Penulis Gustaf Khoirul Luqman – 1 Oktober 2022

Tulisan Terbaik Kelas Kritik Bunga Matahari – Sewon Screening #8

Mencuri Raden Saleh (Stealing Raden Saleh) adalah satu dari serangkaian film aksi Indonesia yang digembar-gemborkan membawa angin segar. Hangatnya isu yang diangkat oleh Hollywood tentang framing pencurian atau Heist akhir-akhir ini, Mencuri Raden Saleh  dirilis pada 25 Agustus di seluruh bioskop Indonesia. Angga Dwimas Sasongko (Visinema) dengan formula bisnisnya, mengemas film ini dengan lakon-lakon muda yang sedang naik daun. Iqbaal Ramadhan dengan berbagai karakter yang melekat padanya mulai dari Dilan hingga Minke, Angga Yunanda dengan karakter kharismatik di setiap frame yang dia dapat pada film dan series yang ia perankan, Rachel Amanda dengan tangisan effortless-nya pada sinetron Candy yang cukup fenomenal dan termasuk salah satu aktris terbaik menurut Angga Dwimas Sasongko, serta tiga lakon lain yaitu Aghniny Haque, Umay Shahab, dan Ari Irham yang portofolionya bisa kita tahu lewat karya mereka.

Sinopsis yang secara terang-terangan menggambarkan betapa “grandenya” rencana pencurian ini. Namun, ada beberapa catatan menurut kacamata saya yang ternyata tidak terlalu begitu relevan dengan sinopsis, yang sekilas jika dibaca cukup menarik dan menghipnotis. Memang dalam beberapa scene awal resep Angga Dwimas Sasongko sebagai sutradara berhasil membuat penonton menjerit di studio. Dengan pengenalan tokoh yang menurut saya cukup hierarkis secara popularitas dimunculkan oleh sutradara dengan urutan yang  signifikan.

Menggunakan plot yang cukup linier pada satu jam pertama, sang sutradara menyuguhkan suasana dengan nuansa soft dan komikal. Lagi-lagi sutradara mencoba menggiring opini, bahwa framing dan setting tempat yang lumayan mirip dengan setting design ala-ala Hollywood.

Penilaian akan sangat subjektif dan apresiatif ketika ada film yang secara komposisi naratif memiliki babak peralihan yang signifikan. Namun Turning point yang menggunakan tanda tanya besar dimulai setelah konflik timbul pada setiap tokohnya, dan lagi-lagi hierarki popularitas tampak dengan signifikan. Meskipun sang sutradara mengatakan bahwa porsi di setiap karakternya seimbang, namun mata saya menyangkal.  Peran penokohan masih ada yang berfungsi hanya sebagai tempelan. Hanya agar terlihat seimbang secara visual, bukan berdasarkan fungsinya. Antara porsi penokohan yang begitu kompleksnya dengan kapasitas aktor dan aktrisnya membuat saya memberikan perbandingan 4:3. Hal ini menonjol ketika karakter yang diperankan Aghniny Haque sebagai Sarah terlihat kurang organik. Dengan backgound character beladiri kelas mahasiswa, keterpaksaannya saat turun menjadi “Bom Waktu”, tidak terlalu menunjukkan bahwa dia terpaksa secara ekspresi. 

Baca Juga  Fenomena The Raid

Tidak jauh berbeda dengan isu yang diangkat Money Heist, The Hatton Garden, dan film pencurian lainnya. Bumbu plot twist, color grading, dan metaphor property menjadi nilai tersendiri dalam film ini. Namun melihat Visinema picture dengan bisnisnya, beberapa product placement banyak mengganggu mata saya sebagai pengamat amatir semiotika. Produk makanan sebagai insert saya rasa terlalu berlebihan hingga saya bertanya-tanya “Apakah wafer gulung dan game ini sumber utama pendanaan Visinema untuk film ini? Kok jadi kayak iklan Television Comercial (TVC) yang kebanyakan tempel sana-sini di FTV dan sinetron ya?” Melihat branding Filosofi Kopi yang menurut saya lumayan massive diperbincangkan kalangan anak muda hingga pebisnis zaman sekarang.

Sebagai pengamat amatir teknis pengambilan gambar juga, saya banyak dikejutkan oleh shot komposisi Bagoes Tresna Aji sang sinematografer. Namun, alternatif efek visual pada Travel Shot mobil saat hujan menuju antiklimaks tidak terlalu menyenangkan mata saya. Jika motivasi pengambilan gambar terinspirasi dari lukisan sebagai subjek utama pencurian, teknik ini terasa kasar di mata amatir saya.

Secara pengolahan suara saya tidak meragukan Satrio Budiono sebagai pemegang mahkota penata suara terbaik FFI saat ini. Hanya saja saya tidak menemukan ekspektasi saya di film ini. Hanya terasa “cukup” dengan komparasi referensi film heist dan laga internasional.

Secara production value, keseluruhan cerita ini cukup kuat sebagai bingkai baru film berbau pencurian. Mengangkat sejarah yang cukup fenomenal dan isu politik kekuasaan yang relevan hingga sekarang serta mental keberanian anak muda masa kini. 

Sebagai heist movie, Mencuri Raden Saleh bukan hal baru di Indonesia karena ada The Professionals karya Affandi Abdul Rachman yang rilis 2016 silam. Apakah angin segar untuk industri? Absolutely yes. Dengan production karakter Visinema dan pernyataan saya pada paragraf pertama, menurut saya Mencuri Raden Saleh berhasil menjadi pecutan kreativitas baru di dunia perfilman Indonesia.

PENILAIAN KAMI
Overall
80 %
Artikel SebelumnyaLuckiest Girl Alive
Artikel BerikutnyaPengabdi Setan II: Communion, Sekuel Jahanam
memberikan ulasan serta artikel tentang film yang sifatnya ringan, informatif, mendidik, dan mencerahkan. Kupasan film yang kami tawarkan lebih menekankan pada aspek cerita serta pendekatan sinematik yang ditawarkan sebuah film.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.