Berhasil memukau jagat sinema melalui Makmum dan Sijjin, Hadrah Daeng Ratu terus menerus membuat karya dengan ciri khas genre horor religius. Kini, Pemandi Jenazah tengah tayang di bioskop, tentu menarik perhatian publik. Film ini dibintangi oleh Aghniny Haque, Djenar Maesa Ayu, dan Ibrahim Risyad. melihat reputasi bagus sang sineas, akankah Pemandi Jenazah mampu menggebrak film horor Indonesia di awal tahun ini?

Sejak kecil, Lela (Haque) bersama ibunya, Siti (Ayu) menjadi pemandi jenazah yang sudah menjadi tradisi turun temurun keluarganya. Lela sebenarnya enggan, namun sang ibu memaksanya karena takut tidak memiliki penerus. Suatu ketika, beberapa kematian tragis dan tak wajar menimpa warga kampungnya, termasuk sang ibu. Lela mencoba mencari tahu penyebab peristiwa ini dan menemukan benda aneh di setiap jasad yang tewas. Sesosok arwah gaib pun sering menganggunya, mencegah Lela meneruskan investigasinya. Tanpa Lela sadari, semua ini rupanya berhubungan dengan masa lalu ibunya.

Sudah menjadi ciri khas sang sineas yang fasih dengan tema religius, seharusnya Pemandi Jenazah bisa disajikan secara lebih dramatis. Pemandi Jenazah diangkat dari kisah lokal yang sungguh terjadi dan menyuguhkan cerita yang unik, mengusung sebuah cerita tentang profesi yang tidak lazim dengan balutan sisi misteri. Sayangnya sisi misteri dan investigasi yang dilakukan oleh Lela terasa kurang menggigit. Ini disebabkan beberapa hal yang terlalu gamblang dari awal cerita sehingga kurang memicu rasa penasaran muncul. Tapi semua ini tertutup oleh penampilan akting Aghniny Haque yang telah memiliki banyak peningkatan dibandingkan perannya dalam KKN di Desa Penari, di mana ia mampu bermain dengan balutan emosi yang mendalam.

Jika membahas sisi horornya, cerita Pemandi Jenazah memiliki keunggulan dan membuat penonton merinding, misal adegan ketika memandikan jenazah. Segmen ini mengingatkan pada adegan memandikan jasad perempuan dalam Sewu Dino. Pengambilan dengan dominan close up dan shaky mampu membuat intensitas ketegangan naik, dibantu dengan sound effect yang mendukung jump scare-nya. Namun dalam banyak momennya, tata rias wajah setan yang kurang realistis dan telalu dibuat-buat menimbulkan kesan kurang menyeramkan.

Baca Juga  Pariban: Idola dari Tanah Jawa

Pemandi Jenazah memiliki kemasan unik dengan menyuguhkan cerita yang baik. Ini menjadi pembuktian bagi sang sineas yang konsisten memproduksi film-film horor religius. Kisah filmnya mampu mengangkat tradisi budaya lokal unik yang jarang diketahui masyarakat. Kini tinggal menanti, apakah Pemandi Jenazah mampu melewati angka penonton Makmum dan Sijjin yang mencapai jutaan penonton? Kita lihat saja.

PENILAIAN KAMI
Overall
70 %
Artikel SebelumnyaNǎi Nai & Wài Pó
Artikel BerikutnyaDune: Part Two

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.