Mission: Impossible - Fallout (2018)
147 min|Action, Adventure, Thriller|27 Jul 2018
7.7Rating: 7.7 / 10 from 380,726 usersMetascore: 86
Ethan Hunt and his IMF team, along with some familiar allies, race against time after a mission gone wrong.

Sebagai pesaing berat seri Bond, seri Mission: Impossible selalu menggunakan formula aksi berbeda walau tak pernah sesukses komersial Bond. Walaupun begitu, sejak seri pertama (1996) hingga kelima (2015), seri film ini masih belum terlihat mengendur, padahal usia sang bintang semakin menua. Untuk keenam kalinya, Tom Cruise bermain sebagai Ethan Hunt, juga menandai kolaborasi ketiganya bersama sang sutradara, Christopher McQuarrie. McQuarrie juga sering kali menulis naskah film-film yang dimainkan Cruise, seperti Jack Reacher, Edge of Tomorrow, serta dua seri Mission: Impossible. Selain Cruise, Mission:Impossible Fallout kembali mengkasting bintang regulernya, yakni Ving Rhames, Simon Pegg, serta Rebecca Ferguson, dan bintang pendatang baru, Henry Cavill.

Alkisah dua tahun setelah Ethan menangkap otak komplotan Syndicate, Solomon Kane, dunia kini berubah menjadi lebih anarkis yang didalangi para pendukung Kane yang dikenal sebagai Apostle. Kelompok ini ingin menghancurkan tatanan dunia modern dengan menggunakan bom nuklir dibawah kontrol seorang misterius bernama John Lark. Perburuannya terhadap sosok Lark, membawa Ethan dan timnya masuk ke dalam situasi rumit dengan beberapa pihak yang berkepentingan, seperti CIA, MI:6, kelompok makelar senjata, hingga Apostle sendiri.

Lazimnya, plot Mission: Impossible tak pernah banyak intrik berkepanjangan yang rumit, namun kali ini disajikan sungguh berbeda dengan tempo plot yang cepat. Hingga 2/3 dari durasi 147 menit, kita bahkan tak tahu apa yang sesungguhnya terjadi, dan tak tahu persis mana lawan dan mana kawan. Ini hanya skema atau memang ini terjadi sungguhan? Sulit untuk diprediksi. Ini adalah satu hal baru dalam seri ini dan rasa penasaran membuat waktu tak terasa lewat sudah begitu lama. Sepertiga durasi berikutnya, kembali ke formula biasa, yang terlihat jelas filmnya mau mengarah ke mana dengan klimaks formula aksi standar seri ini dengan plus sedikit kejutan.

Baca Juga  Bumblebee

Satu hal yang agak mengganjal pada 2/3 awal, adalah plotnya yang memang kelewat kompleks. Kita hanya bisa mengikuti jagoan kita beraksi tanpa tahu persis apa yang melatarbelakangi semua. Semua serba tak jelas dan herannya pula, serba kebetulan. Terlalu banyak hal yang amat kebetulan di film ini. Jika memang ini sebuah skema, huff, rasanya mustahil karena terlalu banyak variabel yang membuat segala sesuatu bisa berubah. Hei, judul filmnya juga misi yang mustahil bukan? Bisa jadi saya butuh menonton sekali lagi.

Satu hal yang mengesankan dalam film ini adalah jelas segmen aksinya. Sinematografi dan ilustrasi musik adalah dua faktor pendukung yang membuat film ini begitu megah layaknya seri Bond. Benar, saya seperti melihat film Bond ketimbang seri M:I. Kombinasi sudut pengambilan gambar, musik, serta aksi non-CGI, membuat segalanya terasa lebih nyata, terasa berbeda dengan seri-seri sebelumnya. Walau aksi udara di segmen klimaks disajikan amat menawan, namun aksi kejar-mengejar di kota masih favorit saya.

M:I Fallout masih menggunakan formula cerita sama yang kini dikemas kompleks dengan pencapaian teknisnya yang mengagumkan, khususnya segmen aksinya. Cruise, Rhames, Pegg, dan Ferguson kembali bermain sangat meyakinkan seperti seri sebelumnya. White Widow, sang putri dari tokoh Max (seri pertama) yang dibintangi Vanessa Kirby juga mencuri perhatian dengan pesona dan aksinya. Tim M:I impian ini jelas bakal muncul untuk seri berikutnya kelak. Tak bisa dipungkiri, walau seri film ini telah jauh keluar dari pakem seri televisinya, namun seri keenam ini telah mencoba berbeda dan membuatnya semakin dekat dengan rival beratnya, James Bond.

WATCH TRAILER

 

PENILAIAN KAMI
Overall
80 %
Artikel SebelumnyaRaja, Ratu dan Rahasia
Artikel BerikutnyaInuyashiki
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.