Sumber: Memahami Film, 2008

Setiap shot memiliki durasi yang beragam sesuai dengan tuntutan naratif, gaya sineas, dan lainnya. Satu shot dapat berdurasi kurang dari satu detik, bisa pula beberapa menit bahkan jam. Pada awal perkembangan sinema, satu shot umumnya berdurasi pendek, hanya sekitar beberapa detik saja. Perkembangan teknik editing menyebabkan durasi tiap shot semakin bertambah pendek. Hingga awal dekade 1920-an, rata-rata satu shot film-film cerita produksi Hollywood adalah 5 detik dan hingga akhir dekade 1920-an pada era suara, bertambah menjadi 10 detik. Dalam perkembangannya beberapa sineas mulai bereksperimen dengan durasi shot yang lebih panjang dari durasi rata-rata. Teknik ini disebut dengan long take. Kadang sineas memanfaatkan durasi shot tanpa terputus hingga satu rol film. (sekitar 15 menit). Teknik long take umumnya juga dikombinasikan dengan teknik pergerakan kamera.

Secara teknis sebuah shot yang berdurasi lebih dari durasi shot rata-rata (9-10 detik) disebut long take. Namun dalam prakteknya beberapa sineas menggunakan teknik long take hingga beberapa menit. Para sineas besar yang menyukai penggunaan long take antara lain, Kenji Mizoguchi, Jean Renoir, Orson Welles, Alfred Hitchcock, Ingmar Bergman, Miklós Janscó, Michelangelo Antonioni, Robert Altman, serta Alfonso Cuarón. Long take umumnya digunakan pada adegan-adegan tertentu untuk menonjolkan adegan dialog atau sebuah aksi dan momen penting. Dalam filmnya The Rope, Hichcock membaginya menjadi sepuluh shot panjang tanpa “putus”. Durasi filmnya sama dengan durasi ceritanya, yakni sekitar 80 menit (satu shot rata-rata 8 menit). Pada tiap pergantian shot, Hitchcock menggunakan transisi shot yang sangat halus sehingga kita tidak menyadari jika shot telah terpotong.

Orson Welles menggunakan teknik long take dalam hampir semua film-filmnya, seperti Citizen Kane, Magnificent Amberson, serta Touch of Evils. Dalam Kane dan Amberson, Welles sering menggunakan teknik long take untuk menekankan adegan dialog. Sementara adegan pembuka Touch of Evils bisa dikatakan merupakan salah satu penggunaan teknik long take terbaik sepanjang sejarah. Welles mengkombinasi teknik tersebut dengan pergerakan kamera (tracking dan crane) yang rumit. Shot dimulai dari seorang pria yang meletakkan sebuah bom pada mobil dan berakhir ketika bom tersebut meledak. Sementara sineas asal Perancis, Jean Renoir mengkombinasi teknik long take dengan pergerakan kamera dan teknik deep focus dalam the Rules of the Game. Sineas asal Italia, Michelangelo Antonioni menggunakan teknik long take begitu memukau pada adegan akhir The Passenger.

Kini pada era modern teknik long take lebih digunakan secara variatif sesuai tuntutan naratif maupun estetik. Robert Altman membuat opening scene termasyur dalam The Player. Dalam Jaws, Steven Spielberg menggunakan teknik ini ketika dua tokoh utama mencoba meyakinkan sang walikota untuk menutup pantai Amity Island. Dalam Before Sunrise, beberapa kali long take digunakan untuk menekankan adegan dialog antara Jessie dan Celine. Dalam Pride & Prejudice, teknik ini digunakan begitu menawan dalam sebuah adegan pesta. Kamera bergerak begitu dinamis dari satu ruang ke ruang lain mengikuti beberapa pelaku cerita yang memperlihatkan masalah mereka masing-masing. Alfonso Cuarón menggunakan long take sebagai ciri khasnya dalam film-filmnya seperti Children of Men, Gravity, dan Birdman. Teknik long take digunakan begitu meyakinkan dalam Children of Men dengan dipadukan dengan teknik handheld camera. Teknik ini digunakan pada adegan klimaks untuk menonjolkan satu adegan aksi panjang ketika tokoh utama terpisah dengan sang ibu muda dan bayinya hingga ia mampu bersusah payah menemukan mereka kembali.

Baca Juga  Stephen King dan Kesuksesan Adaptasi Novelnya

Terobosan paling fenomenal dilakukan oleh sineas asal Rusia, Alexander Sakurov melalui film bertema sejarah, Russian Ark. Film ini diproduksi menggunakan format video (kamera digital) sehingga memungkinkan durasi shot lebih dari 15 menit (panjang satu rol film). Russian Ark hanya menggunakan satu kali pengambilan gambar (shot) saja yang berdurasi sekitar 84 menit tanpa putus! Film mengambil setting di sebuah bangunan museum dengan menggunakan pemain figuran lebih dari 2000 orang. Jika saja seorang pemain salah bicara, lampu atau alat perekam suara mendadak tidak bekerja, atau seorang kru tersandung kabel, maka pengambilan gambar dimulai kembali dari awal. Alur cerita film berjalan melewati beberapa periode serta peristiwa sejarah perkembangan negara Rusia. Film menyusuri belasan ruang-ruang mewah dan megah dalam bangunan museum hingga beberapa mil panjangnya.

12 Best Long Takes in Film History

Artikel SebelumnyaSiapkah Anda Terlibat dalam Aksi Mission Impossible 5?
Artikel BerikutnyaChris Pratt Kembali Beraksi di Isla Nubar
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.