Mary Poppins Returns (2018)
130 min|Adventure, Comedy, Family|19 Dec 2018
6.7Rating: 6.7 / 10 from 95,185 usersMetascore: 66
A few decades after her original visit, Mary Poppins, the magical nanny, returns to help the Banks siblings and Michael's children through a difficult time in their lives.

Mary Poppins yang dirilis 54 tahun yang lalu adalah salah satu film musikal klasik berpengaruh yang mampu meraih 5 Piala Oscar, yang dipuji tinggi melalui segmen musikal dan sisi efek visual. Setelah sekian lama, akhirnya film sekuelnya diproduksi, Mary Poppins Returns, yang melanjutkan kisah versi aslinya. Film sekuelnya ini diarahkan oleh Rob Marshall yang kita tahu sangat berpengalaman memproduksi film-film musikal berkelas, yakni Chicago, Nine, serta Into the Woods. Aktris bintang, Emily Blunt bermain sebagai Mary Poppins, didukung Lin-Manuel Miranda, Ben Wishaw, Emily Mortimer, Colin Firth, Meryl Streep, serta aktor gaek Dick Van Dyke yang juga bermain dalam film aslinya. Dengan bermodal US$ 130 juta, mampukah film sekuelnya ini menyamai sukses versi aslinya?

Alkisah tahun 1935 (20 tahun setelah kisah film pertama), kakak beradik Jane dan Michael Banks, masih tetap tinggal di rumah lama mereka. Michael kini telah memiliki 3 orang anak, sepeninggal istrinya, Kate. Almarhumah Istrinya yang mengelola keuangan mereka, membuat Michael luput membayar tagihan pinjaman banknya. Secara mengejutkan, Michael dan Jane hanya diberi waktu 3 hari sebelum pihak bank menyita rumah mereka. Di tengah kesulitan, juru selamat mereka di masa lalu, Mary Poppins, turun dari langit untuk kembali membantu keluarga Banks.

Problem utama menonton film ini adalah bagi yang belum menonton versi aslinya. Akibat alur kisahnya yang langsung menyambung dengan film sekuelnya ini, penonton baru bakal kehilangan informasi cerita yang sangat signifikan. Siapa Jane dan Michael? Mengapa Mary Poppins datang sebagai pengasuh mereka, serta banyak detail cerita lainnya. Anggap saja film sebelumnya adalah eksposisi (latar cerita) bagi film sekuelnya ini. Sebaiknya, sebelum menonton film ini, wajib menonton film klasik aslinya.

Bicara soal film sekuelnya ini, tentu tak lengkap jika tak membahas film aslinya. Saya pribadi tak banyak terkesan dengan Mary Poppins karena segmen musikalnya yang sangat melelahkan. Bagaimana bisa? Film ini lebih menitikneratkan pada segmen musikal dan aspek efek visual, atau animasi lebih tepatnya. Efek visual sangat dominan mendampingi semen musikalnya, dan ini yang menjadi kekuatan terbesar filmnya. Bukan sisi visual yang menjadi masalah, namun segmen musikalnya yang kelewat panjang. Penonton pada masanya jelas tak ada masalah dengan ini karena kombinasi musikal dengan efek visual adalah sesuatu yang baru. Berbeda dengan The Sound of Music, Singin’ in the Rain, serta West Side Story, segmen musikal dalam Mary Poppins tak mampu menggerakkan cerita selain hanya menampilkan pertunjukan spektakuler semata. Amat melelahkan. Alur plot utama sebenarnya hanya berjalan sepertiga durasinya saja.

Baca Juga  Good Boys

Kelemahan ini rupanya dipahami betul sehingga sekuelnya kini menampilkan segmen musikal yang efektif, tidak hanya spektakuler secara visual, namun juga mampu menggerakkan plotnya. Walau segmen musikalnya tetap dominan sepanjang film tapi durasinya tidak berlebih. Ada momen jeda yang mampu memberi kita waktu untuk beristirahat. Tapi yang menjadi masalah dalam sekuelnya kini adalah masalah cerita. Inti kisahnya sebenarnya hanya merupakan pengulangan formula cerita yang sama dari film aslinya. Jadi bisa dibilang film sekuel yang terasa seperti remake. Apakah opsi ini brilian? Ya bisa saja bagi sebagian penonton atau pengamat film, namun bagi saya tidak ada yang baru dari sisi kisahnya. Hanya mengubah setting 20 tahun ke depan plus sajian visual yang lebih wah. Hanya ini.

Jika kita bicara segmen musikalnya, komentar hanya singkat, luar biasa sekali! Apa yang bisa dilakukan untuk film fantasi masa kini semua tersaji dalam filmnya. Segmen musikalnya sangat enak untuk diikuti dengan beberapa nomor lagu ringan yang mudah untuk diikuti (tak heran banyak penonton yang ikut pula menyanyi). Sajian visualnya? Wah tak ada lagi komentar untuk film ini. Apa yang kamu harapkan, itu yang kamu dapat. Atraktif, enerjik, dinamis, penuh warna, dengan sisi koreografi sangat menawan yang mengingatkan kita pada film-film musikal klasik masterpiece yang sangat megah. Semua ini terpusat pada satu sosok, yakni Mary Poppins yang diperankan Blunt begitu mengesankan dengan dukungan suara vokalnya sendiri. Siapa sangka sang aktris ternyata bisa memiliki suara demikian merdu hingga pada satu adegan ketika ia meninabobokan anak-anak asuhnya kita pun terlena, nyaris terlelap pula.

Dengan segmen musikal serta penampilan Emily Blunt yang amat memukau, Mary Poppins Returns, lebih terlihat sebagai sebuah reboot ketimbang sekuel melalui formula plotnya yang mirip dengan versi aslinya.  Sosok Mary Poppins adalah bagai dewi penyelamat yang turun ke bumi di kala manusia mengalami masalah. Sayangnya, kisahnya tidak mencoba untuk membuat sosok ini menjadi simbol penyelamat di tengah hiruk pikuk dan segala kekacauan manusia di seluruh penjuru bumi kini, yang semakin tipis jarak antara benar dan salah. Poppins merupakan simbol keseimbangan alam yang tak butuh pujian. Ketika manusia larut dalam kegembiraan, seketika itu pula, ia kembali dilupakan. Ia hanya tersenyum dan menghilang di balik langit.

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
75 %
Artikel SebelumnyaMilly & Mamet (Ini Bukan Cinta & Rangga)
Artikel BerikutnyaAsal Kau Bahagia
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.