Mortal Engines (2018)
128 min|Action, Adventure, Fantasy|14 Dec 2018
6.1Rating: 6.1 / 10 from 140,877 usersMetascore: 44
In a post-apocalyptic world where cities ride on wheels and consume each other to survive, two people meet in London and try to stop a conspiracy.

Mortal Engines merupakan film aksi fiksi ilmiah berlatar era post-appocalyptic, adaptasi dari novel berjudul sama yang disutradarai oleh Christian Rivers. Rivers adalah juga sohib sineas kawakan, Peter Jackson, yang biasanya menangani efek visual dalam film-film karya Jackson. Istimewanya, Mortal Engines adalah karya debut dari Rivers sehingga tak heran film ini sarat dengan efek visual. Jackson sendiri bertindak sebagai produsernya. Film ini dibintangi oleh aktor senior Hugo Weaving serta beberapa aktor-aktris muda pendatang baru, seperti Hera Hilmar, Robert Sheehan, serta Jihae. Dengan bermodal bujet sebesar US$ 100 juta dan Peter Jackson sebagai produser, apakah film ini mampu bersaing dengan karya-karya film fantasi besarnya, sebut saja Trilogi The Lord of the Rings?

Alkisah ratusan tahun ke depan, planet bumi mengalami kehancuran luar biasa akibat senjata pemusnah masal yang memiliki daya hancur luar biasa. Sedikit dari penghuni bumi yang bertahan hidup kini harus berjuang memperebutkan sumber daya yang semakin menipis. Sebuah kota dibangun di atas sebuah mesin raksasa yang bisa bergerak ke mana pun, mencari mangsanya, yakni kota-kota yang lebih kecil untuk diambil semua cadangan sumber dayanya.

Sejak pembuka film, kisahnya dibuka dengan satu segmen aksi yang secara visual amat sangat mencengangkan. Sebuah kota ternyata adalah layaknya sebuah “tank raksasa” yang bisa bergerak sangat cepat. Aksi kejar-mengejar ala Mad Max antara satu kota kecil dan kota “London” disajikan sangat luar biasa. Sebuah sajian visual yang rasanya belum pernah ditemui dalam medium film. Lantas setelahnya apa? Semua serba melelahkan karena sajian aksi dan efek visual yang begitu dominan, cepat, dan tanpa jeda. Ini membuat mata dan pikiran menjadi teramat capek. Tak ada drama yang cukup untuk membuat kita bisa masuk ke dalam kisahnya. Tak ada sisipan humor yang mampu membuat kita tertawa. Nyaris tak ada simpati untuk setiap tokoh utama dalam kisahnya. Semua serba mekanik, tak berjiwa.

Baca Juga  The Age of Adaline

Amat disayangkan, dengan potensi latar cerita dan genrenya, rasanya film ini bisa berbicara lebih dalam serta relevan dengan masalah planet bumi masa kini. Bahkan berbicara isu lingkungan pun tidak. Saya tidak mempertanyakan isi novelnya, namun konteks kisah filmnya saja. Di dunia yang serba ekstrem, minim sumber daya alam, populasi manusia yang sedikit, serta teknologi canggih yang mereka miliki, mengapa sang antagonis tidak berpikir untuk saling bekerja sama, namun justru saling menguasai dan menghancurkan? Untuk apa coba dan apa untungnya? Entahlah, mungkin saya melewatkan sesuatu atau memang latar kisahnya tak dijelaskan secara utuh.

Mekanik dan tak berjiwa, Mortal Engines mengabaikan potensi genre, tema, dan konsep cerita yang tergilas oleh gemerlap efek visualnya yang begitu mengesankan. Bicara soal efek visual memang tak perlu komentar lagi karena semua disajikan sangat menawan. Bujet produksi sebesar ini, lebih dari separuhnya rasanya habis untuk efek visual dan tata artistik. Imajinasi yang begitu liar dalam kisah novelnya sepertinya lebih cocok jika disajikan melalui medium animasi atau anime. Satu hal menarik yang paling mengejutkan dalam film ini hanyalah pada satu momen saja, dan ini yang bisa membuat seisi bioskop tertawa lepas, yakni Kevin dan Bob.

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
60 %
Artikel SebelumnyaWengi: Anak Mayit
Artikel BerikutnyaSesuai Aplikasi
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.