M3GAN (2022)
102 min|Horror, Sci-Fi, Thriller|06 Jan 2023
6.4Rating: 6.4 / 10 from 140,390 usersMetascore: 72
A robotics engineer at a toy company builds a life-like doll that begins to take on a life of its own.

Selain seri Chucky, sosok boneka “tukang jagal” memang terhitung langka. Kini satu lagi muncul, yakni boneka robot perempuan bernama M3GAN. M3GAN merupakan film sci-fi horor arahan Gerard Johnston yang digawangi duo produser spesialis horor, Jason Blum dan James Wan. Film ini dibintangi Allison Williams, Violet McGraw, Ronny Chieng, serta Jenna Davis sebagai pengisi suara sang robot. Film tentang AI (Artificial Intelegence) yang mengambil-alih kendali dan mengamuk, bukan lagi hal baru dalam medium film. Lantas apa yang kini ditawarkan M3GAN?

“Couldn’t sleep. Occupational hazard .”

Kecelakaan mendadak yang menewaskan adik perempuan dan suaminya, membuat Gemma (Williams) harus mengasuh keponakannya, Cady (McGraw). Padahal Genma, yang bekerja pada industri mainan berteknologi tinggi, tengah dalam tekanan bosnya (Chieng) untuk membuat boneka mainan yang murah dan canggih. Situasinya dengan Cady, membuat Gemma melanjutkan proyek tersembunyinya untuk membuat robot sebagai teman bermain ponakannya. Robot berwujud gadis perempuan ini dinamakan M3GAN, dan di luar dugaan sang bos ternyata menyukainya. Cady pun digunakan sebagai rekan uji coba M3GAN hingga hubungan keduanya semakin dekat dan tak bisa dipisahkan. M3GAN memiliki protokol untuk melindungi Cady dengan segala cara. Tanpa disadari Gemma, sang robot pelindung justru membahayakan bagi orang-orang di sekitar Cady.

Tiga tahun lalu reboot boneka Chucky (2019) juga berubah haluan genre, dari horor supernatural menjadi horor sci-fi, seperti M3GAN. Alur plotnya pun kurang lebih sama dan banyak hal memang mudah untuk diantipasi. Satu hal berbeda adalah penuturan kisahnya yang kini berjalan lebih sabar. Prosesnya berjalan natural tanpa terlihat memaksakan banyak hal. Hubungan antara bibi dan ponakan yang tergantikan oleh M3GAN kadang membuat kita pun turut bersimpati pada Cady. Kita tahu apa yang bakal terjadi, dan tinggal menanti waktu sebelum kekacauan besar terjadi. Ketika ini terjadi, intensitas ketegangan pun semakin tinggi hingga klimaks, yang ini pun tak sulit diterka arahnya. Bukan berarti mudah ditebak menjadi tidak menghibur. Ini memang bukan aksi heboh macam seri Terminator, tapi untuk ukuran bujet dan lingkup kisahnya, saya bisa katakan lumayan memuaskan.

Baca Juga  Orion and the Dark

Bukan teritori baru untuk genrenya, namun M3GAN mampu membangun plotnya dengan sabar plus pesan tentang dampak teknologi bagi keluarga. Mengapa dalam film bertema AI cenderung berdampak negatif ketimbang sisi positifnya? Film sci-fi AI (2001) arahan Steven Spielberg, mengeksplorasi kecerdasan robot hingga mampu mempertanyakan asal usul dan eksistensinya. Ini memang bukan kasus M3GAN jika dibandingkan film superior tersebut. M3GAN jelas punya relasi dengan dampak teknologi yang buruk (handphone/media sosial) dalam lingkungan keluarga dan sosial. Kita semua tahu ini. Cady terlihat berkali-kali mengacuhkan panggilan bibinya ketika ia bermain dengan M3GAN. Dalam satu momen M3GAN melantukan piano lagu lawas Toy Soldiers (Martika/1988). Ini lagu hits generasi saya, dan ketika membuka liriknya, dan wow, ternyata punya relasi kuat dengan temanya. Silahkan menikmati link-nya di bawah:

 

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
70 %
Artikel SebelumnyaPuisi Cinta yang Membunuh
Artikel BerikutnyaInu-Oh
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.