Mustang (2015)

97 min|Drama|17 Jun 2015
7.6Rating: 7.6 / 10 from 40,826 usersMetascore: 83
When five orphan girls are seen innocently playing with boys on a beach, their scandalized conservative guardians confine them while forced marriages are arranged.

Mustang (2015) adalah debut film panjang pertama arahan sutradara perempuan keturunan Turki, Deniz Gamze Ergüven. Film ini meraih nominasi dalam pagelaran Academy Award 2016 baru lalu untuk kategori Best Foreign Language. Berkisah tentang lima orang gadis kakak-beradik yang hidup bersama nenek dan pamannya sepeningggal orang tua mereka. Kelima gadis ini tumbuh dalam aturan yang sangat ketat yang diterapkan oleh nenek  dan khususnya paman mereka. Seiring berjalannya waktu, gadis-gadis ini semakin susah diatur, sehingga sang paman dan nenek berencana menikahkan mereka karena takut kelak bisa merusak nama baik keluarga tersebut. Konflik mulai muncul tatkala solusi tersebut ternyata tidak sepenuhnya bisa diterima oleh gadis-gadis ini.

Sebenarnya tema semacam ini bisa dibilang bukanlah hal yang baru, tapi yang menarik dari Mustang adalah bagaimana Ergüven menuturkannya dengan sederhana, indah dan menyentuh. Kebersamaan, canda tawa, keceriaan, kesedihan, serta kemarahan dari kelima kakak beradik ini mampu dikemas dengan sangat apik. Dibalut dengan sudut pengambilan gambar yang juga blilian dari David Chizallet dan Ersin Gok. Kesederhanaan yang membuat film ini efektif menyampaikan emosinya kepada penonton. Kredit khusus harus diberikan kepada seluruh pemainya yang berakting dengan sangat menawan dalam membawakan karakter-karakter masing-masing. Terutama untuk Lale (Günes Sensoy) yang bermain sangat natural dalam membawakan sosok remaja yang berani. Dari sudut pandang Lale juga lah cerita film ini berjaland dan Chemistri dari kelima gadis ini yang kemudian menjadi kekuatan utama dalam film ini.

Baca Juga  Escape from Pretoria

Film ini bicara tentang feminisme, kebebasan, serta kritik budaya patriarki yang memang menjadi momok bagi kebebasan perempuan masa kini. Erguven dengan jeli menampilkan hal-hal yang cukup ekstrim sebagai konsekuensi akan budaya tersebut, seperti pemaksaan kehendak, seksualitas di tengah masyarakat yang normatif, hingga bunuh diri. Semua digambarkan dengan wajar tanpa terkesan dilebihkan. Pengemasan ending cerita juga luar biasa, harmonisasi sederhana antara sinematografi, akting serta musik yang kuat dari Warren Ellis mampu menghadirkan nuansa ambigu nan menyentuh sebagai klimaksnya. Mustang adalah sebuah karya istimewa dari seorang sutradara pendatang baru. Kemasan serta akting yang brilian tentunya mampu mengambil hati para penontonya, khususnya bagi para perempuan.

WATCH TRAILER

Artikel SebelumnyaRudy Habibie
Artikel BerikutnyaXenomorph Kembali dalam Alien: Covenant
Febrian Andhika lahir di Nganjuk, 18 Februari 1987. Ia mulai serius mendalam film sejak kuliah di Akademi Film di Yogyakarta. Sejak tahun 2008, ia bergabung bersama Komunitas Film Montase, dan aktif menulis ulasan film untuk Buletin Montase hingga kini montasefilm.com. Ia terlibat dalam semua produksi awal film-film pendek Montase Productions, seperti Grabag, Labirin, 05:55, Superboy, hingga Journey to the Darkness. Superboy (2014) adalah film debut sutradaranya bersama Montase Productions yang meraih naskah dan tata suara terbaik di Ajang Festival Film Indie Yogyakarta 2014, dan menjadi runner up di ajang Festival Video Edukasi 2014. Sejak tahun 2013 bekerja di stasiun TV swasta MNC TV, dan tahun 2015 menjadi editor di stasiun TV Swasta, Metro TV. Di sela kesibukan pekerjaannya, ia menyempatkan untuk menggarap, The Letter (2016), yang merupakan film keduanya bersama Montase Productions. Film ini menjadi finalis dalam ajang Festival Sinema Australia Indonesia 2018.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.