Mechanic: Resurrection (2016)

98 min|Action, Adventure, Crime|26 Aug 2016
5.7Rating: 5.7 / 10 from 93,234 usersMetascore: 38
Bishop's most formidable foe kidnaps the love of his life in order to make him complete three impossible assassinations and make them look like accidents.

Aktor laga, Jason Statham yang sudah menua rupanya dianggap masih punya pamor bagi para fansnya untuk beraksi solo dalam sekuel The Mechanic, Mechanic Ressurection. Film sekuelnya kali ini dibintangi nama-nama top seperti Jessica Alba, Michelle Yeoh, hingga Tommy Lee Jones. Apalagi yang mau ditawarkan film aksi laga seperti ini selain aksi laganya namun ini pun amat mengecewakan.

Pembunuh bayaran, Arthur Bishop setelah kejadian beberapa tahun lalu mencoba hidup menyendiri jauh dari profesi aslinya. Namun Crain, kawan lawasnya yang memiliki dendam pribadi dengannya berhasil melacak keberadaannya. Bishop kemudian lari ke Thailand, dan disana ia bertemu dengan Gina. Crain yang mengetahui kedekatan mereka memanfaatkan Gina agar Bishop melakukan misi untuknya. Bishop dipaksa untuk beraksi kembali membunuh 3 orang kartel pesaing Crain.

Sejak aksi opening sekuennya film ini sudah terlihat mengecewakan. Setelahnya nyaris sudah tidak ada lagi yang bisa ditawarkan selain pemandangan indah latar kisahnya. Naskah yang buruk ditambah dengan tempo cerita yang cepat dan berkesan terpotong-potong membuat kisahnya sama sekali tidak enak untuk dinikmati. Porsi karakter yang diperankan Michelle Yeoh dan Tommy Lee Jones juga terlalu sedikit dan hanya tampak datang dan pergi. Unsur ketegangan dan aksi laga yang menjadi menu utamanya juga hanya aksi medioker dan kadang tak masuk akal. Semuanya serba cepat dan mudah membuat penonton terlelap.

Baca Juga  Abigail

Mechanic Resurrection tidak lagi menampilkan karisma Statham semestinya yang kini sudah menua. Naskah dan sekuen aksi medioker membuat semuanya bakal dilewatkan begitu saja. Statham dengan sisa karirnya bisa memilih pendekatan berbeda seperti yang ia lakukan dalam Home Front. Tak perlu banyak aksi namun sisi drama lebih ditekankan dan ia memiliki kemampuan itu. Franchise Expendables masih menjadi kartu truf bagi karirnya saat ini, itu pun tidak bakal mengangkatnya lagi. Statham kelak hanya dikenang untuk film-film laganya macam The Transporter dan Crank.

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
10 %
Artikel SebelumnyaThe Secret Life of Pets
Artikel BerikutnyaTrain to Busan
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.