Movie-Poster
Movie Poster

Sutradara: Christopher Mc Quarrie
Produser: Tom Cruise/J.J. Abrams/Bryan Burk/David Ellison/Dana Goldberg/Don Granger
Penulis Naskah: Christopher Mc Quarrie
Pemain: Tom Cruise/Rebeca Ferguson/Jeremy Renner/Simon Pegg/Vhing Rhames/Edd Harris
Sinematografi: Robert Elswit
Editing: Eddie Hamilton
Ilustrasi Musik: Joe Kraemer
Studio: Skydance Pictures/TC Productions/Bad Robot Productions
Distributor: Paramount Pictures
Durasi: 131 menit
Bujet: US$ 150 juta

Sejak seri pertama, Mission Impossible selalu menawarkan sebuah aksi spionase dengan penekanan pada unsur ketegangan serta usaha kerja tim, tidak seperti seri Bond atau Bourne yang bekerja lebih individual. Seri pertama tercatat yang paling mendekati seri tv-nya namun sejak seri keempat, Ghost Protocol, seri ini menampilkan aksi lebih spektakuler yang menegangkan untuk mendukung aksi timnya. Mission Impossible – Rogue Nation menggunakan formula sama dengan seri keempat namun dengan sedikit sentuhan seri pertama. Plotnya semua seri hingga sekarang nyaris sama: sebuah misi mustahil yang berjalan diluar rencana.

Ethan dan kawan-kawan kali ini berhadapan dengan sebuah organisasi rahasia yang bernama Syndicate yang secara terstruktur bertujuan untuk membuat dunia kacau balau. IMF dibubarkan dan diambil-alih oleh CIA dan Ethan yang mengetahui keberadaan Syndicate justru menjadi buronan CIA. Dalam usahanya mengungkap organisasi tersebut Ethan selalu ditolong oleh agen wanita misterius bernama Ilsa. Apa yang menjadi pembeda seri kelima ini? Jawabnya hanya karakter Ilsa.

Secara umum plotnya tidak menampilkan sesuatu yang baru. Kisahnya ada kemiripan film Bond, Quantum of Solace, hanya bedanya skala cerita Rogue Nation lebih terbatas dan sempit. Syndicate tidak mengesankan sebuah organisasi besar dengan orang-orang di dalamnya hanya itu-itu saja. Hal yang sama juga berlaku untuk IMF, seolah hanya Ethan dan timnya saja yang beraksi tanpa bantuan agen lain untuk masalah sebesar ini. Dalam seri Bond, Skyfall, MI6 juga hancur namun sisa-sia kekuatan organisasi masih tampak, bukan secara individual seperti tampak pada Rogue Nation, seolah IMF hanya dipegang oleh Brandt (Renner). Ini menjadi satu masalah kecil filmnya.

Sejak seri pertama hingga keempat kita telah disuguhi banyak plot dan twist yang mengejutkan namun pada Rogue Nation semua ini tidak tampak. Pengembangan cerita dan twist tidak terlalu sulit diprediksi bagi penonton yang sudah mengerti benar seri ini. Proses menjadi penting karena semua orang sudah tahu hasil akhirnya seperti apa. Kita semua tahu Ethan pasti akan ke luar dari masalah namun prosesnya yang membuat semua menjadi berbeda. Masalah ini sebenarnya sudah tampak pada Ghost Protocol namun aksi-aksi yang sangat menegangkan menutup semua kelemahan ini. Dalam Rogue Nation, semuanya terlalu mudah untuk diprediksi menjadikan aspek ketegangan cerita menjadi minim.

Baca Juga  Mr. Harrigan’s Phone

Hubungan tarik-ulur antara Ethan dan Ilsa memang menjadi daya tarik film ini. Sosok Ilsa  yang misterius tidak jelas ia berpihak siapa atau dimanfaatkan siapa, sebenarnya bisa menjadi kekuatan cerita jika diekplorasi lebih jauh. Chemistry yang terjalin antara Ethan dan Elsa sudah ditampilkan sangat baik oleh Cruise dan Ferguson. Pengungkapan karakter Elsa terlalu dini membuat pengembangan cerita menjadi kurang menarik dan plot menjadi mudah diprediksi. Syndicate dengan otak brilyan dibelakangnya mestinya sudah bisa membaca situasi dan bisa mengantisipasi ini sejak awal bukannya malah memberi kepercayaan berlarut-larut pada Ilsa. Mengapa pula Syndicate tidak membunuh Ethan sejak awal?

Kelemahan cerita kali ini tidak mampu diangkat oleh adegan aksinya seperti halnya Ghost Protocol. Kita semua tahu bom nuklir misil di klimaks cerita (Ghost Protocol) tidak akan meledak di tengah kota dan menewaskan jutaan orang namun prosesnya hingga detik-detik akhir melalui sajian aksi menegangkan oleh semua anggota tim amat sangat membangkitkan adrenalin penonton. Ini sama sekali tidak tampak pada Rogue Nation pada adegan-adegan aksinya. Satu adegan khas seri ini, yakni “membobol sistem pengamanan maksimal”, kali ini tidak ada gregetnya sama sekali. Di adegan yang sama dalam Ghost Protocol, ketika Ethan memanjat gedung Burj Khalifa di Dubai, sekali lagi kita sudah tahu hasilnya namun adegan aksinya hingga akhir mampu membuat penonton melupakan untuk sesaat jika Ethan pasti selamat. Kunci memang ada pada sajian adegan aksinya, walau adegan kejar motor harus diakui disajikan sangat baik dan menghibur dengan sudut-sudut kamera yang menarik oleh sinematografer kawakan, Robert Elswit.

Tidak seperti Ghost Protocol, seri kelima ini lebih mengutamakan banyak adegan dialog dan aksi konvensional seperti pada seri pertama. Mission Impossible – Rogue Nation memang menawarkan beberapa (baca:sedikit) adegan aksi spektakuler, sinematografi menawan, serta chemistry menarik antara Ethan (Cruise) dan Ilsa (Ferguson) namun tidak ada lagi sesuatu yang baru dalam seri ini dan yang paling menyedihkan adalah tidak adanya unsur ketegangan karena pengembangan cerita dari waktu ke waktu tidak sulit untuk ditebak. MI: 5 adalah sebuah drama politik dengan misi yang tidak lagi mustahil. Film ini tapi masih membuktikan karir panjang Tom Cruise yang belum memudar dan jaminan kelanjutan seri ini.

MOVIE TRAILER

PENILAIAN KAMI
Total
60 %
Artikel SebelumnyaBaahubali Pecahkan Rekor Guinness World
Artikel BerikutnyaTom Cruise Siap Beraksi dalam M:I 6
His hobby has been watching films since childhood, and he studied film theory and history autodidactically after graduating from architectural studies. He started writing articles and reviewing films in 2006. Due to his experience, the author was drawn to become a teaching staff at the private Television and Film Academy in Yogyakarta, where he taught Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut film book, "Understanding Film," was published in 2008, which divides film art into narrative and cinematic elements. The second edition of the book, "Understanding Film," was published in 2018. This book has become a favorite reference for film and communication academics throughout Indonesia. He was also involved in writing the Montase Film Bulletin Compilation Book Vol. 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Additionally, he authored the "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). Until now, he continues to write reviews of the latest films at montasefilm.com and is actively involved in all film productions at the Montase Film Community. His short films have received high appreciation at many festivals, both local and international. Recently, his writing was included in the shortlist (top 15) of Best Film Criticism at the 2022 Indonesian Film Festival. From 2022 until now, he has also been a practitioner-lecturer for the Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts in the Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.