one battle after another

One Battle After Another adalah film garapan sineas kawakan Paul Thomas Anderson yang menggarap film-film berkualitas tinggi, sebut saja Magnolia, Punch Punch Drunk Love, There Will Be Blood, serta Licorize Pizza. Film berbujet USD 150 juta ini dibintangi oleh aktor-aktor besar, sebut saja Leonardo Dicaprio, Sean Pean, Benicio del Toro, serta Teyana Taylor dan Chase Infinity. Akankah sang sineas kembali memproduksi karya terbaiknya melalui filmnya kali ini?

Bob Ferguson (Dicaprio) dan Perfedia Beverly Hills (Taylor) adalah sepasang muda-mudi yang terlibat dalam aksi anarkis kelompok kiri “1975” yang menentang otoritas AS di wilayah perbatasan Meksiko. Pasukan militer dipimpin seorang kapten bengis bernama Steven Lockjaw (Pean) yang berambisi untuk menangkap Bob dan kelompoknya, walau usahanya gagal. Enam belas tahun berselang, Lockjaw masih memburu para pemberontak dan ketika seorang anggota ditangkap, informasi dengan cepat menyebar. Di Kota Baktan Cross, Bob yang kini hidup tenang bersama putri remajanya, Willa (Infinity), tidak luput dari incaran. Aksi militer pun membuat geger satu kota hingga memicu aksi kerusuhan. Willa yang terpisah dengan Bob, dilarikan kelompoknya ke sebuah lokasi terpencil. Bob dibantu rekannya, Sergio (del Toro) berpacu dengan waktu sebelum Lockjaw menemukan putrinya terlebih dulu.

Plotnya yang berdurasi nyaris 3 jam, terbagi dua segmen besar. Pertama, segmen pembuka yang mengisahkan aksi-aksi anarkis yang dimotori Bob dan Perfedia, serta hubungan mereka dengan si pemburu, Lockjaw. Segmen ini boleh dibilang hanyalah eksposisi untuk karakter Bob dan Lockjaw. Sementara segmen berikutnya adalah sajian utama kisahnya yang menyajikan aksi nonstop perburuan para pemberontak. Segmen kedua ini begitu kontras dengan segmen pertama yang seolah berjalan tanpa arah dan tujuan, serta sedikit membosankan. Kisahnya berkesan baru berjalan sejak masuk segmen kedua.

One Battle After Another berbeda dengan film-film arahan sang sineas sebelumnya yang kental dengan nuansa drama, kini justru dominan pada aksi dan thriller. Satu sentuhan kuat sang sineas adalah production value (khususnya set) yang kembali tersaji dengan megah dan meyakinkan. Aksi kerusuhan di kota Baktan Cross hingga perburuan militer terhadap kelompok pemberontak disajikan dalam skala besar, walau hanya dalam beberapa sudut kota. Pada aksi klimaks, sang sineas rupanya juga terampil mengolah adegan aksi kejar-mengejar yang didukung set jalanan naik-turun yang unik. Penggunaan musik dan lagu pop/rock yang menjadi stempel sang sineasnya juga tersaji apik mengiringi banyak adegannya.

Baca Juga  The Kid Who Would Be King

Sang sineas selalu menulis naskahnya sendiri yang ini ditandai dengan sajian dialog-dialognya yang berkelas dalam semua karyanya, tidak terkecuali One Battle After Another. Selipan humor, begitu dominan dalam banyak dialognya, khususnya bekerja maksimal untuk sosok Bob yang paranoid. Dalam satu momen, naskahnya bermain-main dengan kata password yang dilupakan Bob, yang ini membuat polahnya makin brutal. Aktor-aktor serius, macam del Toro dan Sean Pean pun juga kebagian dialog-dialog humor senada. Tentu saja penampilan akting mereka yang memikat menjadi salah satu kunci keberhasilan filmnya.

One Battle After Another merupakan kembali karya berkelas sang sineas melalui sentuhan estetik dan selera humor dengan topik yang relevan situasi global terkini. Walau gaya visual tak lepas dari karya-karya sebelumnya, tetapi value kisahnya adalah yang membuat One Battle After Another adalah sebuah film penting yang diproduksi tahun ini. Situasi global terkini yang memantik demo besar-besaran yang menentang ketidakadilan dalam banyak aspek, yakni perang, korupsi, imigran, seluruhnya dipicu arogansi pemerintahnya sendiri. One Battle After Another mengambil perspektif dan geliat aktivitas pemberontak (anti pemerintah) untuk menyuarakan suara mereka dengan cara masing-masing. Gerakan ini selalu ada dari generasi ke generasi yang memiliki banyak resikonya, tetapi punya dampak besar dalam melakukan perubahan. Pada konteks ini, saya rasa One Battle After Another bakal meraih Piala Oscar tahun depan.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
90 %
Artikel SebelumnyaA Big Bold Beautiful Journey | REVIEW
Artikel BerikutnyaThe Salt Path | Jakarta World Cinema Online
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

1 TANGGAPAN

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses