Max Payne (2008)

100 min|Action, Crime, Drama|17 Oct 2008
5.3Rating: 5.3 / 10 from 130,056 usersMetascore: 31
Coming together to solve a series of murders in New York City are a police detective and an assassin, who will be hunted by the police, the mob, and a ruthless corporation.

Max Payne (2008) merupakan adaptasi dari video game arahan John Moore yang memproduksi film-film aksi, seperti Behind Enemy Lines (2001), Flight to the Phoenix (2004), serta film horor, The Omen (2006). Film dibintangi oleh Mark Wahlberg serta beberapa aktor dan aktris seperti, Mila Kunis. Beau Bridges, serta Chris O Donnel.

Setelah kematian istri dan anaknya, Max Payne (Wahlberg) masih berusaha terus menyediki penyebab kematian mereka. Semakin jauh penyelidikan Max, orang-orang yang ia temui hingga partnernya tewas terbunuh tanpa alasan jelas. Max malah menjadi tersangka utama karena seluruh bukti-bukti mengarah padanya. Dalam posisi yang semakin terjepit, Max berusaha keras untuk mengungkap misteri di balik semuanya. Ia tidak menyadari jika penyelidikannya mengarah pada sebuah sindikat misterius yang ternyata juga bertanggung jawab atas kematian istri dan anaknya.

Aksi seru! Itu yang pertama kali ada dibenak penonton sebelum menonton filmnya, terlebih bagi para fans berat game-nya. Tapi nyatanya, film ini minim adegan aksi. Sejak adegan aksi pembuka film, tidak hingga separuh durasi film adegan aksi berikutnya muncul. Sangat mengejutkan bukan? Max Payne lebih tepat bila kita sebut sebagai film detektif. Titik berat cerita terletak pada misteri pengungkapan pembunuhan istrinya dan memang ini yang dilakukan Max sepanjang filmnya. Keberadaan valkyr, makhluk bersayap si pencabut nyawa seolah menggiring genre filmnya ke arah fantasi, namun.. hey ternyata itu cuma halusinasi. Secara keseluruhan cerita hanya menarik pada separuh durasi awal selebihnya (seperti biasa) alur cerita mudah ditebak. Tak ada yang istimewa namun juga tidak bisa dibilang buruk. Satu hal yang sedikit menggangu adalah halusinasi makhluk bersayap ketika meminum ramuan berwarna biru (valkyr). Jika itu cuma halusinasi mengapa semua orang bisa memiliki wujud halusinasi yang sama?

Baca Juga  Wrath of Becky

Adegan aksinya yang banyak menggunakan slow-motion ala Matrix juga sama sekali tak ada yang istimewa. Pada satu adegan ketika Max menjatuhkan badannya lalu menembak seorang penjahat dibelakangnya, teknik slow-motion malah terasa mengganggu karena durasinya terlalu lama. Setting-nya yang banyak menggunakan elemen-lemen film noir cukup pas mendukung ceritanya. Penggunaan suasana setting yang cenderung gelap, yakni jalanan, warehouse, gang-gang, kota yang suram, tata cahaya low-key, lampu neon box (menyala-mati), plus butiran-butiran salju sangat efektif membangun nuansa misteri cerita secara keseluruhan. Untuk pilihan kastingnya, sekeras apapun usaha sang aktor tetap saja sosok Walhberg masih tampak kurang dingin sebagai sosok Max.

Adaptasi game ke film memang bukanlah sesuatu yang mudah. Sineas umumnya memilih untuk fokus pada adegan-adegan aksinya sesuai spirit game yang diadaptasi seperti, Resident Evil, Alien vs Predator, Mortal Kombat, dan lainnya. Namun faktanya, hanya sedikit dari film-film tersebut yang terbilang lumayan. Sementara titik berat pada unsur non-aksi seperti halnya Max Payne, terhitung sangat minim. Silent Hill adalah contoh yang paling baik dan film ini juga menggunakan pendekatan estetik yang serupa dengan Max Payne. Sebagai penutup, untuk film aksi Max Payne jelas mengecewakan banyak penonton khususnya para penggemar game-nya, namun sebagai film detektif dengan kejutan bumbu “fantasi”, Max Payne terbilang tidak mengecewakan.

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
70 %
Artikel SebelumnyaQuantum of Solace
Artikel BerikutnyaJourney to the Center of the Earth
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

1 TANGGAPAN

  1. Yups,terus terang saya sebagai pencinta game emang kecewa berat “no action package” adaptasi dari game ke movies sedikit berbeda ceritanya … tetapi sabagai pencinta movies saya lega dimana sineas berusaha untuk tidak semata-mata mengadopsi semuanya dari game, yang kebiasaannya adapatasi dari game cenderung temanya amat dangkal.Saya pikir lebih bisa menikmati mopvies tersebut apabila belum memainkan gamenya terlebih dahulu.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.