Point Break (2015)
114 min|Action, Adventure, Crime|25 Dec 2015
5.3Rating: 5.3 / 10 from 66,238 usersMetascore: 34
A young FBI agent infiltrates an extraordinary team of extreme sports athletes he suspects of masterminding a string of unprecedented, sophisticated corporate heists.

Point Break adalah remake film berjudul sama yang dulu dibintangi Keanu Reeves dan Patrick Swayze yang rilis pada tahun 1991 silam. Kisah remake-nya kali ini sedikit banyak berbeda dengan aslinya hanya tokoh-tokohnya saja yang masih sama. Alkisah Johnny Utah, mantan atlit olahraga ekstrem, setelah trauma masa lalunya bergabung dalam kesatuan FBI. Ketika menyelidiki sebuah kasus kriminal besar, Johnny mendapat titik terang bahwa pelakunya adalah atlit olahraga ekstrem. Awalnya Johnny diutus bosnya untuk mencari info tentang mereka namun justru ia semakin terikat dengan mereka, khususnya Bodhi. Bodhi memiliki ambisi untuk menyelesaikan 8 tantangan besar untuk menaklukkan alam yang nyaris mustahil dilakukan manusia.

Jika dibandingkan film aslinya, kisahnya kali jelas-jelas lebih ditujukan penonton modern yang sarat dengan aksi-aksi wah. Sisi drama dan roman yang tampak pada film aslinya kini hilang sama sekali. Adegan demi adegan berjalan cepat tanpa motif yang kuat dan kadang logika pun ditendang begitu saja. Kebetulan demi kebetulan sering terjadi hanya untuk memaksakan adegan aksi hebat muncul. Bukankah memang ini yang dimaui penonton masa kini? Sisi spiritual yang menjadi argumen utama tindakan anarkis para atlit ekstremis ini juga terasa konyol, tidak ada bedanya dengan aksi terorisme berkedok agama yang kini masih marak. Tokoh Bodhi di remake-nya kali ini pun tanpa punya karisma sama sekali berbeda jauh dengan karakter yang sama diperankan Patrick Swayze.

Baca Juga  The Tourist

Aksi memang menjadi hidangan utama. Masalah bukan pada aksinya yang memang sangat nikmat untuk dilihat plus panorama alam mengagumkan namun terletak pada sisi ketegangannya. Sisi ketegangan nyaris tidak ada sama sekali (kecuali untuk adegan klimaks panjat tebing di Venezuela), dalam banyak sekuen aksi kita layaknya melihat program sport ekstrem yang biasa ditayangkan di televisi. Satu contoh bagus adalah sekuen pembuka, satu momen dramatis di akhir sekuen begitu hambar dan tidak ada sisi emosional sama sekali yang membekas bagi penonton. Jika masih ingat coba bandingkan dengan sekuen pembuka film aksi thriller, Cliffhanger (1993) yang dibintangi Stallone.

Point Break versi remake ini hanya mengandalkan sekuen aksi tanpa ketegangan yang berarti diperburuk sisi dramatik serta logika cerita yang lemah. Film ini memang pas dengan selera penonton remaja masa kini yang khususnya doyan olahraga ekstrem. Jika Anda sempat menonton film aslinya, silahkan bandingkan sendiri.

MOVIE TRAILER

https://www.youtube.com/watch?v=SFtfUJ-Y_lM

PENILAIAN KAMI
Total
40 %
Artikel SebelumnyaThe Good Dinosaur
Artikel BerikutnyaFilm Superhero Indonesia Siap Mendunia
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). His passion for film extends to the present day. He continues to provide insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com, while actively participating in film production endeavors with the Montase Film Community. His own short films have garnered critical acclaim at numerous festivals, both domestically and internationally. Recognizing his exceptional talent, the 2022 Indonesian Film Festival shortlisted his writing for Best Film Criticism (Top 15). His dedication to the field continues, as he currently serves as a practitioner-lecturer for Film Criticism and Film Theory courses at the Yogyakarta Indonesian Institute of the Arts' Independent Practitioner Program.

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.