Mission: Impossible - Dead Reckoning Part One (2023)
163 min|Action, Adventure, Thriller|12 Jul 2023
7.7Rating: 7.7 / 10 from 252,044 usersMetascore: 81
Ethan Hunt and his IMF team must track down a dangerous weapon before it falls into the wrong hands.

Mission Impossible: Dead Reckoning Part 1, gaungnya sudah kita dengar sejak era Covid beberapa tahun silam. Film ini merupakan seri ke-7 dari franchise-nya sekaligus merupakan sekuel dari Mission: Impossible – Fallout (2017). Film ini diarahkan kembali oleh Christopher McQuarrie yang juga menggarap seri keenam dan ketujuh. Dead Reckoning Part 1 kembali dibintangi para kasting regulernya, yakni Tom Cruise, Simon Pegg, Ving Rhames, Rebecca Ferguson, serta kini didampingi oleh Hayley Atwell, Esai Morales, Vanessa Kirby, Pom Klementieff, dan Henry Czerny. Akankah seri terbarunya ini mampu menawarkan aksi yang lebih heboh?

Sebuah teknologi super canggih AI (artificial Intelegence) berinisial The Entity lepas kendali dan mengancam segala aspek di dunia atas kehendaknya sendiri. Konon ada dua buah kunci (secara literal benar-benar sebuah kunci) yang mampu mengontrol The Entity. Semua pihak, kini mengincar dua kunci tersebut. Ethan (Cruise) dan dua rekan loyalnya, Luther (Pegg) dan Luther (Rhames) menerima misi rahasia untuk merebut dua kunci tersebut. Dalam aksinya, Ethan pun bersinggungan dengan banyak pihak yang berhubungan dengan masa lalunya, seperti Elsa (Ferguson), mantan bosnya Eugene Kittridge (Czerny), rival lamanya Gabriel (Morales), serta pula seorang pencuri bernama Grace (Attwell).

Seperti formula plot seri sebelumnya, kisahnya tidak jauh dari seorang megalomaniak yang ingin menguasai dunia dengan teror nuklir, virus, atau apa saja. Bedanya, dari plot bagian pertama ini, sosok antagonisnya adalah sebuah AI, kecerdasan buatan super canggih yang tujuan utamanya pun masih tak jelas. Lupakan sejenak sang entitas digital ini. Poin utama kisahnya kali ini adalah “rebutan” kunci. Ya, hanya dua buah kunci yang membuat semua pihak saling menjegal dengan cara apa pun. Saling jegal banyak pihak ini yang memicu aksi-aksi heboh yang menjadi trademark serinya.

Sebelum membahas aksi-aksi nonstopnya, lantas bagaimana plotnya sendiri? Selain penggunaan tipikal formula serinya, tampak sekali naskah film ini terlalu dipaksakan durasinya dengan tempo plot yang lambat dalam beberapa segmen. Bagi yang tahu betul semua serinya terdahulu, beberapa pengadeganan terasa sekali berlama-lama dengan adegan dialog yang tak perlu. Satu lagi catatan besar adalah arah kisahnya yang terlalu mudah diantisipasi sekalipun sepanjang kisahnya kita dijejali informasi baru. Bagi penikmat serinya, bisa jadi tak sulit untuk menerka sosok penting yang akan “dihilangkan” (entah ini sungguhan atau sebuah twist?). Satu lagi yang hilang dari kisah serinya kali ini adalah sisi ancaman yang kini tak lagi menggigit. Tak ada ancaman yang kuat berarti tak ada intensitas ketegangan. Apa iya? Tidak ada yang peduli dengan kunci-kunci terkutuk itu selama aksi-aksi heboh disajikan.

Baca Juga  Black Panther: Wakanda Forever

Kini bicara aksi. Sisi adegan non-aksinya serasa hanya sebagai transisi dari segmen aksi ke segmen aksi berikutnya. Segmen aksi adalah satu-satunya faktor yang membuat kita tak terlelap sewaktu menonton.  Ethan Hunt, eh Tom Cruise, nyaris separuh aksinya hanya berlari dan berlari, seperti kita tahu sudah menjadi trademark film sang bintang. Aksi yang paling mengesankan adalah aksi kejar-mengejar di jalanan kota Roma. Sekuen ini jauh lebih berkelas daripada Fast X dan John Wick 4 baru lalu, serta lebih baik dari seri-seri MI sebelumnya. Segmen klimaks di gerbong kereta api uap menjelang penutup pula disajikan mengesankan dan menegangkan. Dalam beberapa momen terasa sebagai tribute seri pertamanya (di atas kereta api cepat TGV). Sementara aksi heboh yang justru digembar-gemborkan di media sosial, yakni terjun bebas ke jurang menggunakan motor malah terasa biasa saja.

Satu hal yang segar dalam serinya kali ini adalah chemisty Ethan Hunt dengan Grace yang diperankan menawan oleh Hayley Atwell. Berbeda dengan chemistry tarik ulur seri sebelumnya dengan sosok Elsa yang super serius, Grace membuat film ini bernuansa romcom. Banyak selipan humor ketika sosok Grace on-screen, baik dialog maupun segmen aksi. Hubungan Ethan dengan dua sosok perempuan lainnya, yakni Allana (Kirby) dan Paris (Klementieff) juga memiliki chemistry-nya tersendiri. Sejak seri pertama, sosok perempuan di sekitar Ethan memang bak kryptonite bagi dirinya. Uniknya, tidak pernah tampak adanya hubungan yang lebih intim layaknya James Bond dengan para Bond Girl-nya.

Dengan segala aksi Mission Impossible: Dead Reckoning Part 1 yang memesona, tak akan ada yang peduli dengan formula kisahnya yang template dan mudah diantisipasi. Pertanyaan besarnya sekarang, dengan sisa kebesaran nama Tom Cruise (sukses Top Gun:Maverick) dengan segala aksi-aksi hebohnya, apakah Dead Reckoning Part 1 bisa lepas dari kutukan “flop-buster” yang kini menjadi tren. Dengan bujet USD 290 juta (lazimnya belum bea marketing) setidaknya butuh 2,5 – 3x lipat untuk balik modal. Film-film blockbuster yang baru saja rilis, macam Transformers: Rise of the Beast, The Flash, Elemental, dan terakhir Indiana Jones 5 mengalami masa terburuk sepanjang sejarah box-office. Mampukah Mission Impossible ketujuh ini menuntaskan misi tak masuk akal dalam sektor box-office? Raihan internasional bakal menjadi kunci. Kita lihat saja dalam minggu-minggu mendatang.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
70 %
Artikel SebelumnyaAditya Chopra
Artikel BerikutnyaThe Roundup: No Way Out
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.