losmen melati

Catchplay+ adalah salah satu platform hiburan film di antara banyak jenisnya. Meski tak sesering Klik Film dalam menghasilkan film, perusahaan ini memproduksi Losmen Melati tahun ini –yang awalnya direncanakan sebagai series. Bisa dibilang ada beberapa nama dan peran baru dalam Losmen, khususnya Mike Wiluan sebagai penulis sekaligus sutradara (dibantu Billy Christian), Catchplay sendiri, dan Infinite Studios. Walau dia juga masih menduduki kursi produser, sebagaimana perannya selama ini. Horor supernatural dan misteri ini dilakoni oleh Alexandra Gottardo, Kiki Narendra, Samuel Panjaitan, Putri Ayudya, Totos Rasiti, Abirama Putra, dan Dwi Sasono. Dengan kerja sama yang terhitung masih baru, bagaimana hasil dari film ini?

Losmen Melati saat ini berada di bawah kepemilikan Melati (Alexandra) dan dibantu satu-satunya resepsionis, Golok (Samuel). Lokasinya dikelilingi hutan dengan hanya ada satu jalanan beraspal untuk menuju ke sana. Namun, losmen megah dan tampak antik ini menyimpan rahasia gelap dan kelam yang mengerikan dan membahayakan nyawa siapa yang menjadi tamu di sana. Setelah masuk, siapa pun bakal kesulitan untuk keluar. Bahkan mustahil. Begitu pula yang dialami Dara (Putri), Karim (Totos), Gemi (Abirama), dan tamu-tamu lainnya. Rupanya, losmen tersebut mula-mula adalah tempat tinggal Kusno (Kiki). Namun, gara-gara ulahnya rumah itu berubah fungsi dan menjerat para tamu.

Plot barat memang sudah sejak lama jadi mainan film-film horor kita sejak kemunculan Pengabdi Setan (2017). Dari mana pun dasar ceritanya. Berupa adaptasi maupun buatan ulang. Dengan mengutamakan teknis semata atau juga dalam skenarionya. Sekian tahun berlalu dan ekornya masih memanjang sampai hari ini, dengan ide-ide seputar sekte sesat, aliran satanik, kutukan, praktik-praktik ilmu hitam, memburu orang (yang dianggap) terkutuk dan mengadilinya, atau menyandingkan perkara medis dan supernatural. Begitu pula Losmen Melati dengan persoalan kutukannya.

Perjalanan cerita dalam Losmen Melati juga memiliki kemiripan dengan Rumah Dara (2010). Para korban yang menemui ajal mereka tak ubahnya “makanan” yang hanya bisa pasrah, saat terlanjur memasuki rumah. Namun, Losmen Melati lebih parah. Minim sekali perlawanan yang berarti dari para korban tersebut selama mereka mendapat teror hingga serangan dari sang arwah penunggu rumah.

Ketidakberdayaan para korban juga sebetulnya dibarengi dengan kekonyolan (dalam artian buruk) dari sikap mereka. Mengapa seorang anak yang tidur sekamar dengan kedua orang tuanya, justru lari ke kamar mandi saat ketakutan? Padahal, dia tak punya masalah apa pun dengan ayah dan ibunya. Paling tidak dengan ibunya. Mereka sekamar, bung! Ditambah lagi, sang ayah yang sangat menikmati tidurnya, sampai-sampai enggan bangun saat istrinya panik mencari-cari putra mereka. Amat parah bukan? Begitu pula tamu berikutnya. Sepasang muda-mudi yang dengan polos memasuki losmen aneh dan mencurigakan di tengah alas, hanya untuk berhubungan intim beberapa jam dan berencana pulang saat tengah malam.

Baca Juga  The Things We Say, The Things We Do (Festival Sinema Prancis)

Silakan saja bila ingin memadatkan jalan cerita. Namun, bukan berarti memberikan karakter-karakter yang kelewat “sukar dinalar” untuk setiap tokoh. Seakan hanya karena Losmen Melati mengisahkan pembunuhannya dari tamu ke tamu yang datang silih-berganti dari waktu ke waktu.

