oppenheimer

Christopher Nolan bisa jadi adalah salah satu sineas berpengaruh yang karyanya selalu ditunggu. Oppenheimer dengan segala sensasinya kini rilis dengan segala ekspektasi bagi para fans beratnya. Film ini ditulis dan diarahkan oleh Nolan sendiri yang diadaptasi dari buku biografi tentang Robert Oppenheimer, American Prometheus karya Kay Bird dan Martin J. Sherwin. Film berdurasi 180 menit ini dibintangi sederetan bintang-bintang papan atas, Cillian Murphy, Emely Blunt, Florence Pugh, Robert Downey. Jr, Matt Damon, Josh Harnett, Rami Malek, Kenneth Branagh, Gary Oldman, dan belasan lainnya. Akankah film biografi pertama sang sineas ini memiliki kualitas setara dengan karya-karya masterpiece sang sineas sebelumnya?

Kisah filmnya berlatar Perang Dunia II ketika tentara Jerman di bawah Hitler mendominasi Eropa. Di seberang sana, Robert Oppenheimer (Murphy) adalah seorang fisikawan AS terkemuka yang diminta oleh Jendral Leslie Grovers (Damon) untuk membuat bom berkekuatan besar agar bisa menghentikan perang. Robert pun mengumpulkan seluruh ilmuwan terkemuka dari segala penjuru negeri dalam satu kawasan laboratorium terisolir yang diberi nama Los Alamos. Dengan segala kesulitan dan usaha keras, setelah 3 tahun, bom atom yang diminta pun terwujud. Militer AS tak butuh waktu lama untuk menjajal bom tersebut ke Jepang. Dilema moral sang pencipta bom atom ini pun bermula sejak momen ini.

Sebelum menonton, kita memang harus siap dengan film buatan Nolan yang selalu tak mudah untuk dicerna. Benar saja, sejak awal, Oppenheimer telah begitu menggebu bertutur dengan segala kerumitannya melalui gaya nonlinier yang menjadi ciri khasnya. Senada film pertamanya, Following (1998), plotnya secara bergantian disajikan melalui 3-4 timeline yang berbeda. Filmnya bolak-balik, maju-mundur tanpa sering kali kita sadari penuh, mana segmen cerita masa kini, masa lalu, dan masa depan. Untuk membantu, Nolan pun memberi satu segmen dengan tone warna yang berbeda, yakni hitam-putih (black & white) untuk satu karakter penting, Lewiss Strauss (Downey Jr.).

Tetap saja, tidak mudah untuk mencerna kisahnya yang demikian brutal melakukan transisi dari masa kini ke masa lalu, atau sebaliknya. Sebagian besar penonton pasti bakal kelelahan, namun bagi yang sudah mengenal baik film-film Nolan, pasti tahu betul bagaimana cara menikmatinya. Biarkan mengalir tanpa harus fokus penuh ke setiap adegan. Kita memang harus mampu melihat lukisan besarnya dengan penekanan sinematik yang digunakan sang sineas. Ini memang tidak mudah. Oppenheimer sejauh ini adalah adalah penuturan nonlinier paling rumit yang dibuat oleh sang sineas. Satu hal yang menyatukan segala kerumitan ini adalah pesan pada penghujung yang powerfull bak bom atom.

Baca Juga  Ghosted

Dominasi editing (potong silang antar adegan) bukan satu hal yang menjadi kekuatan terbesar filmnya. Satu adegan yang ditunggu adalah ledakan bom atom yang amat dahsyat yang konon menggunakan bom nuklir sungguhan. Sang sineas menyajikannya dengan cara unik dengan justru mematikan semua suara sesaat setelah bom meledak. Efeknya sungguh luar biasa di dalam bioskop. Keheningan total mengiringi visual yang demikian kontras di layar. Sebelum suara “boom” menggelagar dengan hebatnya. Uniknya, Nolan juga menggunakan kemasan estetik “bom atom” dalam dua adegan pentingnya, yakni ketika ia pidato pasca tes dan satu lagi pada penghujung persidangan tertutup. Seolah bom atom meledak hebat di ruang tersebut. Teknik “bom atom” ini adalah satu pencapaian inovatif yang sekaligus secara brilian menjadi penanda status mental sang protagonis. Terakhir, ilustrasi musiknya yang tajam, layaknya Dunkirk yang terus membuat kita merasa terintimidasi sepanjang kisahnya, hingga suara hentakan kaki pun digunakan secara brilian oleh sang sineas.

Setelah sekian lama, aktor favorit Nolan, Cillian Murphy akhirnya kini mendapatkan peran yang seharusnya sejak lama ia dapat. Murphy bermain brilian sebagai seorang fisikawan eksentrik yang percaya diri namun juga rapuh akibat dilema moral dan kehidupan cintanya. Rasanya, aktingnya cukup kuat untuk membuatnya masuk dalam kandidat pemeran terbaik. Semua kasting pendukungnya pun bermain tanpa cacat, tercatat Blunt, Downey Jr.,  dan Puge. Khususnya Blunt yang bermain sangat ekspresif dalam tiap kemunculannya sebagai istri sang ilmuwan. Walau bermain singkat, aktor kawakan, Gary Oldman pun mencuri perhatian dalam satu adegan pentingnya.

Durasi tiga jam dan cara bertutur nonliniernya, jelas bakal membuat penonton kewalahan, namun Oppenheimer dengan segala pencapaian estetik dan kekuatan pesannya adalah salah satu karya terbaik Nolan dan salah satu film anti-war terbaik yang pernah diproduksi. Nolan tidak hanya mampu semata memberikan sebuah sajian sinematik megah (yang sudah menjadi cirinya), namun adalah kisah sesosok manusia bak dewa dengan segala sisi manusiawinya. Seseorang yang mampu menghancurkan bumi dalam jentikan jarinya. Bom atom rupanya bukan satu hal yang menjadi ancaman terbesar umat manusia melainkan sifat tamak manusia.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
100 %
Artikel SebelumnyaAsteroid City
Artikel BerikutnyaBarbie
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

1 TANGGAPAN

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.