Warning: Sebaiknya menonton filmnya sebelum membaca ulasan film ini.

Horor sci fi bisa jadi adalah kombinasi genre yang langka, di luar seri Alien yang populer. No One Will Save You menjadi satu pilihan segar yang rasanya memilih pendekatan yang berbeda. Film ini digarap oleh Brian Duffield yang pernah terlibat dalam film-film sci fi, macam Love and Monster (2020) dan Under Water (2020). Film ini dimainkan secara solo oleh Kaitlyn Dever dan uniknya lagi, film ini nyaris tanpa dialog. No One Will Save You dirilis oleh Disney+ pada pertengahan September lalu dan amat disayangkan, saya melewatkan film berkelas ini begitu saja waktu rilisnya.

Brynn (Dever) adalah seorang gadis muda kesepian yang tinggal sendiri di rumah besarnya sejak ditinggal mendiang sang ibu. Setelah satu kejadian traumatik yang menewaskan karibnya, Maude, Brynn dikucilkan oleh satu warga kota. Suatu malam, sesosok misterius masuk ke dalam rumahnya, dan siapa sangka sosok itu rupanya adalah makhluk luar angkasa yang bermaksud mencelakainya. Satu kota kecil tersebut rupanya tengah diinvasi penuh dengan merasuki tubuh manusia sebagai inangnya. Tanpa bantuan seorang pun, Brynn semata hanya bisa bertahan hidup di rumahnya dari para alien yang mengincarnya.

Untuk sci-fi horor ini sungguh adalah pencapaian yang langka. Memang, film ini banyak mengingatkan pada Sign arahan M. Night Shyamalan, namun tawaran narasi dan estetiknya sungguh di luar perkiraan. Kisahnya hanya terpusat pada sosok Brynn seorang serta lokasi yang dominan pun hanya di seputar rumahnya. Tensi ketegangan yang dihasilkan sungguh luar biasa, sekalipun sisi jump scare bukan pilihan utama sang sineas. Kisahnya yang solid pun, tidak semata terfokus pada bagaimana Brynn bisa bertahan hidup dengan segala keberuntungannya, namun adalah sisi subteksnya. Ini yang menjadi pembeda No One Will Save You dengan banyak film horor lainnya.

Lazimnya, subteks dalam film horor hanyalah selipan “pesan” terkandung yang menjadi inti poin kisahnya. Sisi “good vs. evil” menjadi suguhan utama kisahnya dengan aksi-aksi ketegangan dengan “gimmick” jump scare yang menghibur penonton. Contoh saja, Megan, sang monster hanyalah ibarat pelajaran bagi tokohnya untuk menyayangi dan mencintai keponakannya secara tulus. Banyak film horor menggunakan “monster/hantu” sebagai rasa trauma/takut yang seharusnya dilepaskan oleh tokohnya. No One Will Save You pun senada, hanya bedanya, semua elemen kisahnya mengarah ke subteksnya.

Baca Juga  Pasutri Gaje

Sisi trauma (Brynn) menjadi kunci kisahnya. Kita pun sejak awal hanya bisa menerka-nerka, apa yang sesungguhnya terjadi pada gadis muda ini? Naskahnya secara brilian memberikan informasinya secara perlahan yang menjadi sisi misteri terbesar bagi penonton. Plot invasi alien bukanlah menjadi sajian utama yang lazimnya kita dibawa ke sebuah “solusi” untuk membasmi mereka. Namun film ini tidak mengarah ke sana dan tetap fokus pada sosok Brynn seorang. Bahkan sang alien pun dengan kemampuan psikisnya justru membuat Brynn berhadapan langsung dengan rasa bersalahnya. Ini pun membawa ceritanya ke satu resolusi “happy ending” bagi sang tokoh. Rasa bersalah atau trauma memang akan selalu menjadi bagian yang tak akan bisa dilepaskan dari pikiran manusia. Sang bintang yang bermain solo tampil begitu memikat sepanjang filmnya dengan hanya segelintir dialog keluar dari mulutnya.

Boleh jadi, No One Will Save You adalah film sci-fi horor yang murni mengedepankan subteks ketimbang narasi invasi alien dengan pendekatan estetik yang unik dan efektif pula. Beberapa film horor pun sudah memberikan contoh senada yang sangat istimewa, sebut saja Night of the Living Dead, Get Out,hingga The Babadook. No One Will Save You menjadi pembuktian kuat bagi genrenya, bahwa eksplorasi horor masih mampu dibawa ke level kedalaman yang tidak terkira. Sungguh menyenangkan melihat para pembuat film ini bermain-main dengan konsep tema/pesan dengan memadukannya secara brilian dengan aspek estetiknya.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
90 %
Artikel Sebelumnya13 Bom di Jakarta – JAFF 2023
Artikel BerikutnyaWonka
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.