Joko Anwar kembali dengan karya terbarunya yang berjudul Pengepungan di Bukit Duri. Berbeda dengan karya-karyanya belakangan yang banyak didominasi dengan genre horor dan superhero, film teranyarnya ini lekat dengan adegan laga dan isu sosial.
Kisah diawali dengan adegan kerusuhan yang terjadi saat Edwin dan kakaknya masih duduk di bangku SMA. Terjadi kerusuhan yang meluas. Isu rasial pun disulut. Edwin dan kakaknya yang berdarah Tionghoa pun menjadi sasaran amukan. Cerita kemudian bergulir ke tahun 2027. Edwin berkeliling sebagai guru pengganti untuk mencari keponakannya. Pencariannya membawanya ke sekolah murid-murid buangan di SMA Bukit Duri. Rupanya isu rasial masih mengakar kuat, termasuk di SMA tersebut. Edwin pun jadi sasaran keberingasan.
Brutal dan banyak umpatan. Itulah kesan seusai menyaksikan Pengepungan di Bukit Duri. Untungnya adegan-adegan brutal dan hujan umpatan tersebut tak menutupi isu penting yang ingin disampaikan dalam film ini, yaitu isu rasial dan hal-hal lainnya yang rentan dimainkan untuk menyebarkan teror dan menyulut kerusuhan yang meluas. Sepertinya Joko Anwar meluapkan uneg-uneg dan segala keresahannya dalam film ini. Hal ini terlihat dari dialog, berita, dan pesan-pesan di berbagai media di film ini.
Berbeda dengan film-film Joko Anwar seperti Kala dan A Copy of My Mind yang kental dengan isu sosial kemasyarakatan dari para pemain politik, di film Pengepungan di Bukit Duri, isu rasial dan kerusuhan ini lebih banyak dibahas dari kalangan masyarakat biasa. Kejadian kerusuhan ‘98 yang kental dengan isu rasial nampaknya menjadi salah satu inspirasi kisah ini.
Dalam membingkai cerita di kelas yang banyak anak badung dan beringas, penulis menduga Joko Anwar banyak menggunakan referensi film mancanegara dan komik seperti Dangerous Minds (1995), One Eight Seven (1997), High & Low: The Worst (2019), dan komik webtoon The Real Lesson yang akan diadaptasi ke film.
Dari segi cerita, pesan antiperundungan dan anti SARA memang tersampaikan meskipun banyak adegan yang begitu beringas dan kuping terasa panas dengan meluapnya kata-kata kasar sepanjang film. Film ini sendiri menggunakan rating 17 tahun ke atas sehingga diharapkan penonton di bawah umur tersebut tidak menyaksikan film ini.
Desain set dan produksi unggul di film ini. Joko Anwar menggunakan pengalaman dan referensi film-filmnya terdahulu sehingga tone dan set latar film Pengepungan di Bukit Duri ini seperti berkaitan dengan film-film Joko Anwar sebelumnya seperti Kala, Gundala, dan Pengabdi Setan II.
Gambar dan pengambilan kamera juga memegang peranan penting di film ini. Gambar-gambar tampil dinamis dan menunjukkan ruangan demi ruangan di sekolah Bukit Duri untuk memperkokoh suasana pengepungan dari waktu ke waktu. Skoring juga mampu menguatkan nuansa ketegangan. Untuk pengambilan gambar dan skoring ini, Joko Anwar kembali mempercayakan masing-masing ke Ical Tanjung dan Aghi Narottama yang kerap diajaknya berkolaborasi.
Sayangnya dari segi desain dan pengembangan karakter, ada beberapa karakter yang sulit diberikan simpati penonton atau kontribusinya di film kurang meyakinkan. Karakter Diana, misalnya, kurang meyakinkan sebagai guru konseling dan lulusan psikologi. Dari jajaran pemain, Morgan Oey sebagai Edwin mendapat lampu cahaya di film ini. Ia mendapat sinar di Pengepungan di Bukit Duri. Performa aktingnya mengkilap di sini.
Sementara peran Omara Esteghlal sebagai Jefri di sini tak jauh beda dengan film-filmnya sebelumnya. Hanya di sini ia makin beringas. Hal yang sama juga terjadi pada Dewa Dayana sebagai Geri, yang perannya juga tak jauh berbeda dengan perannya sebelumnya. Yang menonjol adalah Satine Zaneta sebagai Doti, remaja perempuan yang bergabung dengan geng Jefri. Ia berhasil memerankan sosok anggota geng yang brutal.





