Munafik 2 (2018)
121 min|Horror|29 Aug 2018
7.9Rating: 7.9 / 10 from 902 usersMetascore: N/A
Sakinah, a poor single mom in an isolated village, is haunted by an evil spirit linked to Abuja, a man with misleading religious teachings, and Adam have to embark on a rescue mission to ...

Film dari negeri jiran arahan Syamsul Yusof, Munafik 2 digarap menyusul sukses besar Munafik yang dirilis 2 tahun lalu. Konon Munafik 2 yang rilis 30 Agustus lalu di negara asalnya telah memecahkan rekor sebagai film terlaris di Malaysia dengan meraih 43 juta Ringgit atau ditonton lebih dari 3 juta penonton. Sang sutradara kembali tidak hanya mengarahkan film, namun juga menulis naskah serta bermain sebagai tokoh utamanya, Ustaz Adam.

Dua tahun setelah kejadian tragis yang menimpa Ustaz Adam, ia masih dihantui peristiwa tersebut baik secara mental maupun fisik. Sementara di kampung lain, Sakinah dan putrinya, Aina, kini tinggal di sebuah rumah terpencil di dalam hutan. Sakinah harus merawat ayahnya yang sakit keras karena hal tanpa sebab. Kampung di wilayahnya dikuasai oleh sekelompok aliran sesat yang dipimpin oleh Abu Jar. Mereka telah membunuh banyak orang kampung yang tak sepaham . Ustaz Adam yang dimintai tolong untuk membantu Sakinah harus berhadapan kelompok sesat tersebut serta ilmu mistik yang digunakan Abu Jar.

Sama sekali tak ada komentar positif untuk film ini. Sejak awal, kisahnya berjalan begitu cepat berpindah dari satu adegan ke adegan lain tanpa mampu kita cerna kisahnya dengan baik. Ruang dan waktu kadang  terabaikan hingga kita bahkan tak tahu persis posisi sebuah adegan ada di mana dan seolah semua lokasi saling berdekatan. Unsur horor (jump scare) diumbar secara membabi buta, nyaris tak ada jedanya dan sering kali motifnya pun tak jelas. Jangan kaget jika di semua adegan selalu saja ada kejutan dengan trik horor yang sudah familiar. Dalam banyak adegannya, kita sering dibuat bingung, sebenarnya apa yang tengah terjadi? Menonton film ini layaknya naik kendaraan yang ngebut begitu kencang, membuat kita selalu was-was karena tak ada waktu rehat sedikit pun. Melelahkan sekali!

Baca Juga  Kimi no Na wa

Kisahnya yang sudah tak jelas karena mengalir cepat, diperburuk lagi dengan pencapaian sinematiknya yang sama buruknya. Tempo editing cepat dengan pergerakan kamera yang nyaris selalu bergerak, serta ilustrasi musiknya membuat segalanya tampak terburu-buru dan tak nyaman untuk dinikmati. Banyak adegan yang repetitif seolah hanya untuk mengulur waktu. Abu Jar berulang-kali menyiksa Sakinah dan putrinya setiap kali mereka bertemu dengan penggunaan dialog yang nyaris sama pula. Yang satu memaksa ikut ajaran sesat, dan yang satu menolak karena menyimpang dari ajaran yang sesungguhnya. Itu-itu saja dan kita sudah tahu jawabnya tapi selalu diulang. Hal yang sama juga terjadi pada Adam ketika berhadapan dengan kelompok Abu Jar. Capek!

Hal yang paling tidak bisa dimaafkan dalam film ini adalah aksi kekerasannya yang tergolong brutal. Uh, berapa kali kita melihat Sakinah yang seorang perempuan dan ibu, disiksa, dipukul, dan ditendang hingga berdarah-darah di hadapan putrinya sendiri. Sampai bergidik melihatnya, dan ini jauh lebih mengerikan dari aspek horornya sendiri. Adegan klimaksnya merupakan puncak dari aksi kekerasan yang sangat tak pantas untuk disajikan, terlebih film ini adalah bergenre religi. Aksi kekerasan rasanya bisa diperlihatkan lebih halus tanpa harus menyajikan aksi brutal secara eksplisit. Film-film barat populer pun jelas tak akan menampilkan hal semacam ini. Agak sedikit mengherankan, bagaimana adegan seperti ini bisa lolos sensor?

Munafik 2 adalah sebuah pengalaman menonton yang sangat melelahkan karena buruknya sisi cerita dan aspek visualnya, plus aksi-aksi brutal yang tak mendidik untuk genrenya. Sama sekali tidak bisa dimengerti, mengapa film ini begitu disukai penonton. Apakah hanya karena rasa penasaran akibat film pertamanya laku keras atau memang karena aspek horornya? Pembuat film, di mana pun bisa menggunakan medium film untuk tujuan apapun termasuk berdakwah serta mengajarkan kebaikan dengan cara dan gayanya masing-masing. Namun, pembuat film juga mestinya memahami sasaran atau target penontonnya sehingga bisa membedakan mana yang pantas dan mana yang tidak. Sekarang, tinggal penonton sendiri yang bisa menilai.

WATCH TRAILER

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini