Pete's Dragon (2016)

102 min|Action, Adventure, Comedy|12 Aug 2016
6.7Rating: 6.7 / 10 from 61,457 usersMetascore: 71
The adventures of an orphaned boy named Pete and his best friend Elliott, who happens to be a dragon.

Entah untuk alasan apa Disney memutuskan mengadaptasi live action film animasinya, Pete’s Dragon (1977). Dan ini untuk ketiga kalinya penonton dalam tahun ini berurusan dengan “bocah rimba” setelah Jungle Book dan Tarzan baru lalu. Pete’s Dragon bisa jadi hits jika diproduksi dua atau tiga dekade lalu karena kini film fantasi bertema sejenis sudah terlampau banyak yang jauh lebih superior. Film ini berkisah tentang seorang bocah, Pete, yang sejak kecil diasuh oleh seekor Naga bernama Elliot, karena sebuah insiden di tengah hutan yang menewaskan orang tuanya. Pete hidup bahagia dan nyaman bersama Elliot hingga suatu ketika hutan mereka dirambah oleh perusahaan penebangan kayu.

Kisahnya gamblang serta jelas, tanpa banyak intrik, dan sejak menit-menit awal pun kita sudah berkenalan dengan sosok sang naga. Unsur misteri dan kejutan menjadi nol karena semua informasi tentang sang naga sudah kita ketahui sejak awal. Kisah filmnya justru terfokus pada hubungan Pete dan Elliot serta bagaimana keingintahuan Pete tentang dunia manusia. Konflik muncul ketika mereka dipisahkan. Tak ada tokoh antagonis yang berarti sehingga cerita berkembang relatif datar dan mudah sekali diantisipasi. Film ini banyak mengingatkan pada film-film fantasi/sci-fi anak-anak era 80-an, seperti E.T. Formula cerita yang sama digunakan entah apa ini bekerja untuk penonton masa kini.

Baca Juga  Fear Street Part One: 1994

Pete’s Dragon adalah film fantasi untuk sasaran penonton keluarga yang terlalu kompromi dengan anak-anak dan bukan untuk penonton yang mencari sesuatu yang lebih. Tampilan bentuk naga yang lebih ramah baik secara gestur maupun visual memang menegaskan target penontonnya. Kisahnya tak banyak konflik tersembunyi dan pesan lingkungan pun, jika memang mau kesana, terasa agak tanggung. Bumbu komedi pun terasa tanggung. Kasting pemain dengan nama-nama besar pun tak mampu mengangkat filmnya. Jika ingin lebih sukses rasanya Disney harus mencari sesuatu yang lebih menggigit.

WATCH TRAILER

PENILAIAN KAMI
Overall
60 %
Artikel SebelumnyaMorgan
Artikel BerikutnyaThe Magnificent Seven
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.