Mendung Tanpo Udan

Lebih kurang sejak kemunculan film pertama Yowis Ben (2018) dan sukses komersialnya, film-film dengan latar utama atau poros cerita Jawa mulai turut meramaikan layar lebar. Termasuk Mendung Tanpo Udan. Lebih jauh lagi bahkan pemeran utamanya dimainkan oleh aktor yang tak biasa mendapat kesempatan memainkan karakter utama, ialah Erick Estrada. Sutradara (merangkap penulis) serta tiga rekan penulisnya juga masihlah baru semuanya, ialah Kris Budiman bersama Agit Hemon, Gian Luigi, dan Tony Sihombing. Di bawah naungan produksi Nant Entertainment, drama roman dan komedi ini diperankan antara lain oleh Yunita Siregar, Erick Estrada, Aulia Deas, Kery Astina, Tommy Limm, Marcell Darwin, dan Yati Pesek. Seperti apa hasil kolaborasi bersama antara para pendatang baru ini?

Pertemuan perdana dan tanpa disengaja antara Mendung (Yunita) dan Udan (Erick) di sebuah lokasi konser musik rupanya melahirkan hubungan panjang. Hari-hari pun berlalu penuh warna antarmereka bersama vespa kesayangan Udan. Namun, Udan sendiri punya karakter yang kerap menyebalkan dan sulit diajak bicara secara terbuka, baik dengan Mendung maupun sahabatnya, Awan (Kery). Udan terus berkutat dengan ideologi idealnya dan menolak keras untuk realistis akan kehidupan. Sementara Mendung (juga Awan) tak dapat berlama-lama menoleransi setiap kesalahan Udan.

Hampir seluruh bagian yang terlibat dalam pembuatan Mendung Tanpo Udan ialah wajah-wajah baru dalam layar lebar. Termasuk sang sutradara dan ketiga rekan penulisnya. Hanya mengecualikan Erick, Kukuh Prasetya, Marcell, dan tentunya sang senior dunia lawak, Yati Pesek. Latar belakang tiga di antara mereka yang memang asli Jawa juga menjadi bantuan besar terhadap nilai jual film ini.

Sebetulnya dalam hal penceritaan, nyaris dari awal hingga akhir begitu mudah ditebak. Tanda-tanda yang dihadirkan serta kemungkinan-kemungkinan peristiwa yang bakal terjadi sudah dapat diduga. Misalnya, bahwa kemudian janji temu seseorang dengan Mendung akan menjadi sebuah kesalahpahaman Udan yang kadung naik pitam. Bahkan akhir film akan mengarah ke mana sudah terbaca sejak memasuki pertengahan cerita.

Baca Juga  Jurassic World

Meski demikian, Mendung Tanpo Udan tampak berupaya mengangkat kesenian lokal dengan mengadaptasinya menjadi beberapa adegan berupa interaksi tiga atau lebih pemain. Hampir menyerupai Ketoprak atau Ludruk, walau yang diambil hanya gaya interaksi berdialognya. Dialog khas pertunjukan tersebut dengan gaya lawakan para pemerannya. Setidaknya dua kemunculan interaksi gaya permainan tersebut paling kentara adalah saat sang tokoh utama berada di kantor ekspedisi pengiriman barang dan bengkel.

Mendung Tanpo Udan juga boleh dibilang senada dengan Jatuh Cinta Seperti di Film-Film (2023), atau seri Yowis Ben (2018, 2019, 2021) dan Lara Ati (2022), terkait fisiologis pemeran utamanya. Seperti yang diketahui, kerap kali pemeran utama dalam film-film drama roman diisi oleh aktor-aktor berparas tampan hingga usia-usia muda. Sering pula Jakarta-sentris. Namun, Mendung Tanpo Udan beserta sebagian besar film-film tersebut tidak demikian. Sayangnya pada film yang sama, pemilihan pemain untuk beberapa tokoh sampingan menunjukkan kegagalan. Sudah tentu Mendung Tanpo Udan yang diisi pula oleh banyak bahasa Jawa menuntut aktor-aktris fasih berbahasa Jawa. Namun, hanya segelintir yang terdengar cocok melafalkan bahasa tersebut dalam dialog mereka.

Saking simpel Mendung Tanpo Udan sampai-sampai mudah sekali menebak akan ke mana arah cerita berjalan, pun setiap tanda akan memunculkan peristiwa apa. Satu dari sedikit sisi menarik film ini ialah olah peran Erick sebagai Udan. Walau karakternya dibuat amat menyebalkan dari awal hingga film hampir usai. Lainnya adalah bagaimana upaya menyelipkan gaya pertunjukan dari kesenian lokal ke dalam beberapa kali interaksi antartokoh, serta kehadiran Yati Pesek. Bagaimanapun, Mendung Tanpo Udan sekadar cocok untuk tontonan atau hiburan ringan semata. Tak lebih dari itu.

PENILAIAN KAMI
Overall
50 %
Artikel SebelumnyaDune: Part Two
Artikel BerikutnyaPasar Setan
Miftachul Arifin lahir di Kediri pada 9 November 1996. Pernah aktif mengikuti organisasi tingkat institut, yaitu Lembaga Pers Mahasiswa Pressisi (2015-2021) di Institut Seni Indonesia Yogyakarta, juga turut andil menjadi salah satu penulis dan editor dalam media cetak Majalah Art Effect, Buletin Kontemporer, dan Zine K-Louder, serta media daring lpmpressisi.com. Pernah pula menjadi kontributor terpilih kategori cerpen lomba Sayembara Goresan Pena oleh Jendela Sastra Indonesia (2017), Juara Harapan 1 lomba Kepenulisan Cerita Pendek oleh Ikatan Penulis Mahasiswa Al Khoziny (2018), Penulis Terpilih lomba Cipta Puisi 2018 Tingkat Nasional oleh Sualla Media (2018), dan menjadi Juara Utama lomba Short Story And Photography Contest oleh Kamadhis UGM (2018). Memiliki buku novel bergenre fantasi dengan judul Mansheviora: Semesta Alterna􀆟f yang diterbitkan secara selfpublishing. Selain itu, juga menjadi salah seorang penulis top tier dalam situs web populer bertema umum serta teknologi, yakni selasar.com dan lockhartlondon.com, yang telah berjalan selama lebih-kurang satu tahun (2020-2021). Latar belakangnya dari bidang film dan minatnya dalam bidang kepenulisan, menjadi motivasi dan alasannya untuk bergabung dengan Komunitas Film Montase sejak tahun 2019. Semenjak menjadi bagian Komunitas Film Montase, telah aktif menulis hingga puluhan ulasan Film Indonesia dalam situs web montasefilm.com. Prestasi besar terakhirnya adalah menjadi nominator Festival Film Indonesia 2021 untuk kategori Kritikus Film Terbaik melalui artikel "Asih, Cermin Horor Indonesia Kontemporer" bersama rekan penulisnya, Agustinus Dwi Nugroho.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.