Moana (2016)

107 min|Animation, Adventure, Comedy|23 Nov 2016
7.6Rating: 7.6 / 10 from 376,591 usersMetascore: 81
In ancient Polynesia, when a terrible curse incurred by the demigod Maui reaches Moana's island, she answers the Ocean's call to seek out Maui to set things right.

Walt Disney Animation Studios yang sebelumnya sukses besar dengan Tangled, Frozen, dan Zootopia kali ini kembali menampilkan sosok putri yang unik dengan latar budaya Polinesia melalui Moana. Moana digarap oleh Ron Clements dan John Musker dibintangi oleh aktor papan atas Dwayne Johnson. Mampukah akhirnya Walt Disney Animation Studios melalui film ini menyaingi superioritas film-film produksi Studio Pixar? Sungguh saya berharap jawaban: Ya.

Seribu tahun silam di perairan Polinesia, jantung Dewi pemberi kehidupan, Te Fiti, dicuri oleh Maui, manusia setengah dewa. Aksi ini menimbulkan kutukan yang menyebarkan kegelapan ke seluruh alam. Jauh masa setelahnya, putri Moana hidup bahagia di sebuah pulau bersama ayah, ibu dan seluruh warga sukunya. Moana merasa ada sesuatu yang hilang dalam hidupnya hingga akhirnya kegelapan pun datang ke pulaunya. Ia bertekad untuk mencari Maui dan membantunya untuk mengembalikan jantung Te Fiti ke asalnya.

Sejak awal pembuka filmnya nuansa lokal sudah terasa kental dengan suguhan visual yang luar biasa indah. Suguhan satu nomor lagu di awal membuka mood filmnya dengan sangat baik. Nuansa mistik pun menambah sentuhan lokal semakin kuat ketika Moana cilik yang dipandu oleh “ombak (baca: semesta)” berjalan ke tengah pantai untuk menemukan batu hijau, jantung Te Fiti. Adegan ini sungguh mampu membuat bergidik. Kisah pun terus berjalan dan Moana tumbuh menjadi gadis yang lincah dan cerdas namun tetap ada sesuatu yang hilang dalam dirinya. Selebihnya tak sulit memprediksi apa yang terjadi selanjutnya, seolah kita bakal menghadapi sebuah petualangan amat seru bersama sang putri.

Baca Juga  Zom 100: The Bucket List of the Dead

Apa yang terjadi selanjutnya justru sungguh diluar dugaan. Setelah pertempuran amat seru a la Mad Max: Fury Road dengan para bajak laut, entah mengapa sisi dramatik cerita justru malah menurun. Rasa bosan lambat laun mulai melanda. Nuansa mistik yang diawal terasa begitu kuat justru dirusak sendiri oleh adegan-adegannya yang terlalu berlebihan. Satu adegan ketika Moana yang dilempar berkali-kali ke luar kapal oleh Maui, berkali-kali pula kembali diangkat naik ke kapal oleh “ombak” terasa amat konyol. Pertemuan dengan karakter baru juga tidak menambah cerita menjadi menarik. Klimaks pun terasa kurang menggigit walau tertolong dengan adegan penutup yang manis.

Moana memiliki pencapaian visual serta musik tema lokal yang mengagumkan namun sayangnya tidak mampu menjaga tangga dramatik cerita serta elemen mistis yang dibangun sejak awal. Penggunaan elemen lokal dalam beberapa aspeknya, khususnya lagu dan musik, adalah kekuatan terbesar film ini. Jika dibandingkan dengan kisah putri tangguh sejenis macam The Little Mermaid,  Mulan, serta Tangled, Moana memang masih satu level dibawah. Secara kualitas film-film produksi Pixar memang masih unggul namun kemungkinan tidak secara komersil. Dengan pesonanya Moana harus diakui pasti bakal menghibur penonton keluarga khususnya anak-anak.

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
70 %
Artikel SebelumnyaUnder the Shadow
Artikel BerikutnyaRumah Malaikat
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.