Miss Peregrine's Home for Peculiar Children (2016)

127 min|Adventure, Drama, Family|30 Sep 2016
6.7Rating: 6.7 / 10 from 188,531 usersMetascore: 57
When Jacob (Asa Butterfield) discovers clues to a mystery that stretches across time, he finds Miss Peregrine's Home for Peculiar Children. But the danger deepens after he gets to know the residents and learns about their special …

Setelah di awal tahun lalu memproduseri Alice Through the Looking Glasses kini Tim Burton merilis film garapannya, Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children yang diambil dari novel fantasi laris berjudul sama. Tim Burton kita kenal dengan gayanya yang khas dengan sentuhan ekspresionistik. Dalam film fantasinya kali ini Burton melakukan pendekatan visual yang sama dengan mengingatkan pada film-film uniknya seperti Edward Scissorshand dan Big Fish.

Alkisah ketika sang kakek meninggal misterius, Jake bersama sang ayah pergi ke sebuah pulau kecil di Wales tempat asal usul kakeknya. Ketika menyelidiki sebuah rumah tua tempat sang kakek, Jake bertemu dengan sekelompok anak-anak misterius yang membawanya ke sebuah dunia paralel di masa lalu. Jake lalu bertemu dengan Miss Peregrine yang mengasuh anak-anak berkemampuan aneh dan ia akhirnya mengetahui jika kematian sang kakek ternyata terkait erat dengan eksistensi mereka.

Boleh jadi film ini adalah garapan Tim Burton yang teraneh dari semua karyanya. Kisahnya yang bermain-main dengan konsep ruang dan waktu jelas terlalu rumit dan kompleks untuk anak-anak bahkan penonton dewasa sekalipun. Melompat ke masa kini dan masa lalu, waktu yang berulang atau diistilahkan “loop”, hingga Ymbryne dan anak-anak asuhnya, kita tidak banyak diberi latar belakang yang cukup tentang ini. Namun fokus dan konflik cerita cukup jelas untuk membawa kita ke sebuah petualangan seru dengan visualisasi yang sangat mengagumkan.

Baca Juga  Creed II

Tidak seperti Alice in Wonderland dan sekuelnya yang visualisasinya sangat artifisial. Kali ini Burton menggunakan pendekatan CGI yang amat realistik. Hasilnya adalah sebuah sajian visual yang sangat luar biasa dari semua aspek, seperti bisa kita lihat dalam segmen kapal karam di dasar laut. Satu lagi nilai lebih film ini adalah para kastingnya yang tampil amat menawan. Eva Green bermain sangat baik dan elegan sebagai Miss Peregrine’s yang keras dan disiplin namun menyayangi semua anak asuhnya. Bahkan Samuel L. Jackson yang bermain sebagai Barron sang antagonis nyentrik pun begitu menikmati perannya. Nyaris semua kasting khususnya peran anak-anak bermain sangat baik sebagai individu maupun tim. Ilustrasi musik pun juga berperan kuat sekalipun Burton tidak berkolaborasi dengan komposer regulernya, Danny Elfman.

  Di luar kisahnya yang kompleks dan absurd, Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children adalah salah satu film terunik garapan Tim Burton dengan pencapaian visualnya yang superior. Film ini memang bukan karya terbaik Burton namun pencapaian visualnya jelas mampu membawa film ini bersaing kuat untuk kategori ini pada ajang Academy Awards tahun depan. Terbukti sentuhan dan gaya Burton memang bekerja sempurna untuk kisah-kisah bertema fantasi sejenis seperti ini.

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
80 %
Artikel SebelumnyaDeepwater Horizon
Artikel BerikutnyaAthirah
His hobby has been watching films since childhood, and he studied film theory and history autodidactically after graduating from architectural studies. He started writing articles and reviewing films in 2006. Due to his experience, the author was drawn to become a teaching staff at the private Television and Film Academy in Yogyakarta, where he taught Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut film book, "Understanding Film," was published in 2008, which divides film art into narrative and cinematic elements. The second edition of the book, "Understanding Film," was published in 2018. This book has become a favorite reference for film and communication academics throughout Indonesia. He was also involved in writing the Montase Film Bulletin Compilation Book Vol. 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Additionally, he authored the "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). Until now, he continues to write reviews of the latest films at montasefilm.com and is actively involved in all film productions at the Montase Film Community. His short films have received high appreciation at many festivals, both local and international. Recently, his writing was included in the shortlist (top 15) of Best Film Criticism at the 2022 Indonesian Film Festival. From 2022 until now, he has also been a practitioner-lecturer for the Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts in the Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.