Mumon: The Land of Stealth (2017)

120 min|Action, Romance|01 Jul 2017
7.5Rating: 7.5 / 10 from 1,959 usersMetascore: N/A
What is the only thing that can stand in the way of a ruthless warlord after total domination of a country? Ninjas. When ninja Mumon kills another fierce ninja in order to claim a reward …

Mumon: The Land of Stealth adalah film aksi-komedi Jepang ber-setting sejarah yang disutradarai oleh Nakamura Yoshihiro, film ini merupakan adaptasi novel dengan judul yang sama karya Wada Ryou. Ada pula adaptasi serial manga oleh majalah Gessan sejak tahun 2009 hingga 2011. Film ini mengambil setting era Sengoku dan mengambil fokus pada cerita fiksi yang terjadi pada saat perang Tensho Iga. Dibintangi oleh Ohno Satoshi, Ishihara Satomi, Suzuki Ryohei, Iseya Yusuke, Chinen Yuri, Denden, Taira Yuna, dan Kunimura Jun.

Oda Nobunaga adalah seorang panglima perang yang dengan cepat menaklukan musuh-musuhnya dalam usaha untuk menyatukan negara di bawah pemerintahannya. Namun, ada satu wilayah yang membuat Nobunaga takut yaitu Provinsi Iga, rumah para Ninja Iga, yang dikenal sebagai senjata perang yang luar biasa karena berperilaku layaknya hewan buas dan membunuh siapapun demi uang. Mumon adalah seorang Ninja Iga yang dikenal sebagai pembunuh bayaran terkuat. Ia hidup hanya untuk mencari uang demi bisa menikah dengan gadis yang diculiknya, Okuni. Pada saat yang sama, seorang ninja bernama Shimoyama Heibee merasa kecewa dengan cara hidup orang-orangnya dan ia memutuskan untuk pergi ke wilayah Ise untuk meminta pertolongan Oda Nobukatsu, putra Nobunaga, untuk membunuh semua Ninja Iga beserta ketamakan mereka akan harta.

Opening filmnya dibuka dengan baik, melalui narator diperkenalkan sosok ninja di Iga dengan segala perilaku mereka yang lebih mementingkan diri sendiri dan harta mereka, serta memperlakukan nyawa orang seperti halnya mainan anak kecil. Uang adalah sumber kehidupan para Ninja Iga, kematian menjadi hal yang wajar bahkan mereka rela membunuh orang terdekat selama ada uang. Di awal film, tokoh Mumon berperan sebagai pengantar cerita dan tidak memiliki peran penting. Bahkan penonton sempat dibuat merasakan simpati pada karakter Nobukatsu sebagai seorang pemuda yang merasa tertekan karena pandangan orang-orang pada dirinya sebagai penerus yang harus melampaui kehebatan ayahnya. Saya sempat dibuat bimbang, harus mendukung pihak Nobukatsu atau pihak Iga yang notabene terdapat Mumon sebagai sang tokoh utama, dan segalanya terjawab pada saat klimaks film yang disampaikan melalui aksi Mumon sebagai kunci dari keseluruhan cerita.

Baca Juga  Tokyo Ghoul

Bicara tentang aksi dan CGI dalam film ini, tentu saja nilainya pas-pasan dan terlalu hiperbola, namun semuanya masih terasa wajar karena genrenya. Satu hal yang paling mendominasi dalam film ini adalah penggunaan lighting yang unik. Pencahayaan atau lighting pada film ini mendukung beberapa suasana dalam film, meski dibuat berlebihan, seperti misalkan dalam sebuah adegan dimana para bawahan Nobukatsu berkumpul dan membujuknya untuk melakukan penyerangan pada wilayah Iga, warna latar berubah merah seolah menambah kesan bahwa mereka sedang merencanakan sesuatu yang jahat. Saat Mumon mengeluarkan kekuatan aslinya, warna latar berubah menjadi berkilauan ketika Mumon dengan sangat cepat layaknya The Flash atau Quicksilver menghabisi musuh-musuhnya. Aksi-aksinya yang tidak masuk akal serta candaan sangat tidak bermutu berada di tempat yang pas menjadikan ini salah satu kekuatan filmnya dan sukses memancing tawa penonton.

Mumon: The Land of Stealth memiliki pesan sangat kuat dan tidak terduga yang menjadi poin penting keseluruhan cerita film. Aspek cerita dan sinematiknya terjalin dengan baik sebagai pengantar pesan moral dan sosial. Film ini merupakan sindiran keras bagi generasi modern saat ini yang hanya mementingkan diri sendiri dan rela melakukan apapun hanya demi uang, disampaikan melalui cerita fiksi tentang perjuangan hidup dengan moralitas di tengah kepentingan dan skema politik.
WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
70 %
Artikel SebelumnyaMessage From The King
Artikel BerikutnyaPosesif, Film Populer dengan Pendekatan Filmis.
Luluk Ulhasanah
Luluk Ulhasanah atau lebih akrab dipanggil EL, lahir di Temanggung 6 September 1996. Sejak kecil hobi menonton film dan menulis. Minatnya pada film membuat ia bergabung dengan Komunitas Film Montase sejak tahun 2016 dan mulai beberapa kali terlibat produksi film pendek, dan aktif menulis review film, khususnya rubrik film Asia. Pada bulan Desember 2017, ia menjadi juri mahasiswa dalam ajang festival film internasional, Jogja Asian Film Festival (JAFF Netpac) 2017. Ia juga salah satu penyusun dan penulis buku 30 Film Indonesia Terlaris 2002-2018. Kini, ia menjabat sebagai Asisten Divisi Website untuk periode 2019-2020.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.