Disarankan untuk menonton serinya terlebih dulu.

Moving adalah seri produksi Korea Selatan arahan Park In-je yang dirilis Disney + beberapa bulan lalu. Film bergenre drama superhero ini dibintangi sederetan pemain-pemain ternama, antara lain Ryu Seung-ryong, Han Hyo-joo, Zo In-sung, Cha Tae-hyun, Ryoo Seung-bum, Kim Sung-kyun, Lee Jung-ha, Go Youn-jung, serta Kim Do-hoon. Seri panjang bertotal 20 episode ini berdurasi rata-rata 45 menit. Film ini juga diadaptasi dari Webtoon bertitel sama karya Kang do-young. Akankah seri panjang superhero ini menawarkan sesuatu yang baru?

Bukan hal mudah meringkas seri teramat panjang ini hanya dalam beberapa kalimat. Kisahnya yang kompleks serta memiliki latar waktu dan tokoh yang beragam menjadi penyebab. Secara umum, kisahnya dapat digambarkan sebagai berikut:

Dikisahkan beberapa gelintir orang di wilayah Korea Selatan rupanya memiliki kekuatan super sejak lahir. Mereka ini lantas dikumpulkan dan bekerja dalam sebuah lembaga rahasia negara yang misi mereka adalah melindungi dari bahaya laten negara tetangga mereka (Korut). Masa bergulir, organisasi ini akhirnya runtuh dan para agennya berpencar dan bersembunyi mencoba berbaur menjadi warga biasa hingga sekarang. Beberapa di antara mereka bahkan memiliki putra dan putri yang mewarisi kemampuan super orang tua mereka. Negara melalui lembaga rahasia masih berusaha memantau mereka secara diam-diam dengan memasukkan mereka ke SMU khusus. Namun di saat yang sama, negara rival mereka di Utara, rupanya memiliki agenda terselubung untuk melenyapkan para agen super yang tersisa beserta semua turunan mereka.

Moving adalah seri yang jika dibuat film panjang setidaknya bisa untuk belasan film karena varian kisahnya yang kompleks dengan belasan karakter utama. Rentang waktunya pun sangat luas mencakup beberapa dekade sejak era silam hingga kini. Kisahnya disajikan bergantian antara masa silam dan masa kini, lengkap dengan eksposisi (latar cerita) untuk nyaris semua karakter utamanya. Plotnya pun mengkombinasi beberapa genre besar sekaligus, yakni drama, aksi, superhero, roman, gangster/kriminal, komedi, hingga spionase. Hal ini langka kita dapatkan dalam film-film superhero umumnya.

Plot serinya juga tidak disajikan runtut (linier), namun dipotong beberapa segmen kilas balik (bahkan bisa 1-2 episode penuh) untuk menjelaskan satu-dua sosok karakternya. Kadang jika kurang jeli, kita bakal kehilangan alur kisahnya karena saking banyaknya kilas balik dalam tiap episodenya. Bahkan menjelang hingga pada momen klimaks, selipan kilas-balik ini justru terasa menganggu dan memotong mood yang tengah panas-panasnya. Seringkali ini membuat tak nyaman karena memotong kisahnya begitu saja, di tengah-tengah adegan seru. Bagi bentuk seri ini adalah sebuah pemakluman besar walau sulit ditolerir.

Aspek superhero jelas menjadi inti pemantik alur kisahnya. Sisi superhero digambarkan melalui kekuatan super tiap karakternya yang tak asing bagi kita, seperti tenaga super, berlari cepat, terbang, mata dan pendengaran super, kontrol terhadap listrik, hingga kemampuan untuk memulihkan luka tubuh. Ini tak jauh dari sosok superhero DC dan Marvel yang sudah kita kenal dengan baik. Beberapa karakter bahkan memiliki kekuatan kombinasi di antaranya. Batasan kekuatan super kadang tak jelas dan sulit untuk diukur. Misal saja, jika satu karakter mampu terbang atau dapat memulihkan luka, apakah ia lantas juga kuat secara fisik? Sosok Wolverine tentunya tak sekuat Superman yang kebal terhadap apa pun. Lantas darimana sebenarnya mereka mendapatkan kekuatan super tersebut (khususnya para orangtua)? Ini tidak ada penjelasan sama sekali. Ya, ini memang bukan fokus kisahnya.