Bangunan tua seperti latar tempat utama dalam Losmen Melati juga bukan sekali ini digunakan sebagai trik atau formula dalam film horor. Untuk membangun suasana horor hanya dengan memperlihatkan rumahnya saja. Kita tahu rumah lawas Pengabdi Setan (2017) yang sudah menyeramkan walau hanya dengan menginjakkan kaki di lantai satu. Begitu pula rumah tengah alas Sebelum Iblis Menjemput (2018) yang bahkan tak punya tetangga. Masing-masing dari ketiga bangunan dalam film-film ini sama-sama memiliki satu ruangan terisolir, beraura paling angker, atau kamar tersegel.

Kendati demikian, Losmen Melati mencoba bermain-main dengan tema kutukannya sendiri. Bahkan kutukan tersebut sampai memengaruhi warna darah dan menimbulkan efek riak ke seisi rumah. Visualnya juga menyenangkan dalam menonton film horor. Tak banyak pula film horor yang menampilkan tokoh berbadan pendek, dan Losmen Melati punya Golok sebagai resepsionisnya. Meski aneh sekali melihat arwah ibu dari Dara tetap ada di losmen itu, padahal dendamnya sudah terbalas. Selain itu, apakah arwah jahat yang ada di sana hanyalah sang nenek? Ke mana para korban lainnya?

Kisah Losmen Melati rupanya belumlah usai. Bahkan bisa dikatakan masih permukaannya saja, karena menyisakan cukup banyak pertanyaan. Apa peran yang bakal dimainkan oleh boneka menyeramkan di ruangan sang pemilik losmen? Apa saja yang bakal dilakukan sang dokter? Sang sineas yang selama ini lebih kerap duduk sebagai produser masih perlu banyak dibantu dalam menyusun skenario. Walau Losmen Melati adalah kedua kalinya menulis setelah Jagat Arwah. Bahkan boleh jadi, pengalamannya dalam memproduseri Rumah Dara juga membekas dalam Losmen.

PENILAIAN KAMI
Overall
60 %
Artikel SebelumnyaCocaine Bear
Artikel BerikutnyaJohn Wick: Chapter 4
Miftachul Arifin lahir di Kediri pada 9 November 1996. Pernah aktif mengikuti organisasi tingkat institut, yaitu Lembaga Pers Mahasiswa Pressisi (2015-2021) di Institut Seni Indonesia Yogyakarta, juga turut andil menjadi salah satu penulis dan editor dalam media cetak Majalah Art Effect, Buletin Kontemporer, dan Zine K-Louder, serta media daring lpmpressisi.com. Pernah pula menjadi kontributor terpilih kategori cerpen lomba Sayembara Goresan Pena oleh Jendela Sastra Indonesia (2017), Juara Harapan 1 lomba Kepenulisan Cerita Pendek oleh Ikatan Penulis Mahasiswa Al Khoziny (2018), Penulis Terpilih lomba Cipta Puisi 2018 Tingkat Nasional oleh Sualla Media (2018), dan menjadi Juara Utama lomba Short Story And Photography Contest oleh Kamadhis UGM (2018). Memiliki buku novel bergenre fantasi dengan judul Mansheviora: Semesta Alterna􀆟f yang diterbitkan secara selfpublishing. Selain itu, juga menjadi salah seorang penulis top tier dalam situs web populer bertema umum serta teknologi, yakni selasar.com dan lockhartlondon.com, yang telah berjalan selama lebih-kurang satu tahun (2020-2021). Latar belakangnya dari bidang film dan minatnya dalam bidang kepenulisan, menjadi motivasi dan alasannya untuk bergabung dengan Komunitas Film Montase sejak tahun 2019. Semenjak menjadi bagian Komunitas Film Montase, telah aktif menulis hingga puluhan ulasan Film Indonesia dalam situs web montasefilm.com. Prestasi besar terakhirnya adalah menjadi nominator Festival Film Indonesia 2021 untuk kategori Kritikus Film Terbaik melalui artikel "Asih, Cermin Horor Indonesia Kontemporer" bersama rekan penulisnya, Agustinus Dwi Nugroho.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.