Madagascar: Escape 2 Africa (2008)

89 min|Animation, Adventure, Comedy, Family|07 Nov 2008
6.6Rating: 6.6 / 10 from 198,885 usersMetascore: 61
The Madagascar animals fly back to New York City, but crash-land on an African nature reserve, where they meet others of their own kind, and Alex especially discovers his royal heritage as prince of a lion pride.

Madagascar 2: Escape 2 Africa (2008) merupakan film animasi sekuel dari Madagascar (2005) yang masih diarahkan duo sineas, Eric Darnell dan Tom Mcgrath. Film ini masih pula didukung sederetan bintang-bintang yang sama, antara lain Ben Stiller, Chris Rock, David Schwimmer, Jada Pinket Smith, serta Sacha Baron Cohen. Mengikuti sukses film pertamanya, Madagascar 2 kembali sukses luar biasa dengan meraih mendekati $400 juta di seluruh dunia hingga akhir tahun ini.

Setelah lama terdampar di sebuah pulau terpencil di wilayah Madagaskar, empat sekawan yakni, si Singa Alex (Stiller), si Zebra Marty (Rock), si Kuda Nil Gloria (Pinket), si Jerapah Melman (Schwimmer), dan empat penguin berencana untuk kembali ke New York dengan menggunakan pesawat terbang. Turut ikut bersama mereka adalah si raja Lemur, Julien (Cohen) dan tangan kanannya, Maurice. Perjalananan udara berjalan mulus hingga tiba-tiba di tengah perjalanan pesawat mereka kehabisan bahan bakar dan jatuh di tanah Afrika. Alex bersama rekan-rekannya kembali terlibat sebuah petualangan seru kali ini di tempat asal mereka sendiri.

Dari sisi cerita nyaris sama, jika dalam film pertama si empat sekawan terjebak di hutan rimba Madagaskar kini mereka kembali terjebak di savana dan rimba Afrika (tak jelas di wilayah mana). Di Madagaskar, si empat sekawan merupakan hewan-hewan asing di tempat tersebut (didominasi oleh para lemur) namun kini di Afrika adalah habitat asli spesies mereka sehingga lebih cepat beradaptasi. Alex bertemu ayah dan ibunya, lalu Marty, Gloria, Melman bertemu sobat-sobat sejenis mereka. Bahkan Julien, Maurice, dan empat penguin (bukan habitat mereka) juga tampak tidak kesulitan beradaptasi dengan tempat tersebut. Tak tahu bagaimana para penguin (seperti juga di film pertama) bisa bertahan hidup pada iklim Afrika yang bersuhu sangat panas.

Film-film animasi produksi Dreamworks memang memilih pendekatan yang berbeda dengan studio animasi lainnya (seperti Pixar misalnya). Karakter-karakter binatang dalam film-filmnya lepas jauh dari sifat dan perilaku asli (origin) mereka. Mereka mampu bertindak dan bergaya layaknya manusia, serta memiliki pengetahuan luas dan skill tinggi jauh di luar kemampuan alami mereka. Para penguin misalnya, dikisahkan bisa mengoperasikan kapal laut dan pesawat terbang. Bagi sebagian penonton rasanya ini bukan masalah namun bagi penonton lain ini bisa menjadi isu serius.

Baca Juga  Pokémon Detective Pikachu

Dalam Madagascar 2 karakternya bahkan jauh lebih lepas dari sifat dan perilaku asli mereka dengan logika cerita yang lebih longgar dari film pertamanya. Di Madagascar kita semua tahu mengapa Alex tidak memakan Marty (makanan di kebun binatang terjamin) namun ketika ia lapar maka insting alaminya muncul walau akhirnya ia memilih makan daging ikan ketimbang sobatnya. Di Magadascar 2 entah mengapa isu ini menguap jauh. Afrika bukanlah kebun binatang di New York, tapi hewan karnivora dan herbivora bisa hidup selaras tanpa takut satu sama lain. “Sori Marty.. akulah yang merusak Ipod-mu!!” jerit Alex ketika pesawat menukik tajam ke bumi dan Marty pun meradang. Jika bisa menerima banyolan ini rasanya Anda bisa menikmati filmnya.

Banyolan (aksi dan dialog) serta sekuen aksi jelas menjadi nilai hiburan utama film ini. Beberapa banyolan rasanya bakal sulit diterima penonton kita (apalagi anak-anak) karena mengambil referensi dari film-film klasik populer. Ketika Alex berduel dalam sebuah tes keberanian, ia mendadak menari gaya berkelahi seperti dalam film musikal West Side Story dengan iringan score aslinya. Ketika si nenek muncul ilustrasi musik yang digunakan diambil dari OST western klasik The Good, The Bad, and The Ugly. Tercatat dua sekuen udara seru dan menegangkan di awal dan akhir film dijamin menghibur penontonnya. Beberapa momen intim juga cukup menyentuh, seperti hubungan asmara (beda spesies) antara Gloria dan Melman. (kok bisa ya?) Beberapa karakter unik dan “karismatik” seperti King Julien dengan aksen India yang khas, Makunga dengan gaya rambut Elvis-nya, serta si lemur Mort sekalipun tidak banyak muncul namun mampu menghadirkan suasana berbeda di filmnya.

Secara menyeluruh Madagascar 2: Escape 2 Africa masih menggunakan formula yang sama dengan Madagascar, namun kali ini baik dari segi cerita, karakter, banyolan maupun aksinya jauh lebih variatif dan atraktif dari film sebelumnya. Tidak seperti film-film animasi produksi Pixar (juga Dreamworks seperti Kung Fu Panda baru lalu), Madagascar 2 jelas tidak mementingkan unsur kedalaman cerita namun sekedar hanya menampilkan cerita serta banyolan ringan yang menghibur dengan pesan moral sederhana. Target Piala Oscar (film animasi terbaik) jelas jauh dari sasaran namun dari sisi target penonton film ini terbukti sukses besar. Bagi penulis, Madagascar masih lebih baik dari Madagascar 2 tapi untuk penonton anak-anak rasanya film kedua ini jauh lebih menghibur.

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
65 %
Artikel Sebelumnya3 Doa 3 Cinta, Kisah Tentang Pesantren yang Dangkal
Artikel BerikutnyaBolt
Himawan Pratista
His hobbies are watching films since he was a child and exploring the theory and history of film self-taught after graduating from an architectural study. He began writing articles and film reviews from 2006. Because of his experience, the writer was drawn into the teaching staff of a private Television and Film Academy in Yogyakarta to teach Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut book is Memahami Film (Understanding Films/2008) which separates film art as narrative and cinematic. His second book, Memahami Film (Understanding Films - Second Edition/2017), has now been published. These two books are favourite references for film and communication academics throughout Indonesia. He was also fully involved in writing the Compilation Book of the Montage Film Bulletin Vol. 1-3 as well as 30 best-selling Indonesian films 2012-2018. Until now, he still writes film reviews and is actively involved in all film productions in the Montase Film Community. Full bio can be viewed on the montase.org site.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.