Omniscient Reader: The Prophet (OR) adalah film aksi fantasi yang diadaptasi dari web novel laris, Omnicient Reader’s Viewpoint karya Shing Song. Film ini digarap oleh Kim Byung-woo dengan dibintangi sederetan nama-nama besar, antara lain Lee Min-ho, Ahn Hyo-seop, Chae Soo-bin, Shin Seung-ho, Nana, hingga Jisoo. Film bermodal USD 21 juta ini baru saja dirilis tanggal 21 Juli lalu di negara asalnya. Didukung popularitas web novelnya serta para bintangnya, mampukah film ini memberikan sesuatu yang baru bagi genrenya?
Kim Dok-ja (Hyo-seop) adalah pembaca loyal dari satu titel web novel populer hingga selang beberapa lama, selain dirinya, tak ada orang yang membaca. Dalam perjalanan kereta sepulang dari kerja, ia mendapat chat aneh dari sang penulis novel yang memberinya pilihan untuk ending kisah yang ia inginkan. Belum lepas rasa terkejutnya, mendadak kereta pun berhenti dan sosok-sosok misterius muncul, persis seperti awal kisah novelnya. Dok-ja pun segera menyadari bahwa kisah dalam novelnya berubah menjadi kenyataan. Untuk dapat hidup, seseorang harus menyelesaikan misi atau diistilahkan skenario. Dengan pengetahuan dari membaca novelnya, Dok-ja berusaha untuk menyelamatkan dunia dari kehancuran.
Sejak pembuka film, kisahnya langsung tancap gas. Dengan tempo cepat, kisahnya berjalan begitu bergegas, dan penonton dihujani begitu banyak informasi tentang eksposisi cerita serta protagonisnya, Dok-ja. Saya bukan pembaca novelnya dan ini membuat sangat kewalahan untuk bisa masuk ke dalam kisah dan karakternya. Belum selesai mencerna satu hal, kita sudah dijejali informasi baru lainnya. Luar biasa cepat dan melelahkan. Satu hal yang bisa kita lakukan adalah menikmati visualnya dan biarkan kisahnya berjalan. Hingga akhir, saya pun tak mampu mencerna secara rinci kisahnya karena aturan main tak ada henti-hentinya dijejali pada penonton. Melelahkan. Entah, apakah ini dirasakan fans web novelnya?
Di luar tempo plot yang begitu brutal, sisi visualnya didominasi penggunaan efek visual yang nyaris ada dalam semua adegannya. Menonton film ini, layaknya kita bermain RPG (role playing game) dengan separuh dari plotnya adalah aksi melawan para monster dengan beragam bentuk dan rupa. Tokoh dan karakternya pun unik dengan kemampuan tarung yang berbeda-beda. Walau saya tak sepenuhnya peduli dengan misi dalam plotnya, tetapi aksi-aksinya yang imajinatif cukup bisa kita nikmati. Visualisasi aksinya banyak mengingatkan pada seri film fantasi Korea Selatan populer, Along with the Gods. Sementara OR lebih banyak aksi-aksi ala gim RPG yang sering kali mengandalkan item dan senjata dari banyaknya koin yang mereka kumpulkan. Cukup menyenangkan.
Didominasi CGI, Omniscient Reader: The Prophet memiliki imajinasi visual di level berbeda, sekalipun untuk tontonan awam, kita bakal dihantam tempo plot cepat serta informasi bertubi sepanjang filmnya. Ringkasnya, target film ini sangat spesifik untuk fans web novelnya yang konon lebih dari sepuluh juta orang. Nyaris tak ada peluang untuk penonton di luar fans untuk bisa mengambil nafas untuk sekadar memahami kisahnya. Pada akhirnya, kita bisa mengerti arah kisahnya dan pesan mulia yang diusung, yakni kebebasan berkehendak. Namun dengan plot membabi buta sejak awal, nyaris sulit untuk berempati penuh dengan semua karakternya. Bagi yang ingin menonton, disarankan kuat untuk membaca web novelnya terlebih dulu. Untuk para fansnya, selamat menikmati!







