Penulis oleh Dhia Al fajr

Tulisan Terbaik Kelas Kritik Bunga Matahari – Sewon Screening #8

Penderitaan keluarga Suwono kembali lagi setelah kehilangan sang Ibu (Ayu Laksmi) yang menjadi hantu dengan segudang tanya dan si bungsu Ian (Muhammad Adhiyat) yang menjadi iblis. Keluarga Suwono memutuskan untuk pindah ke sebuah rumah susun (rusun) di kota jauh dari tempat mereka sebelumnya, lebih ramai dan tentu lebih banyak peluang untuk memulai kehidupan yang sudah berantakan akibat teror sebelumnya. 

Film sepanjang 119 menit ini masih ditulis dan disutradarai oleh Joko Anwar, kembali menghadirkan Tara Basro, Endy Arfian, Nasar Anuz, Bront Palarae, Ayu Laksmi, serta Muhammad Adhiyat untuk kembali berperan sebagai keluarga Suwono. 

Teror kali ini berlatar di sebuah rusun, di mana Rini, Toni, Bondi, dan Bapak tinggal dalam kemiskinan dengan pekerjaan Bapak yang tidak diketahui dan Rini masih menjadi kepala keluarga secara de facto. Pada satu saat terjadi tragedi di mana lift rusun mengalami kecelakaan dan membunuh banyak orang didalamnya. Di tengah rasa berkabung ternyata rusun ini menyimpan rahasia besar yang mengarahkan keluarga Suwono kembali pada teror para penyembah setan. 

“Pengabdi Setan II: Communion” menawarkan teror yang masih sama mengerikan dengan yang pertama. Jumpscare yang diberikan sukses menebar teror. Treatment kamera Joko Anwar pantas mendapat pujian. Dalam salah satu adegan Pengabdi Setan II menggunakan long-take di rusun yang sempit tetapi kamera bisa sangat luwes turun dari satu lantai ke lantai lainnya. Blocking-nya juga cerdas, indah! Tentu saja pengalaman visual tersebut tidak lepas dari olah gambar sang Director of Photography (DP), Ical Tanjung, yang seperti biasa menyuguhkan gambar-gambar memukau terutama pada adegan awal. 

Pencahayaan film ini juga menambah kengerian menggunakan cahaya natural seperti senter dan korek tanpa bantuan cahaya eksternal terlalu banyak. Memang membuat redup dan gelap hampir semua adegan, tapi berhasil menyorot semua kengerian serta menambah tensi tanpa banyak mengganggu. 

Terkait cerita film saya rasa adegan awal sangatlah menakutkan dan penting karena memberikan latar belakang bagi semua film Pengabdi Setan, tentang seberapa penting sekte ini. Pengabdi Setan II menampilkan karakter Budiman Syailendra (Egy Fedly) yang merupakan tokoh sentral sekaligus sang deus ex machina. Latar belakang tokoh Budiman disajikan dengan porsi lebih banyak dari kemunculannya di Pengabdi Setan (2017), mengingat peranan tokoh Budiman cukup signifikan pada plot. 

Kehadiran karakter-karakter baru juga membuat segar film ini terutama karakter Tari (Ratu felisha), yang sangat jelas adalah tribute untuk Ruth Pelupessy pemeran Darminah di Pengabdi Setan (1980). Tari sendiri adalah karakter yang ditunjukkan tidak menggunakan sudut pandangnya, melainkan melalui ratusan stigma yang diberikan orang-orang di sekelilingnya. Banyak orang melihat Tari sebagai wanita seksi yang tinggal sendirian dan selalu kerja saat malam. Stigma ini sempat dibantah Tari dalam salah satu dialognya dan menegaskan dirinya hanya bekerja di tempat billiard dan jam kerjanya selalu malam. Tari berusaha menepis stigma sebagai “perempuan malam” dengan bersikap mandiri dan tidak segan menyerang balik para lelaki yang sering menggodanya. Dalam salah satu adegan ketika Pak Ustad menyuruh Tari untuk sholat setelah ia diganggu setan, kita bisa melihat sajadah Tari berada di pinggir kasurnya. Hal ini menunjukkan Tari setidaknya pernah menggunakan sajadah untuk sholat.

