Pinocchio (2022)
105 min|Adventure, Comedy, Drama|08 Sep 2022
5.1Rating: 5.1 / 10 from 41,878 usersMetascore: 38
A puppet is brought to life by a fairy, who assigns him to lead a virtuous life in order to become a real boy.

“When you wish upon a star, your dreams come true”

Satu lagi, Walt Disney me-remake film animasi ikoniknya, Pinocchio yang diarahkan oleh sineas kawakan Robert Zemeckis. Berbekal nama sang sineas dan dua bintangnya, yakni Tom Hanks dan Joseph Gordon-Levitt, sepertinya film ini bakal menjanjikan sebuah tontonan yang istimewa. Film ini dirilis melalui platform Disney+, tidak seperti kebanyakan film animasi remake produksi Disney lainnya. Apakah film ini sesuai dengan ekspektasinya? Rupanya jauh dari harapan.

Mengisahkan seorang pria tua penatah kayu, Geppetto (Hanks) yang membuat boneka kayu laki-laki bernama Pinocchio dengan sepenuh hatinya untuk menggantikan putra kecilnya yang telah meninggal. Ketika bintang jatuh terlihat dari jendela, Geppetto memohon agar boneka kayunya bisa hidup. Malamnya, sang peri biru datang dan menghidupkan boneka Pinocchio, sekaligus mengangkat Jimmy Jangkrik (Levitt), yang kebetulan bermalam di sana, sebagai penasihatnya. Pinocchio harus melewati serangkaian ujian godaan sebelum ia bisa menjadi bocah sungguhan.

Seingat saya, plot remake-nya loyal dengan kisah film animasi klasiknya. Untuk versi modernnya ini, plotnya terasa tidak koheren dan sesuai dengan pendekatan visual yang sangat mengagumkan. Kisahnya terasa bak teatrikal yang melompat jauh dari satu adegan ke adegan lainnya. Tak ada rasa simpati dan empati sehingga kita bisa larut ke dalam tokoh-tokohnya. Kita hanya semata melihat sajian gambar bergerak dengan iringan musik dan lagu tanpa sedikitpun peduli dengan karakternya. Lalu di era keberagaman seperti sekarang, terasa aneh pula, sosok Geppetto yang seorang Italia diperankan oleh Hanks. Apa tak ada aktor Italia yang mampu memerankan ini?

Baca Juga  Bolt

Salah satu pencapaian visual terbaik sejauh ini, hanya saja Pinocchio terjebak dalam naskah adaptasinya yang terlalu teatrikal. Dengan pencapaian visual yang serealistik ini, sisi fantasinya justru kabur. Jika saja, Hayao Miyazaki membuat kisah adaptasi ini dengan gaya anime-nya, bisa jadi film ini bakal menjadi sebuah mahakarya modern. Kadang, satu karya klasik tidak lantas bisa begitu saja dibuat ulang jika film orisinalnya tidak tergantikan. Bisa jadi, pembuat film harus membuatnya sama sekali berbeda.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
50 %
Artikel SebelumnyaFestival Film Wartawan Indonesia Memulai Masa Penilaian untuk 123 Judul
Artikel BerikutnyaEmily the Criminal
His hobby has been watching films since childhood, and he studied film theory and history autodidactically after graduating from architectural studies. He started writing articles and reviewing films in 2006. Due to his experience, the author was drawn to become a teaching staff at the private Television and Film Academy in Yogyakarta, where he taught Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory from 2003 to 2019. His debut film book, "Understanding Film," was published in 2008, which divides film art into narrative and cinematic elements. The second edition of the book, "Understanding Film," was published in 2018. This book has become a favorite reference for film and communication academics throughout Indonesia. He was also involved in writing the Montase Film Bulletin Compilation Book Vol. 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Additionally, he authored the "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). Until now, he continues to write reviews of the latest films at montasefilm.com and is actively involved in all film productions at the Montase Film Community. His short films have received high appreciation at many festivals, both local and international. Recently, his writing was included in the shortlist (top 15) of Best Film Criticism at the 2022 Indonesian Film Festival. From 2022 until now, he has also been a practitioner-lecturer for the Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts in the Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.