Kanker payudara merupakan salah satu penyakit berat yang menyebabkan kematian. Kanker ini semakin mengancam masyakarat karena pola hidup yang tidak sehat dan berbagai penyebab lainnya. Diperlukan pemahaman dan kepedulian yang cukup untuk mencegah dan mengobati kanker payudara agar tidak terlambat ditangani. Berbagai penyuluhan sudah gencar dilakukan melalui berbagai media. Bertepatan dengan Bulan Peduli Kanker Payudara Internasional, MP Pro Pictures menyajikan Pinky Promise sebagai film yang bermanfaat bagi seluruh masyarakat.

 Pinky Promise mengisahkan seorang pejuang kanker payudara yang berusaha untuk dapat berbagi dengan para pejuang lainnya. Ia mengajak keponakannya yang tidak terkena kanker untuk mendirikan Rumah Pink, rumah peduli dimana para pejuang dapat saling berbagi dan membantu. Disinilah para pejuang kanker payudara berkumpul dan menghadapi penyakit tersebut dengan permasalahannya masing-masing.

Film ini memberikan informasi yang cukup mendetail mengenai kanker payudara. Informasi-informasi tersebut disampaikan dengan gamblang sehingga mudah dicerna oleh penonton sekalipun penonton benar-benar awam terhadap penyakit tersebut. Diselipkan pula bumbu-bumbu komedi untuk menjaga mood sehingga tidak terlalu bosan. Konflik yang disajikan juga mampu memberikan pesan keberanian dalam menghadapi hidup. Memang tidak banyak kejutan atau keseruan yang bisa diharapkan dari sebuah film yang bertujuan untuk semacam penyuluhan. Tetapi, setidaknya Pinky Promise dapat menyalurkan pemahaman yang edukatif, menanamkan kesadaran peduli kesehatan dan memberikan semangat positif kepada para pejuang kanker payudara.

Penyampaian kisah drama perjuangan para pejuang yang menyentuh ini sangat terbantu melalui akting dari para pemain seperti Ira Maya Sopha, Agni Pratista, Alexandra Gottardo, Dea Ananda, dan Dea Setho. Para pemeran utama ini tidak segan-segan menunjukkan totalitasnya dengan mencukur gundul rambut mereka.  Ira Maya Sopha tampak luwes mendalami perannya dan tak heran kemampuan aktingnya ini tentu didapat dari pengalamannya di dunia akting yang sudah cukup lama. Yang menarik adalah penampilan Alexandra Gottardo yang luwes memerankan sebagai perempuan Jawa dengan logat bicara yang luwes dan gesture perempuan vulgar yang lucu dan menyenangkan. Sayang sekali penampilan Chelsea Islan yang sedang naik daun hanya mendapatkan porsi sedikit dan seolah hanya sebagai pemanis belaka.

Baca Juga  Mata Tertutup, Tak Mampu Membuka “Mata (Hati)”

Film garapan Guntur Suharjanto yang bernuansa warna pink sebagai simbol gerakan peduli kanker payudara ini cukup nikmat untuk ditonton, meskipun tidak dapat dihindari penonton mungkin akan merasa mengantuk di beberapa bagian film. Tapi terlepas dari itu, tujuan mulia film ini patut diapresiasi karena menunjukkan bukti nyata kontribusi positif dalam perfilman Indonesia.

WATCH TRAILER

https://www.youtube.com/watch?v=D1bQWqZJdvU

Artikel SebelumnyaSunya
Artikel BerikutnyaThe Accountant
Debby Dwi Elsha
Menonton film sebagai sumber semangat dan hiburan. Mendalami ilmu sosial dan politik dan tertarik pada isu perempuan serta hak asasi manusia. Saat ini telah menyelesaikan studi magisternya dan menjadi akademisi ilmu komunikasi di salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.