Baca Juga  7 Film Musik Tentang Kaum Hipster

Karakter lain yang cukup menghibur adalah dua teman Boni, Darto (Moh. Iqbal Sulaiman) dan Ari (Fatih Unru). Geng baru ini menghadirkan dark joke yang menyentil dan sangat menghibur. Memberikan nuansa baru dari ceritanya yang semakin depressing. Terkait narasi dalam filmnya sendiri saya rasa cukup banyak plot-hole di sana-sini. Cukup menyedihkan mengingat Joko Anwar mengeklaim film ini memiliki story telling yang kuat. Jika memang kuat kenapa keluarga Suwono masih bisa tinggal di rusun kumuh, jika kenyataannya pekerjaan misterius dari sang Bapak adalah seorang Penembak Misterius (petrus)? Orang yang memutuskan untuk menjadi petrus dibayar dengan pantas untuk setiap nyawa yang diambil. Jika kita bandingkan dengan para Death Squad Presiden Duterte di Filipina, dalam kampanye antinarkobanya mendapat bayaran US$.400 – US$.1,000 per kepala1. Mengingat Duterte sendiri menyebut inspirasi kampanyenya adalah petrus², maka tak salah mengasumsikan jika petrus di Indonesia juga dibayar. Dengan satu koper seperti itu setidaknya mereka tinggal di tengah kota di kontrakan bukan di rusun kumuh dengan satu kamar. Rini bisa pergi kuliah dengan tenang, tidak harus bekerja juga. 

Lalu dari mana Wisnu (Muzakki Ramdhan) bisa memiliki kitab tutorial penyembah Raminom, bahkan bisa memahami bahasa rahasia di dalamnya? Apakah sebuah sekte rahasia yang pengaruhnya sangat kuat tidak bisa setidaknya menyimpan buku paling berharga mereka atau membuat bahasa rahasia mereka tidak langsung bisa dipahami oleh anak kecil? Tapi ini semua masih dugaan saya mengingat Joko Anwar banyak menaruh cerita dan membiarkan pertanyaan mengalir liar di filmnya kali ini. Kita bisa melihat kegaduhan di Twitter dengan semua teori dan analisis terhadap semua adegan dan karakter di dalamnya. Joko Anwar sendiri juga memberikan banyak clue dalam cuitannya di Twitter, yang mana saya tidak akan bahas di sini. Saya harus mengapresiasi Joko Anwar lagi atas pembuatan dunia Pengabdi Setan yang sangat luas dan liar untuk diinterpretasikan.

Kemudian hal yang paling mengganggu bagi saya adalah adegan akhir Pengabdi Setan II yang menjelaskan bahwa film ini adalah misoginis tanpa malu dan sangat jelas. Kematian Ibu hadir hanya karena keharusannya untuk memiliki anak atas paksaan sang suami, walaupun pada akhirnya Bapak mati dengan mengerikan. Karakter Bapak mendapatkan banyak empati di Pengabdi Setan (2017). Kemunculannya di film sebelumnya walaupun singkat namun efektif. pemberian latar belakang tokoh sebagai suami penyayang, menimbulkan pertanyaan bagi penonton akan kehadiran sebenarnya dari tokoh antagonis, hingga di penghujung film. 

Akhir kata film ini sangat layak ditonton walaupun dalam opini saya masih menyeramkan Pengabdi Setan (2017) dan ini adalah sekuel jahanam. Saya rasa film ini masih layak ditonton dan akan terus meriah sampai semua pertanyaan terjawab entah di Pengabdi Setan berapa.

1 https://www.nytimes.com/2017/02/20/world/asia/rodrigo-duterte-philippines-death-squad.html

2https://nasional.kompas.com/read/2017/08/11/13510281/wiranto-ungkap-presiden-duterte-terinspirasi -petrus-di-era-soeharto 

Artikel SebelumnyaMENCURI RADEN SALEH: Angin Segar Buat Perfilman Indonesia? Memang iya?
Artikel BerikutnyaThe Worst Person In The World: Coming-of-Age di Usia Dewasa
memberikan ulasan serta artikel tentang film yang sifatnya ringan, informatif, mendidik, dan mencerahkan. Kupasan film yang kami tawarkan lebih menekankan pada aspek cerita serta pendekatan sinematik yang ditawarkan sebuah film.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.