Baca Juga  Lookism

Unsur roman adalah paling dominan dalam plotnya. Lebih dari separuh plot serinya adalah berisi hubungan romantis antara satu tokoh dengan tokoh lainnya, yakni Lee Mi-hyun dengan Kim Doo-sik, Ju-won dengan Ji-hee, lalu Bong-seok dengan Hui-soo. Semua disajikan dengan begitu manis dan hangat melalui kisahnya yang memiliki beragam latar waktu. Namun yang mencuri perhatian tentunya adalah kisah asmara antara orang tua Bong-seok, Lee Mi-hyun dengan Kim Doo-sik yang disajikan melalui proses pendekatan yang teramat unik. Jika kisah ini disajikan dalam satu film panjang bakal menjadi satu film roman yang menarik dan segar. Sementara sisanya, di luar tiga subplot utama di atas adalah penggalan kisah drama dari tiap karakternya yang juga disajikan baik dan beberapa di antaranya pun cukup menyentuh.

Bicara soal kasting rasanya ada dua sosok karakter yang mencuri perhatian, yakni ibu Bong-seok, Lee Mi-hyun yang diperankan Han Hyo-joo serta ayah Hui-soo, Ju-won yang diperankan Ryu Seung-ryong. Kedua pemain senior ini bermain lugas dengan varian peran yang beragam sepanjang kisahnya. Mereka bermain rangkap, sebagai orang tua (masa kini) dan pasangan muda-mudi (masa lalu). Chemistry keduanya dalam masing-masing perannya (masa kini dan silam) disajikan dengan amat meyakinkan. Ini jarang sekali kita lihat dalam film-film bertipe sejenis. Para kasting lainnya pun tidak bermain buruk. Film feature atau seri Korea Selatan memang jarang sekali luput untuk aspek yang satu ini.

Tak lengkap jika untuk genrenya kita tidak membahas pencapaian aksi dan efek visual. Walau tentu tak selevel film-film Marvel dan DC, namun untuk kelasnya (serial) efek visualnya terbilang istimewa. Dengan beragam kisah dan setting masa silam dan masa kini yang mengesankan, efek visualnya mampu disajikan begitu meyakinkan, khususnya segmen klimaks di sekolah yang menghebohkan. Semua proses cerita yang begitu panjang akhirnya dipusatkan pada satu segmen klimaks yang amat menegangkan dengan ragam efek visual dalam tiap adegan aksinya. Adegan pertarungan di udara, perkelahian satu lawan satu, hingga aksi perkelahian brutal, semua disajikan dengan memesona. Moving adalah satu paket aksi yang lengkap yang tidak akan kita dapati dalam film-film superhero barat sekali pun.

Moving adalah seri unik yang mengeksplorasi genre superhero melalui sisi drama, roman, dan aksi dengan gayanya yang unik. Satu-satunya kelemahan sekaligus kekuatan kisahnya adalah durasinya yang teramat panjang. Film berdurasi panjang (feature) jelas tak akan mampu menangkap belasan subplot dan karakter yang demikian kompleks. Sejauh ini, Moving adalah salah satu seri superhero terbaik yang pernah diproduksi melalui setting, latar budaya, hingga segala pencapaian teknisnya. Jika saja diproduksi studio barat, bisa jadi, seri sepanjang ini akan dibuat beberapa musim. Sesuatu hal yang hanya mampu dilakukan industri film di Korea Selatan. Apa pun yang dibuat Hollywood, mereka mampu membuatnya lebih baik. Mereka kini ada pada tahapan level yang mampu memproduksi film apa pun yang mereka mau.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
90 %
Artikel SebelumnyaBudi Pekerti
Artikel BerikutnyaBodies
His hobby has been watching films since childhood, and he studied film theory and history autodidactically after graduating from architectural studies. He started writing articles and reviewing films in 2006. Due to his experience, the author was drawn to become a teaching staff at the private Television and Film Academy in Yogyakarta, where he taught Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut film book, "Understanding Film," was published in 2008, which divides film art into narrative and cinematic elements. The second edition of the book, "Understanding Film," was published in 2018. This book has become a favorite reference for film and communication academics throughout Indonesia. He was also involved in writing the Montase Film Bulletin Compilation Book Vol. 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Additionally, he authored the "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). Until now, he continues to write reviews of the latest films at montasefilm.com and is actively involved in all film productions at the Montase Film Community. His short films have received high appreciation at many festivals, both local and international. Recently, his writing was included in the shortlist (top 15) of Best Film Criticism at the 2022 Indonesian Film Festival. From 2022 until now, he has also been a practitioner-lecturer for the Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts in the Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.