Passengers (2016)

116 min|Drama, Romance, Sci-Fi|21 Dec 2016
7.0Rating: 7.0 / 10 from 450,675 usersMetascore: 41
A malfunction in a sleeping pod on a spacecraft traveling to a distant colony planet wakes one passenger 90 years early.

Dirilis sepekan setelah Rogue One merupakan perjudian besar bagi film fiksi ilmiah Passengers. Film garapan sineas Norwegia, Morten Tyldun ini amat mengantungkan nasibnya pada dua bintang papan atas Hollywood saat ini, Jennifer Lawrence dan Chris Pratt. Tyldun sendiri dua tahun lalu sukses dengan The Imitation Game yang membawanya meraih delapan nominasi Oscar termasuk untuk sutradara dan film terbaik. Berbujet US$110 juta tercatat menjadi film termahal yang pernah diproduksi Tyldun.

Pesawat lintas galaksi super canggih Avalon membawa ribuan penumpang dan ratusan awak ke planet Homestead II yang memakan waktu perjalanan 120 tahun dari bumi. Seluruh penumpang dan awak dalam kondisi hibernasi sebelum satu peristiwa kecil tanpa sengaja membuka kapsul milik Jim Preston setelah 30 tahun perjalanan. Preston terjebak seorang diri dalam kapal angkasa raksasa tersebut hingga sekian lama hanya ditemani oleh seorang robot bartender bernama Arthur. Suatu ketika Jim memutuskan untuk membangunkan satu penumpang perempuan jurnalis, Aurora Lane, untuk menyudahi kesendiriannya.

Film ini mencoba sebuah pendekatan cerita yang berbeda dengan memadukan unsur fiksi ilmiah, roman, dan thriller. Film ini terasa begitu sepi di antara ruang-ruang super modern namun kisahnya tidak pernah terasa bosan. Film menjadi lebih terasa manusiawi setelah karakter Aurora masuk dalam plot namun sejak momen ini semuanya serba mudah diantisipasi kisahnya. Kita tahu sesuatu pasti terjadi dan mereka harus melakukan sesuatu untuk mengatasi masalah tersebut. Tak ada sesuatu yang menggigit lagi dalam alur plotnya seberapa pun hebat masalahnya. Kita sudah tahu apa yang bakal terjadi dan bagaimana semuanya berakhir. Dengan sedikit unsur ketegangan serta dukungan pencapaian visual dan artistik yang menawan menjadikan sepertiga akhir filmnya layaknya cubitan kecil yang cukup membangunkan kita dari rasa bosan. Tidak lebih.

Baca Juga  Wrath of Becky

Passengers mencoba sesuatu yang baru untuk genrenya namun plotnya terlalu mudah diantisipasi walau begitu film ini merupakan sebuah perjalanan luar angkasa yang menyenangkan. Pratt dan Lawrence sudah bermain baik untuk standar genrenya. Tak ada yang istimewa. Mereka berdua juga yang mungkin bisa menyelamatkan film ini dari kerugian komersil. Setidaknya film ini mampu membawa kita berawang-awang apa yang akan kita lakukan jika berada dalam posisi mereka. Perasaan bahagia dan kesendirian menyatu diantara pemandangan maha indah di alam semesta raya.

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
70 %
Artikel SebelumnyaHangout
Artikel BerikutnyaAktris “Putri Leia” Meninggal di Usia 60 tahun.
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.