Bercerita tentang Mi-yeong (Ra Mi-ran) dan adik iparnya, Ji-hye (Lee Sung-kyung). Mereka merupakan polwan yang berada di satuan khusus yang berbeda, namun karena suatu hal Ji-hye dipindah tugaskan ke satuan pelayanan masyarakat tempat Mi-yeong bekerja. Suatu ketika, terdapat kasus percobaan bunuh diri di depan kantor mereka bekerja. Usut punya usut, ternyata korban mencoba bunuh diri setelah terlibat dalam sebuah rekaman video sex tersembunyi. Karena keterbatasan wewenang dan koneksi, Mi-yeong dan Ji-hye nekat untuk menangani kasus itu dan menguak siapa dalang dibalik pembuat video tersebut.

Jika kemarin, The Gangster, The Cop, The Devil bercerita tentang polisi yang bekerjasama dengan mafia untuk menangkap penjahat. Miss & Mrs. Cops kali ini bercerita tentang kakak beradik polwan yang bekerjasama untuk menangkap penjahat. Keduanya memiliki premis cerita yang hampir sama, namun pengemasannya sangat jauh berbeda. The Gangster, The Cop, The Devil mengemas filmnya dengan suasana yang lebih gelap dan menegangkan serta cerita yang lebih serius. Kontras dengan Miss & Mrs. Cops yang bersuasana cerah dan didominasi unsur komedi sepanjang filmmya.

Dominasi kaum perempuan terasa sekali dalam film ini, baik sisi drama, aksi, hingga isu seputarnya. Kisahnya juga menyinggung isu diskriminasi yang dialami oleh para perempuan terutama di lembaga kepolisian. Detektif atau polwan yang sudah menikah dan memiliki anak, dipindahtugaskan ke bagian pelayanan masyarakat atau administrasi. Lalu juga proses birokrasi yang menyulitkan untuk para korban kasus pelecehan yang mana korbannya didominasi oleh perempuan. Pada segmen klimaksnya memperlihatkan betul “girl power” ketika para polwan di lapangan dan di kantor, saling bahu membahu untuk membantu dan memonitori lokasi para pelaku kejahatan. Ini tentu mengingatkan satu segmen fenomenal dalam Avengers: End Game yang memperlihatkan para superhero perempuan dalam satu frame.

Aksi konyol kedua tokoh utamanya dengan chemistry mereka yang unik jelas menjadi hiburan tersendiri. Walau sisi humornya memang kadang sedikit berlebihan dan garing sehingga membuat penonton sedikit kehilangan momen ketegangan pada saat momen cerita berjalan serius. Para pemain pendukungnya pun juga mampu ikut meramaikan suasana, seperti si hacker, Jang-mi (Sooyoung) dan sang bos yang memang mencuri perhatian penonton. Kehadiran Sooyoung sebagai pemeran pembantu utama disini menjadi daya tarik tersendiri bagi para penggemarnya, khususnya SONE (sebutan untuk fans idol Girls’ Generation atau SNSD) yang di Indonesia sendiri memiliki fanbase yang cukup besar.

Baca Juga  Sword Art Online: The Movie - Ordinal Scale

Tema filmnya juga mengingatkan penulis pada skandal Burning Sun yang belum lama ini menjadi perbincangan hangat di dunia dan menjadi hantaman besar bagi industri hiburan di Korea Selatan. Burning Sun merupakan nama sebuah tempat hiburan milik salah satu anggota grup K-pop papan atas, Seungri ex-Big Bang. Kasus ini melibatkan banyak selebriti papan atas, para artis K-pop, hingga pejabat kepolisian di sana. Mereka didakwa atas kasus pelecehan seksual, peredaran narkoba, prostitusi, rekaman video sex tersembunyi, dan penggelapan pajak. Meski filmnya tidak ada kaitan langsung skandal Burning Sun, namun kasus semacam ini jelas membutuhkan perhatian khusus dari pemerintah dan para penegak hukum di seluruh dunia. Kasus pornografi online dan video sex tersembunyi yang semakin marak dan tentu yang paling dirugikan  adalah kaum perempuan.

Miss & Mrs. Cops selain memberi hiburan dengan segala tingkah konyol dan komedi para pemainnya, juga memberikan pesan pada generasi muda, khususnya remaja perempuan untuk berhati-hati dalam bergaul. Film ini juga mengkritik birokrasi pemerintahan yang berbelit dan mengabaikan kasus-kasus kecil yang terlihat sepele. Miss & Mrs. Cops memang tidak secara gamblang mengusung isu feminisme, seperti alasan Mi-yeong dan Ji-hye memilih untuk mengusut kasus tersebut. Bukan hanya karena mereka seorang perempuan, namun sebagai seorang penegak hukum yang ingin menegakkan keadilan.

PENILAIAN KAMI
Overall
50 %
Artikel SebelumnyaGodzilla: King of the Monsters
Artikel BerikutnyaHit & Run
Luluk Ulhasanah
Luluk Ulhasanah atau lebih akrab dipanggil EL, lahir di Temanggung 6 September 1996. Sejak kecil hobi menonton film dan menulis. Minatnya pada film membuat ia bergabung dengan Komunitas Film Montase sejak tahun 2016 dan mulai beberapa kali terlibat produksi film pendek, dan aktif menulis review film, khususnya rubrik film Asia. Pada bulan Desember 2017, ia menjadi juri mahasiswa dalam ajang festival film internasional, Jogja Asian Film Festival (JAFF Netpac) 2017. Ia juga salah satu penyusun dan penulis buku 30 Film Indonesia Terlaris 2002-2018. Kini, ia menjabat sebagai Asisten Divisi Website untuk periode 2019-2020.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.