qodrat 2

Disarankan untuk menonton film pertama dan sekuelnya sebelum membaca ulasan ini.

Sudah menjadi tradisi setiap liburan lebaran, sejumlah film lokal baru selalu rilis bersamaan. Kali ini pun sama, lima film sekaligus dirilis, dan dua di antaranya adalah film horor. Saya tergoda untuk menonton Pabrik Gula dan Qodrat 2. Alasannya, Qodrat 2 sudah menonton film pertamanya, lalu Pabrik Gula karena saya tahu betul karya-karya horor Awi Suryadi. Dua tahun lalu, saya memuat tulisan artikel lepas berjudul Melawan Qodrat yang isinya sebagian besar kekecewaan terhadap filmnya. Saya harapkan pembaca menilik kembali artikel ini sebelum membaca ulasan ini lebih jauh. Kala itu, Qodrat banyak dianggap para pengulas sebagai film horor yang bagus. Faktanya, Qodrat memiliki banyak sekali kelemahan mendasar, baik eksekusi penceritaan maupun estetik. Saya berharap sekuelnya bisa lebih baik dari sebelumnya.

Dari ending kisah sebelumnya, terlihat Qodrat (Vino Bastian) melaju pergi dengan motornya, menyongsong masa depan dengan optimis setelah diuji dengan teror mistik yang menimpa dusun tempat pesantrennya serta warga bernama Yasmin (Marsha Timothy) dan dua anaknya, Alif dan Asha. Ia pun tampak telah berdamai dengan masa lalunya dan lepas dari trauma. Seolah, kita kini bakal menikmati petualangan baru ustaz Qodrat menunaikan kodratnya sebagai sosok pengusir iblis yang mumpuni. Rupanya saya keliru besar.

Mengawali kisahnya, pembuat film rupanya cukup “cerdik” memanfaatkan celah plot film pertamanya, dengan memasukkan satu karakter penting yang tidak diduga sama sekali, yakni istri Qodrat, Azizah (Acha Septriasa). Azizah selama kejadian yang menewaskan sang putra, Alif (segmen opening Qodrat), rupanya hadir pula di sana sebagai saksi hidup. Bahkan, ia juga sempat menjenguk suaminya di penjara, sebelum kejadian mengenaskan yang “menewaskan” suaminya. Sementara Qodrat yang hidup kembali, setelahnya bisa kita lihat sepak terjangnya dalam Qodrat dan tidak secuil pun menyinggung sosok istrinya. Azizah sendiri setelah sang suami tewas, dikisahkan sempat terganggu jiwanya sebelum akhirnya memutuskan untuk meninggalkan rumahnya, dan bekerja di sebuah pabrik pemintalan benang.

Pertanyaan besarnya, mengapa Qodrat justru pergi ke pesantren, alih-alih menemui dan mencari Azizah setelah ia hidup kembali? Ini memberi kesan kisah sekuelnya terlalu dicari-cari dan problem pun ternyata masih sama dan terhubung dengan putra mereka. Plotnya mundur kembali dan Qodrat harus berhadapan lagi dengan iblis yang menewaskan putranya. Kasus pesugihan di pabrik hanya berkesan sebagai selingan belaka, sebelum mereka menghadapi konflik sesungguhnya. Misteri latar masalah pada seri pertama (eksposisi sang iblis), hanya dipaparkan melalui dialog selintas yang kurang menggambarkan konfliknya dengan tegas. Ada apa sesungguhnya dengan Alif hingga sang ibu meminta bantuan sang iblis? Ini tidak terjawab sama sekali. Sang protagonis harus menderita untuk kesekian kalinya dan derita bakal masih berlanjut di sekuel keduanya kelak yang tampak pada segmen penghujung. Ringkasnya, mengapa naskahnya mesti dibuat berputar-putar pada masalah yang sama? Bukankah segala peristiwa yang terjadi pada film pertama justru menjadi sia-sia belaka?

Satu hal yang menjadi kelemahan mencolok film pertamanya adalah production value. Artikel Melawan Qodrat telah memaparkan secara rinci. Kini, sekuelnya telah banyak berbenah dan usaha pembuat film untuk mencari lokasi set, khususnya areal pabrik, patut diacungi jempol. Set pabrik pun cukup luas dan bervariasi, baik indoor maupun outdoor dengan segala propertinya yang terlihat meyakinkan. Latar waktu kisahnya juga tidak bisa kita lacak secara jelas, namun beberapa properti kendaraan memperlihatkan periode tahun 1970-an hingga 1980-an. Satu poin mengesankan juga terlihat dari tata rias wajah sang iblis. Hanya saja, tidak terlalu kentara, beda iblis pesugihan di pabrik dengan iblis musuh bebuyutan Qodrat karena selintas terlihat sama. Ini bukan masalah besar. Segmen aksi pertarungan tidak terlalu membekas, namun lebih dari cukup untuk melayani kisahnya. Pengadeganan horornya pun cukup baik, walau tidak banyak jump scare kita jumpai karena sosok sang iblis sudah hadir sejak awal. Dalam banyak momen, sineas menahan shot-nya berlama-lama, seperti saat azizah sholat, walau punya motif, namun terasa sedikit mengulur waktu. Masalah kini memang tidak banyak pada aspek visual, namun penceritaan.

Baca Juga  The Croods: A New Age

Dari sisi plot memang banyak hal yang mesti kita tolerir. Entah kebetulan atau tidak, set lokasi Qodrat 2 banyak kemiripan dengan Pabrik Gula karena dominasi set lokasi di pabrik tinggalan Belanda. Bisa dimaklumi jika keduanya tidak menampilkan aktivitas pabrik dengan jumlah buruh hingga ratusan. Bujet produksi tentu menjadi pertimbangan. Keduanya menggunakan loji atau mess karyawan yang ada di lingkungan pabrik. Namun dalam Qodrat 2, banyak hal mengganjal yang memperlihatkan sebuah pabrik layaknya kamp konsentrasi. Para pekerja terlihat terperangkap dan tidak bisa keluar masuk seenaknya. Pegawai administrasi pabrik pun hanya terlihat segelintir dan para penjaga selalu bersikap kasar. Saya agak terganggu pengadeganan para penjaga yang memukuli para pekerja perempuan dengan kasarnya ketika berdemo. Belum lagi kejadian aneh yang menewaskan dua buruh, rupanya belum cukup untuk membuat para pekerja segera ingin cabut dari sana.

Berbeda dengan sebelumnya, sosok iblis kini terang-terangan muncul. Bahkan nama iblis di pabrik pun sudah kita dengar dan rasanya bukan lagi isu seperti di film pertama. Lagi-lagi, sosok iblis masih mengacu pada sosok iblis barat yang memiliki tanduk dan bertubuh raksasa. Ini sedikit mengganjal karena dalam tradisi plot horor barat, iblis dalam bentuk aslinya jarang sekali muncul dan lazimnya pihak protagonis berusaha mati-matian mencegah hal tersebut terjadi. Para pemuja iblis harus memberikan tumbal atau tubuh inang terpilih untuk bisa hadir di muka bumi dan butuh effort besar serta timing yang rumit.

Dalam kasus Qodrat, ini tidak terjadi, dan sang iblis sendiri yang hadir menghabisi korbannya. Si dukun (bos pabrik) juga bisa seenaknya memanggil iblis dan membunuh siapa pun semaunya dengan bermodal foto korban. Aturan main lokal (pesugihan) dan barat sudah campur aduk dan ini sah-sah saja. Kita coba kembali ke agenda iblis dan apa misi utama dia hadir di tengah-tengah manusia. Apakah untuk sekadar memberi keuntungan materi pada segelintir orang dengan imbalan nyawa manusia atau menggoda umat manusia untuk berbuat dosa? Benar dan salah makin kabur dan ini tentu berdampak pada moral value kisahnya.

Walau secara visual telah memiliki banyak peningkatan, namun Qodrat 2 masih memiliki banyak kelemahan cerita. Eksposisi (rivalitas Qodrat dan iblis) masih menjadi masalah terbesar, hingga sekuelnya ini tidak terjelaskan penuh. Ini bukan masalah, jika memang plot sekuelnya tidak mengarah ke sini. Tetapi ending-nya secara tegas melanjutkan masalah dengan kembali ke kisah awalnya. Ini memberi rasa frustasi dari perspektif pengembangan penokohan protagonisnya. Kabarnya, seri ini ingin dikembangkan menjadi sebuah semesta sinematik. Ini tentu bukan hal mudah. Kesuksesan Danur Universe banyak tertolong oleh popularitas novelnya, bukan pula karena pondasi naratif yang kokoh. Sementara Qodrat mengawalinya dengan buruk melalui naskah yang terlihat kurang matang.

1
2
Artikel SebelumnyaThe Life List | REVIEW
Artikel BerikutnyaKKN di Pabrik Gula
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses