Pinocchio (2022)
2 min|Adventure, Comedy, Drama|08 Sep 2022
5.1Rating: 5.1 / 10 from 5,726 usersMetascore: 41
A puppet is brought to life by a fairy, who assigns him to lead a virtuous life in order to become a real boy.

“When you wish upon a star, your dreams come true”

Satu lagi, Walt Disney me-remake film animasi ikoniknya, Pinocchio yang diarahkan oleh sineas kawakan Robert Zemeckis. Berbekal nama sang sineas dan dua bintangnya, yakni Tom Hanks dan Joseph Gordon-Levitt, sepertinya film ini bakal menjanjikan sebuah tontonan yang istimewa. Film ini dirilis melalui platform Disney+, tidak seperti kebanyakan film animasi remake produksi Disney lainnya. Apakah film ini sesuai dengan ekspektasinya? Rupanya jauh dari harapan.

Mengisahkan seorang pria tua penatah kayu, Geppetto (Hanks) yang membuat boneka kayu laki-laki bernama Pinocchio dengan sepenuh hatinya untuk menggantikan putra kecilnya yang telah meninggal. Ketika bintang jatuh terlihat dari jendela, Geppetto memohon agar boneka kayunya bisa hidup. Malamnya, sang peri biru datang dan menghidupkan boneka Pinocchio, sekaligus mengangkat Jimmy Jangkrik (Levitt), yang kebetulan bermalam di sana, sebagai penasihatnya. Pinocchio harus melewati serangkaian ujian godaan sebelum ia bisa menjadi bocah sungguhan.

Seingat saya, plot remake-nya loyal dengan kisah film animasi klasiknya. Untuk versi modernnya ini, plotnya terasa tidak koheren dan sesuai dengan pendekatan visual yang sangat mengagumkan. Kisahnya terasa bak teatrikal yang melompat jauh dari satu adegan ke adegan lainnya. Tak ada rasa simpati dan empati sehingga kita bisa larut ke dalam tokoh-tokohnya. Kita hanya semata melihat sajian gambar bergerak dengan iringan musik dan lagu tanpa sedikitpun peduli dengan karakternya. Lalu di era keberagaman seperti sekarang, terasa aneh pula, sosok Geppetto yang seorang Italia diperankan oleh Hanks. Apa tak ada aktor Italia yang mampu memerankan ini?

Baca Juga  Captive State

Salah satu pencapaian visual terbaik sejauh ini, hanya saja Pinocchio terjebak dalam naskah adaptasinya yang terlalu teatrikal. Dengan pencapaian visual yang serealistik ini, sisi fantasinya justru kabur. Jika saja, Hayao Miyazaki membuat kisah adaptasi ini dengan gaya anime-nya, bisa jadi film ini bakal menjadi sebuah mahakarya modern. Kadang, satu karya klasik tidak lantas bisa begitu saja dibuat ulang jika film orisinalnya tidak tergantikan. Bisa jadi, pembuat film harus membuatnya sama sekali berbeda.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
50 %
Artikel SebelumnyaFestival Film Wartawan Indonesia Memulai Masa Penilaian untuk 123 Judul
Artikel BerikutnyaEmily the Criminal
Hobinya menonton film sejak kecil dan mendalami teori dan sejarah film secara otodidak setelah lulus dari studi arsitektur. Ia mulai menulis artikel dan mengulas film sejak tahun 2006. Karena pengalamannya, penulis ditarik menjadi staf pengajar di Akademi Televisi dan Film swasta di Yogyakarta untuk mengajar Sejarah Film, Pengantar Seni Film, dan Teori Film sejak tahun 2003 hingga tahun 2019. Buku film debutnya adalah Memahami Film (2008) yang memilah seni film sebagai naratif dan sinematik. Buku edisi kedua Memahami Film terbit pada tahun 2018. Buku ini menjadi referensi favorit bagi para akademisi film dan komunikasi di seluruh Indonesia. Ia juga terlibat dalam penulisan Buku Kompilasi Buletin Film Montase Vol. 1-3 serta 30 Film Indonesia Terlaris 2012-2018. Hingga kini, ia masih menulis ulasan film-film terbaru di montasefilm.com dan terlibat dalam semua produksi film di Komunitas Film Montase. Film- film pendek arahannya banyak mendapat apresiasi tinggi di banyak festival, baik lokal maupun internasional. Biodata lengkap dapat dilihat di https://montase.org/mt_team/himawan-pratista/

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.