my annoying brother

Oke, mungkin ini bukan pertama kalinya Indonesia mencoba membuat remake dari film asli Korea Selatan, tapi My Annoying Brother mungkin adalah satu dari sedikit yang akan berhasil mendapatkan kesan di hati penonton. Film yang disutradarai oleh Dinna Jasanti ini minimal akan menciptakan roller coaster emosional unik berkat para pemain-pemainnya, Vino G. Bastian, Angga Yunanda, Caitlin Halderman, dan Kristo Imanuel.

Bertema utama keluarga, salah satu tema yang menarik dan kuat lainnya adalah redemption, atau ‘penebusan’. Setelah mengalami cedera yang membuatnya kehilangan penglihatannya, Kemal (Yunanda) jatuh dalam keputusasaan, merasa dirampok dari mimpi dan usahanya menjadi seorang atlet Judo kelas internasional. Belum berhenti di situ, abangnya, Jay (Bastian), yang sudah lama tidak menghubunginya pun menggunakan kondisi kebutaannya agar bisa mendapatkan bebas bersyarat dari penjara. Saat bertemu kembali, jelaslah mereka saling adu ego dan selisih pandang, saling mengejek satu sama lain hingga adu fisik. Tapi, ayolah, abang-adik mana yang tidak pernah mengalami itu?

Bicara soal keistimewaan film ini dari film-film keluarga lain, terutama ada di portrayal Jay, sang kakak, yang kasar, karismatik, humoris, cerdik dan street smart namun b*jingan dan berpaling terbalik dengan adiknya yang hidup dengan lurus dan baik-baik sebagai atlet Judo kebanggaan bangsa. All praise untuk Bastian yang memerankan Jay, yang merupakan keputusan terbaik yang diambil oleh sutradara dan segenap jajaran produksi film ini, di mana bukan hanya ia sukses memerankan sosok sang abang, ia sungguh menghidupkannya sebagai karakter. Mungkin dalam seribu tahun, tidak akan ada aktor lain yang lebih pantas memainkan Jay daripada Bastian.

Memuji lebih jauh pengemasan estetik film ini, hampir 90% scene dari film ini telah disusun dengan begitu rapi dan memiliki begitu banyak paralel dan perspektif yang dapat menambah keseruan dan unsur dramatis di dalamnya, yang sukses mengacak-acak emosi siapapun yang menonton. Sayangnya, meski dengan begitu telitinya dan rapinya penyusunan komposisi scene dalam film ini oleh sutradara dan editornya, ada beberapa kekurangan yang cukup fatal, yaitu pada akting pemeran-pemeran yang lain.

Baca Juga  Siapa Dia | REVIEW

Dengan plot cerita yang teruji dan sudah jelas akan menarik tawa dan tangis para penonton, arahan yang rapi dan menawan, terutama dengan begitu cemerlangnya akting Bastian sebagai Jay, membuat akting para aktor dan aktris lainnya tenggelam tak sebanding dengan sang bintang. Jangan salah paham, Yunanda, Halderman dan Imanuel sudah memberikan performa akting yang cukup baik, namun jelas dari level akting Bastian yang meng-outshine akting para aktor yang lain, dengan karisma dan improvisasinya, membuat timbal balik dari adegan emosional di film kurang terasa. Koneksi emosional yang sudah dibangun dengan cemerlang pun putus begitu saja.

Apabila sutradara menyempatkan untuk menyisipkan satu atau dua scene yang membangun koneksi emosional ini lebih jauh, dengan berfokus pada kondisi emosional karakter-karakter lain, maka mungkin kekurangan dari segi akting aktor lainnya akan sedikit tertutupi. Namun, kesempatan-kesempatan untuk itu pun dilewatkan begitu saja, mengecewakan ekspektasi kedalaman emosi yang telah dipupuk sejak awal.

Beberapa momen penting yang terlewatkan adalah eksplorasi emosional Amanda (Halderman) dan Fauzan (Imanuel) dalam merespons konflik antara dua kakak beradik tersebut. Sebelum mencapai klimaks, ada peluang yang seharusnya dimanfaatkan untuk menampilkan reaksi emosional mereka, yang bisa memperdalam koneksi dengan Jay. Satu atau dua close-up untuk menangkap ekspresi mereka secara mendalam akan sangat membantu memperkuat dimensi emosional. Sayangnya, momen-momen seperti itu hampir tidak ada, membuat hubungan karakter mereka terasa kurang terbangun.

Secara keseluruhan, My Annoying Brother adalah film yang patut direkomendasikan. Dari cerita, pengemasan dan performa dari lead actors-nya, jelas akan memuaskan penonton dari kalangan mana pun dengan begitu baiknya adaptasi budaya rakyat yang tidak terlalu mencolok mata, tapi begitu natural dan seamless. Terlepas dari kekurangannya yang hampir tidak mempengaruhi alur cerita dan kemasannya, dan karena begitu worth it-nya akting Bastian, film ini cocok menjadi salah satu film remake terbaik di Indonesia.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
80 %
Artikel SebelumnyaVenom: The Last Dance
Artikel BerikutnyaDon’t Move

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses