Midnight Special (2016)

112 min|Drama, Mystery, Sci-Fi|18 Feb 2016
6.6Rating: 6.6 / 10 from 85,816 usersMetascore: 76
A father and son go on the run, pursued by the government and a cult drawn to the child's special powers.

Jeff Nichols adalah seorang sineas muda berbakat yang dikenal melalui film-filmnya, Take Shelter (2011) dan Mud (2012). Dalam film-filmnya Nichols selalu mengaburkan batasan antara benar dan salah. Midnight Special masih menggunakan tema yang sama hanya kali ini menariknya ia kemas dengan genre fiksi ilmiah.

Film ini mengawali kisahnya seolah menggiring cerita ke arah kriminal dimana seorang bocah cilik diculik oleh dua orang pria bersenjata. Situasi ternyata lebih rumit dari yang terlihat. Sang bocah, Alton, rupanya memiliki kekuatan supernatural unik yang berefek pada lingkungan sekitarnya. Sang ayah, Roy dan rekannya, Lucas, ingin membawa Alton ke ibu kandungnya, Sarah. Sementara pihak FBI mulai menginterogasi rumah ibadah tempat dimana Alton dulu tinggal karena isi ceramah sang pendeta dianggap berisi rahasia negara. Situasi berkembang menjadi serba rumit hingga diketahui Alton ternyata adalah bukan berasal dari sesuatu yang banyak diperkirakan orang.

Film ini sangat baik mengawali dan mengemasnya dengan unsur misteri tingkat tinggi yang terus menerus membuat rasa penasaran penonton terusik. Semua pihak tertarik pada Alton, sementara kita sendiri tidak tahu apa yang tengah terjadi, dan siapa sebenarnya sosok Alton. Penonton masuk pada situasi plot yang menarik dimana semua informasi hanya kita dapatkan setengah-setengah. Apakah Alton seorang utusan Tuhan, ataukah manusia biasa dengan kemampuan supernatural, ataukah ia makhluk asing? Pertanyaan semakin bermunculan sejalan dengan kemampuan supernatural yang dimiliki sang bocah diperlihatkan walau masih tak jelas untuk apa fungsinya. Unsur misteri dan rasa penasaran, dua hal ini yang membuat film ini begitu kuat di separuh awal namun sayangnya tidak untuk paruh kedua kisahnya.

Baca Juga  Siksa Kubur

Film ini jelas banyak mengingatkan pada Knowing dan Tomorrowland bahkan bisa dibilang adalah kombinasi dari keduanya. Bedanya hanya pada inti kisah dan motifnya. Dua film diatas sangat jelas arah, tujuan, serta motifnya sementara Midnigth Special masih menyisakan banyak lubang sehingga banyak menimbulkan penafsiran. Motif, sebenarnya yang masih kurang jelas di film ini sehingga pertanyaan akhir (inti) hanyalah mengapa semuanya dibuat dan untuk apa bersusah payah? Observasi pra invasi? Motif kemanusiaan atau apa entahlah. Film ini sepertinya hanya mencoba menggambarkan isu dan fenomena nabi palsu serta bagaimana banyak pihak justru menggunakan kemampuan “super” ini untuk kepentingannya masing-masing.

Midnigth Special mengawali dengan premis yang menarik serta membangun nuansa misteri dengan sangat baik namun setelah fakta penting terungkap tidak ada sesuatu yang mengejutkan lagi di film ini. Kekuatan film ini hanya ada pada separuh awal filmnya. Para pemain Michael Shannon, Joe Edgerton, Kirsten Dunst, hingga Adam Driver bermain baik namun adalah Jaeden Lieberher yang bermain sangat mengesankan sebagai sang bocah ajaib. Dalam Take Shelter, Nichols mencoba menggunakan formula yang mirip namun dengan motif dan resolusi yang kuat namun sayangnya kali ini ia gagal.

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
50 %
Artikel SebelumnyaModus
Artikel BerikutnyaThe Angry Birds Movie
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses