Night at the Museum: Battle of the Smithsonian (2009)

105 min|Adventure, Comedy, Family|22 May 2009
6.0Rating: 6.0 / 10 from 212,754 usersMetascore: 42
Security guard Larry Daley infiltrates the Smithsonian Institution in order to rescue Jedediah and Octavius, who have been shipped to the museum by mistake.

Night at The Museum: Battle of the Smithsonian merupakan sekuel dari Night at The Museum (2006) yang masih pula digarap Shawn Levy. Masih bermain pemain-pemain bintang seri pertamanya yakni, Ben Stiller, Robin Williams, Owen Wilson, Steve Coogan dan plus bintang-bintang gres seperti Amy Adams dan Hank Azaria. Film pertamanya berhasil meraup $500 juta lebih pada rilisnya di seluruh dunia. Apakah sekuelnya kali ini bisa bernasib sama?

Cerita filmnya mengambil latar tiga tahun setelah kejadian di film pertamanya. Mantan penjaga malam museum, Larry Daley (Stiller) kini telah menjadi pengusaha kaya raya berkat sukses lampu senter “glow in the dark” hasil temuannya. Setiap malam Larry masih mengunjungi “rekan-rekan” lamanya di museum nasional New York. Suatu ketika museum mengambil kebijakan baru yakni memasukkan wahana modern yang berakibat sebagian isi musium harus digudangkan dan dipindahkan ke kompleks museum Smithsonian di Washington. Masalah bermula ketika artefak Akhmenrah ternyata ikut terbawa sehingga menghidupkan semua koleksi yang ada di kompleks museum tersebut. Si raja jahat, Kahmunrah, kakak Akhmenrah berniat membuka gerbang neraka dengan menggunakan artefak tersebut. Larry ditemani si pilot cantik, Amelia Earhart (Adams) dan lainnya berusaha mencegah niat jahat Kahmunrah (Azaria) dan tiga koleganya, yakni Ivan The Terrible, Napoleon, dan Al Capone.

Tidak seperti halnya film pertama, plotnya kali ini jauh lebih ringan, bertempo cepat dengan durasi cerita yang singkat (hanya semalam). Nyaris sepanjang film, kita hanya melihat Larry dan Amelia berlari-lari berpacu dengan waktu di lokasi seputar kompleks museum. Sayangnya, karakter-karakter unik pada film pertamanya kini tidak lagi tampil dominan. Tercatat selain Larry hanyalah si koboi, Jedediah Smith (Wilson) dan si Jendral Romawi, Octavius (Coogan) yang sering muncul. Bahkan karakter Teddy Roosevelt (Robin Williams) hanya muncul sesaat saja. Sementara dua karakter anyar yang sangat menonjol adalah Amelia dan Kahmunrah. Belasan karakter “besar” eksentrik lainnya tercatat seperti Napoleon, Al Capone dan anak buahnya, Ivan the Terrible, Abraham Lincoln, Jendral Custer, Albert Einstein (boneka), hingga Darth Vader! Sungguh menarik melihat kembali bagaimana budaya silam hingga pop culture berbaur menjadi satu.

Baca Juga  Darkest Hour

Satu pemain bintang yang menjadi “man of the macth”, mampu merebut perhatian penonton adalah Hank Azaria, yang bermain “gila” sebagai si raja Mesir. Bahkan saking gilanya penampilan Stiller pun ditelan bulat-bulat oleh penampilan “karismatik” Azaria. Dengan gaya dan aksen bicaranya yang khas, celotehan ngawur, dan kadang diulang-ulang, seringkali kamera betah berlama-lama dengan karakter ini. Coba simak adu mulut antara ia dan Larry pada sebuah adegan. “Kalau (tanganmu) sekali lagi melewati garis ini kamu akan saya bunuh!” seraya tangannya bergerak-gerak membuat batas. Mungkin sepanjang sejarah cuma karakter Kahmunrah yang mampu mengejek habis Darth Vader secara langsung. “Kamu sudah jelek, asma, robot lagi..”. Sementara Amy Adams mampu bermain manis dan enerjik sebagai Amelia Earhart, memberikan nuansa ceria yang tidak kita dapatkan di film pertama. Lalu penampilan Stiller, Wilson, Coogan, dan Williams? Semua dibawah rata-rata. Seperti saya bilang diatas, “It’s Kahmunrah show”! Nilai plus filmnya cuma ada pada karakter ini.

Apa yang Anda harapkan dari sekuel Night at the Museum semuanya ada disini. Sekalipun tidak ada formula yang baru namun semuanya serba wah dari film pertamanya. Plot yang ringan, aksi-aksi seru yang menghibur, banyolan yang lebih gila, puluhan karakter baru, hingga dominasi efek visual (CGI) yang memukau. Apa lagi yang Anda harapkan? Bagi Anda yang menginginkan film hiburan ringan dan menghibur, film ini dapat menjadi pilihan. Khusus untuk penonton anak-anak, komedi verbalnya rasanya sulit mereka terima. Sebagai penutup, Night at the Museum 2 sepertinya akan menjadi salah satu kandidat kuat pemuncak box office tahun ini.

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
65 %
Artikel SebelumnyaAngels & Demons
Artikel BerikutnyaTerminator Salvation
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

1 TANGGAPAN

  1. Sya setuju dengan mas Editor..
    Kalo saya, paling suka karena LEvy menutup film ini dengan lagu Life in Technicolornya Coldplay/ jadi setelah tertawa-tawa jumpalitan.. (Terutama karena Kahmunrah yang selalu menasbihkan dirinya “I have come Back!!” “I have come back!!”)..
    saya bisa keluar bioskop dengan merinding.. karena personally, saya memang selalu merinding kalo mendengar lagu itu..it’s a silly personal interpretation.. haha… (Makbul ^_^)

  2. saya juga setuju dgan mas editor di atas, film night at the museum: Battle of the Smithsonian ini sangat menghibur, ketika saya menonton film ini saya hanya bsa tertawa n tertawa.h.h.h.h.h.h hingga air mata saya terus mengalir…sebenarnya film pertama sma bagusnya dengan film sekuelnya ini,cuma film pertama lebih menekankan ceritanya, kalau sekuelnya lebih menekankan komedinya. yang saya suka dari film ini adalah komedi yg verbal segar n karakter kahmunrah!!!! its funny film h.h.h.h.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.