputar di kelas hari pertama, misalnya, menampilkan dua frame sekaligus pada layar: siaran tivi di sisi kiri, dan orang yang menonton tivi. Fokus terpecah dan penonton mesti memutuskan sendiri mana yang ingin ia lihat. Bila terjadi di film fiksi, hal semacam itu cenderung akan disebut kelalaian karena sutradara tidak menjalankan tugasnya untuk mengarahkan tatapan penonton.

Dengan keleluasaan dokumenter yang semacam itu, maka perlu alat lain untuk membedahnya. Salah satu yang bisa digunakan adalah pemahaman akan enam prinsip dokumenter, yakni: puitik, ekspositori, observasional, partisipatori, refleksif, performatif. Pilihan pendekatan itu bisa dipertimbangkan seberapa tepat penggunaannya untuk memfilmkan subjek.

Dalam dokumenter panjang The Future Cries Beneath Our Soil, misalnya, orang-orang yang tinggal di desa bekas perang Vietnam difilmkan dengan metode observasional. Pembuat film tidak sedikitpun memperlihatkan campur tangan pada subjek di depan kamera. Kamera pun menangkap ekspresi dan momen intim yang natural, tetapi di sisi lain film itu juga menjadi sangat datar. Cerita seperti tak bergerak, sebab alur hanya mengikuti keseharian yang itu-itu. Apa yang tercapai dan apa yang hilang dari pendekatan itu bisa menjadi pertimbangan untuk menilai tepat tidaknya pilihan pembuat film. Bila dirasa intensi pembuat film adalah menggali trauma Perang Vietnam, misalnya, bisa dipertanyakan apakah pendekatan partisipatori—di mana pembuat film campur tangan langsung—lebih tepat. Atau malah, obsevasional barangkali pilihan paling tepat karena sengaja memancing trauma subjek di depan layar dirasa tidak etis.

Baca Juga  Jurassic Worst

Perihal etis ini juga penting dalam menilai karya dokumenter. Pembuat film dokumenter tentu berharap mencapai intimasi saat menangkap subjek dengan kamera. Namun, obsesi pada intimasi ini bisa jatuh dalam laku eksploitatif. Dua film Joshua Oppenheimer, Jagal dan Senyap, merupakan contoh terjadinya eksploitasi. Kedua film tersebut barangkali dibuat dengan konsensus antara pembuat dan subjek, tetapi subjek tidak tahu akan konsekuensi buruk yang akan ia hadapi setelah film-film itu tayang. Etika jurnalistik bisa menjadi bahan pertimbangan mendasar untuk menilai etis tidaknya sebuah dokumenter.

Menulis Kritik, Berpihak pada Siapa?

Ada alasan ideologis kenapa kritikus film perlu menulis sinopsis versinya sendiri dalam kritik yang ia tulis. Sinopsis mengandung kepentingan: versi produser atau bioskop dibuat untuk menjaring pasar sebanyak-banyaknya; versi festival bertema khusus tentu menekankan keterkaitan film pada isu yang diangkat festival itu. Sinopsis versi kritikus tentunya berhak mengabaikan versi bioskop atau festival demi menghadirkan kepentingannya sendiri. Bahkan, arah penilaian si kritikus sebetulnya bisa tampak sedari sinopsis.

Pertanyaannya, kepentingan kritikus ini berpihak pada siapa? Ini krusial untuk dipertimbangkan sebelum menulis karena menentukan arah penilaian terhadap film, terutama saat membahas konteks.

Saat lokakarya kritik film, setidaknya ada beberapa kubu yang dirumuskan oleh Cinema Poetica, yakni Negara, Pasar, dan Publik. Kepentingan negara berkutat pada upaya menjaga kestabilan demi mengukuhkan kekuasaan yang sedang berlaku sehingga keterlibatannya kerap berujung sensor. Intensi pasar tentulah kapital sehingga kepentingannya terarah pada apa pun yang bisa memperlancar arus perputaran uang.

Berbeda dari dua hal itu, publik nyaris tidak bisa dirumuskan. Sebab, kepentingan publik tidaklah satu: ada yang beririsan dengan negara, beririsan dengan pasar, beririsan dengan keduanya maupun tidak beririsan sama sekali. Maka bila memutuskan berpihak pada publik, pertanyaan lanjutan akan menyusul: publik yang mana?

Di titik inilah karya kritik bisa sama pentingnya dengan esai kebudayaan, ekonomi, politik, dsb; ia melempar wacana ke masyarakat. Bagi aktivis sosial, kritik dengan perspektif gender bisa meramaikan diskusi tentang kesetaraan. Bagi para pecinta film, kritik yang mengurai perkembangan genre bisa memperkaya wawasan dan selera. Yang mana pun bisa berujung pada tuntutan terhadap pembuat film—atau bahkan industri—untuk berkembang menciptakan film yang lebih baik.

Dan terlebih untuk film dokumenter yang perserabarannya amat terbatas, sebuah karya kritik bisa memperpanjang nafasnya untuk terus dianggap ada sebagai bagian dari kebudayaan.

Ageng Indra – Mahasiswa Magang

 

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.