Overlord (2018)
110 min|Action, Horror, Sci-Fi|09 Nov 2018
6.6Rating: 6.6 / 10 from 106,518 usersMetascore: 60
A small group of American soldiers find horror behind enemy lines on the eve of D-Day.

Overlord merupakan film unik arahan Julius Avery yang mengkombinasikan 3 genre sekaligus, yakni perang, fiksi ilmiah, dan horor. Film ini diproduseri J.J. Abrams melalui studio Bad Robots dengan bujet sekitar US$ 38 juta. Uniknya pula, film ini dibintangi aktor-aktris tak ternama, yakni Jovan Adepo, Wyatt Russel, Mathilde Ollivier, serta John Magaro. Walau tak sepenuhnya jelas dan tak pernah diumumkan secara resmi, masih menjadi pertanyaan, apakah film ini masih satu universe dengan seri Cloverfield yang juga diproduksi oleh Abrams?

Alkisah, sehari menjelang pendaratan pasukan sekutu di Normandia (peristiwa D-Day) atau dikenal pula dengan operasi Overlord. Satu pasukan khusus ditugaskan menjalankan misi penting untuk menghancurkan satu menara radio milik tentara Nazi yang berada di gereja tua di sebuah desa kecil. Aksi penerjunan tak berjalan mulus di tengah pertempuran hebat di udara. Mereka akhirnya, hanya menyisakan lima tentara saja, termasuk Boyce, Ford, dan Tibbet. Mereka menyusup ke dalam desa dibantu Chloe, seorang warga desa yang tinggal bersama adik ciliknya. Ketika Boyce menyusup ke dalam gereja, tak disangka-sangka, ia menemukan sebuah lab rahasia yang melakukan uji coba serum terhadap manusia.

Sudah lama sekali, sebuah film produksi Hollywood mampu menampilkan sesuatu yang sesegar ini. Mengkombinasikan genre perang (berlatar PD II), fiksi ilmiah, serta horor (bahkan slasher) jelas bukan sesuatu yang mudah, namun Overlord berhasil menampilkannya nyaris sempurna. Alur plotnya sejak segmen pembuka nyaris tak pernah berhenti bergerak dengan menampilkan sisi ketegangan, misteri, dan kejutan seolah tanpa henti. Sungguh luar biasa, kita sungguh-sungguh bisa masuk ke dalam semua aspek cerita filmnya, baik setting, karakter (tokoh), maupun aksi-aksinya. Melalui Boyce, kita mampu merasakan ketegangan luar biasa ketika pasukan penerjun payung harus ke luar dari pesawat yang telah hancur maupun segmen horor ketika ia menyusup ke dalam bangunan gereja. Semua serba nonstop ketegangan sejak awal hingga akhir, menjadikan Overlord sebuah sajian yang sangat menghibur. Namun sayang, guntingan sensor yang kasar sangat menggangu kenyamanan dalam beberapa aksi sadis yang cukup dominan dalam film ini.

Baca Juga  End of the Road

Melalui kombinasi genre yang unik dan ketegangan nonstop, Overlord merupakan suatu capaian segar dalam satu-dua dekade terakhir. Tak hanya itu, film ini juga komplit menyajikan kombinasi akting para pemain muda serta tata artistik yang amat meyakinkan, didukung ilustasi musik yang selalu memompa adrenalin penonton. Beberapa aksi dan cerita memang tak sepenuhnya segar, misalnya saja, serum “Captain America”, juga aksi-aksinya yang kelewat sadis dan brutal jelas membatasi target penontonnya. Lantas pertanyaan terakhir, apakah film ini bisa masuk dalam kisah Cloverfield universe? Melalui kombinasi genre dan aspek cerita jelas jawabnya, ya.

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
90 %
Artikel SebelumnyaThe Night Comes for Us
Artikel BerikutnyaThe Grinch
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.