Media Film Alternatif

Konten terkait film yang hanya muncul seminggu sekali di koran dan minim pembahasan dinilai sangat terbatas. Orang-orang yang tidak puas kemudian membentuk komunitas dan membuat media sendiri. Media alternatif ini mengisi ruang diskusi tentang film yang tak disentuh oleh rubrik film di media massa nasional.

Pada 2006, misalnya, muncul Buletin Montase yang semula berbasis cetak dan penyebarannya dibantu platform Blogspot. Dalam mengkritik film, para penulisnya fokus pada teks: pembahasannya meliputi aspek penyutradaraan, teknik, sinematografi, penulisan naskah, maupun mise en scene. Setelah menerbitkan 27 edisi, pada 2015 buletin yang dieditori Himawan Pratista ini berhenti cetak dan beralih menjadi situs mOntasefilm.com.

Berkembangnya internet memungkinkan munculnya media-media kolektif yang fokus pada film. Pada 2007, sebuah perhimpunan pengkaji film membentuk RumahFilm.org. Walau situs itu sudah tutup sejak 2013, hasil kejian kolektif ini bisa dilihat dalam buku Menjegal Film Indonesia yang bisa diunduh pdf-nya secara gratis. Beberapa anggotanya, antara lain Krisnadi Yuliawan, Asmayani Kusrini, Eric Sasono, Ekky Imanjaya, dan Ifan Ismail.

Selain itu, JB Kristanto dan Lisabona Rahman, yang sebelumnya menerbitkan Katalog Film Indonesia 1926-2007, juga membuat FilmIndonesia.or.id. Situs tersebut berfungsi sebagaimana katalog: menghimpun data-data seperti judul film, sinopsis, pembuat, serta jumlah penontonnya di bioskop. Sejumlah esai, kajian, dan resensi film juga terarsip di sana. Beberapa nama dari RumahFilm.org turut menjadi kontributor di situs tersebut, salah satunya Hikmat Darmawan.

Pada 2011, muncul Cinema Poetica. Situs tersebut dirintis oleh Adrian Jonathan Pasaribu dengan mengajak Makbul Mubarak dan Windu Jusuf. Sebelumnya, mereka bertiga aktif di ruang pemutaran alternatif Kinoki dan dimentori Elida Tamalagi. Ketiganya juga kerap berkontribusi di FilmIndonesia.or.id. Dalam membahas film, sebagian besar tulisan di Cinema Poetica tampak menggunakan pendekatan cultural studies. Mereka banyak membahas konteks film, yang pada saat itu juga jarang dibicarakan di rubrik film media arus utama.

Rubrik Film di Media Berita Daring

Internet bukan hanya memunculkan media alternatif, tapi juga memunculkan media berita. Media cetak seperti Kompas dan Tempo, misalnya, kini bisa diakses di internet. Selain itu, lahir juga media berita yang kemudian juga menjadi raksasa di internet, seperti Detik.com, Tirto.id, dan Beritagar. Sejumlah media daring luar negeri juga membuka situs khusus Indonesia, seperti CNN Indonesia.

Seperti halnya media massa cetak, empat media yang disebut terakhir juga membuka rubrik film. Hanya saja, redaksi media online tampaknya memberikan perhatian lebih serius ketimbang media cetak.

Menurut Ekky Imanjaya dalam wawancara dengan Cinema Poetica, ada kebiasaan tukar menukar jobdeks setiap beberapa tahun di media massa. Ini cenderung menghalangi penulis berkembang karena ia segera dipindah dalam waktu yang barangkali terlalu cepat. Orang baru yang menggantikannya kemudian mesti mulai belajar film dari awal lagi. Sehingga, menurunya kualitas tulisan kerap tampak begitu kentara. Hal ini tampaknya tidak terjadi pada Detik.com dan Tirto.id

Di Detik.com yang ulasan-ulasannyanya fokus pada segi teks, ada nama seperti Candra Aditya, Shandy Gasella, serta Komario Bahar yang muncul berulang di kolom review dalam beberapa tahun ini. Di Tirto.id, yang pembahasan filmnya sering fokus pada konteks, juga demikian. Sebagian besar pengisi kolom Misbar adalah nama-nama yang tidak hanya muncul sekali, seperti di antaranya Aulia Adam, Faisal Irfani, dan Indira Ardanareswari. Editor kolom ini, hampir selalu, adalah Windu Jusuf yang sebelumnya aktif di Cinema Poetica.

Terkait Tirto.id, ada informasi menarik yang saya peroleh dari status Facebook Zen Res (saat itu kepala redaksi) tertanggal 5 April 2018. “Kini tiap pekan Tirto menayangkan minimal 1 ulasan film. Yang tidak diketahui pembaca adalah Tirto lebih dulu menggelar pelatihan menulis film selama sebulan dengan instruktur dari luar. Rabu malam adalah saat seluruh awak redaksi berkumpul untuk mendiskusikan sesuatu: dari teknik menulis, cara membaca hasil survei, sejarah neorealisme dalam sinema, hingga diskusi memahami simbol-simbol dalam badge kemiliteran. Porsi pembicaranya dalam sebulan adalah 3:1—3 pembicara internal, 1 pembicara eksternal.”

Baca Juga  Hellboy: Antara Sensor, Rating, dan Estetika

Saya rasa, sudah semestinya media yang punya sumber daya besar memberikan perhatian serius pada lini kebudayaan sepeti film. Karena menghadirkan informasi dari berbagai bidang yang dibutuhkan publik luas, media berita arus utama tentunya dikenal dan diminati banyak orang. Sehingga, sangat masuk akal bila rubrik film di media berita lebih terbaca ketimbang media kolektif yang fokus pada film.

Pertanyaan yang menurut saya perlu diajukan terkait industri kritik hari ini adalah, “Apakah pembahasan film di media arus utama sudah sesuai dengan kebutuhan publik penonton?” dan “Apakah tulisan di media kolektif masih perlu menjadi alternatif dengan menyentuh ranah yang tidak digarap media berita arus utama?”

Tulisan ini saya sebut sebagai peta kecil, sebab jelas sekali ada banyak hal yang terlewat. Terutama karena saya membatasi pembahasan hanya pada media kolektif dan media berita. Sangat mungkin ada media kolektif ataupun nama lain yang sebenarnya penting untuk dibahas, tapi tak tersebut dalam tulisan ini karena keterbatasan data dan wawasan saya. Telebih, media dalam pembahasan ini ternyata hanya dari Jakarta dan Yogyakarta.

Sejauh pencarian saya, belum banyak pembahasan tentang industri kritik film. Sebagian besar yang saya temukan merupakan fragmen-fragmen dan kerap kali berupa wawancara. Tulisan ini adalah upaya mengelaborasi pembicaraan tentang industri kritik film yang saya ketahui hingga saat ini. Tentunya, saya berharap tulisan ini akan memancing munculnya lebih banyak pembahasan industri kritik yang akan memperjelas bagian yang belum terlihat di di peta kecil ini.

Referensi Buku:

Salim Said. 1991. Pantulan Layar Putih. Jakarta: Sinar Harapan

Amartya Sen. 2009. Kuasa dalam Sinema. Yogyakarta: Penerbit Ombak

 

Ditulis oleh: Ageng Indra, Mahasiswa Magang.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.