megan 2.0

Sukses komersial M3GAN dua tahun lalu, membuat produsernya memutuskan menggarap sekuelnya sesaat setelah rilis. M3GAN 2.0 kembali digarap Gerard Johnstone bersama dua produser kenamaan, James Wan dan Jason Blum. Film ini juga masih menggunakan kasting yang sama, yakni Allison Williams, Violet McGraw, Amie Donald, Brian Jordan Alvarez, Jen Van Epps, serta kini, Ivanna Sakhno bermain sebagai antagonis. Dengan suntikan bujet yang lebih besar, USD 15-25 juta, mampukah sekuelnya ini meraih sukses seperti sebelumnya?

Setelah peristiwa dua tahun lalu, Gemma (Williams) masih saja menghadapi problema komunikasi dengan ponakannya, Cady (McGraw) yang kini telah beranjak remaja. Di tempat lain, sebuah robot AI bernama AMELIA yang dikontrol oleh militer, lepas kendali dan membunuh semua orang yang terlibat dalam proyek tersebut. Sang robot rupanya menggunakan desain rancangan Megan, juga mengincar Gemma dan membahayakan orang-orang terdekatnya. Gemma bersama rekan timnya, tidak punya pilihan lain, selain menghidupkan kembali Megan untuk melawan AMELIA.

Dari genre horor ke aksi dengan konsep yang sama (AI yang mengamuk), ini bukan kali pertama terjadi. Konsep naskahnya, jelas mustahil untuk mengulang formula sebelumnya. Solusinya, untuk bisa menghadirkan kembali sang monster/robot, dibuatlah monster/robot lainnya yang lebih kuat dan tangguh. Seri Terminator sejak lama menggunakan konsep senada. Jelas tak banyak ekspektasi, tetapi secara mengejutkan, kisah sekuelnya ini memiliki beberapa kelebihan ketimbang sebelumnya.

Berbeda dengan sebelumnya, kali ini alur kisahnya menghadirkan plot bertempo cepat. Gerak sang musuh yang serba cepat, harus direspon dengan cepat pula. Prosesnya tampak bergegas dan genting, tetapi siapa peduli. Sejak ending, M3GAN pun telah memberi gelagat jika sang robot (program) masih hidup. Boom! Megan pun hadir kembali, kali ini dengan attitude dan pesona yang berbeda. Walau dalam beberapa momen, plotnya terasa agak membingungkan, tetapi arah kisahnya tak sulit untuk dipahami.

Baca Juga  Indiana Jones and the Dial of Destiny

Chemistry kali ini justru bukan kita rasakan dari relasi sang robot dengan Cady, tetapi sang bibi. Rasa was-was Gemma dengan segala peristiwa menakutkan sebelumnya, benar-benar membuatnya trauma dan penonton pun masih dibuat bimbang. Namun, sang robot menjawab dengan aksi dan selera humor. Humor? Ini yang membedakan kisahnya dengan yang lalu. Siapa sangka, sang robot bahkan bisa melantunkan sang bibi sebuah lagu untuk mencairkan suasana. Beberapa homage era 1980-an, juga memberi sedikit sentuhan berbeda, khususnya bagi penikmat lawas, seperti seri Knight Rider (K.I.T.T.), Kate Bush, hingga Steven Seagal!

Dari horor ke aksi sci-fi, M3GAN 2.0 jelas bukan yang terbaik di subgenrenya, tetapi yang pasti menghibur dan beberapa sisi bahkan lebih baik dari seri sebelumnya. Aksi nonstop dan humor, ini yang menjadi pembeda sekuelnya. Tak ada yang spesial dalam segmen aksinya, kisahnya pun tak sulit diantisipasi. Tone humor justru menjauhkan kisahnya dari sisi suram dan brutal seperti seri pertama. Boleh dibilang, sekuelnya kini lebih menyenangkan dan bahkan lebih hangat. Apakah kali ini penonton bakal menyukainya? Tak ada yang pasti, namun hanya sekadar untuk profit (break even), rasanya tak sulit dicapai. Kabarnya, seri ini tengah menggarap spin-off-nya, SOULM8TE, yang rilis awal tahun depan. Mungkin tak ada yang menyambutnya antusias, tapi siapa tahu? Eksplorasi genre sci-fi masih tanpa batas.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
70 %
Artikel SebelumnyaF1 The Movie | REVIEW
Artikel BerikutnyaSquid Game S03 | REVIEW
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses