predator badlands

Predator: Badlands adalah rilisan terbaru dari seri Predator yang tidak berhubungan cerita secara langsung dengan film-film sebelumnya. Film ini digarap oleh Dan Trachtenberg yang sukses  menggarap dua seri Predator sebelum ini, yakni Prey dan Killer of Killers (animasi) yang banyak dipuji pengamat. Badlands dibintangi oleh Elle Fanning dan Dimitrius Schuster-Koloamatangi. Akankah film ini memberi ekspektasi yang sama seperti dua seri sebelumnya?

Dek (Koloamatangi) adalah seorang predator muda yang berharap menjadi seorang yautja, ksatria paling disegani di kaumnya. Untuk membuktikan, ia berniat pergi ke Planet Genna, planet terliar di alam semesta yang ditakuti kaum predator. Sebelum pergi, ayah Dek pun datang dan murka, karena Kwei, kakak Dek, sesungguhnya mendapat perintah untuk membunuh Dek. Sesuai tradisi, anggota keluarga yang paling lemah (Dek) harus dibinasakan.

Kwei akhirnya mengorbankan nyawanya, agar Dek bisa mengemban misinya untuk membunuh monster terkuat bernama Kalisk di Genna. Sesaat setelah menjejakkan kaki di Genna, Dek langsung mendapat ancaman dari beragam monster. Dalam perkembangan, Dek pun bertemu robot sintetik yang rusak bernama Thia (Fanning) yang mengaku mengetahui lokasi Kalisk. Tanpa sepengetahuan Dek, rupanya ada pihak lain yang memburu sang monster.

Bagi fans berat serinya, tentu tahu persis bahwa Predator (1987) adalah film terbaik serinya, bahkan salah satu film aksi sci-fi terbaik yang pernah diproduksi. Beberapa sekuel (crossover) pun diproduksi dan tidak ada satu pun yang mendekati kualitas film orisinalnya. Tidak hingga Tracthtenberg menggarap Prey, (2022) yang mampu mengembalikan “jiwa” serinya ke trek yang benar. Prey banyak dianggap sebagai film terbaik sejak Predator, meski latar setnya, mundur beberapa ratus tahun sebelumnya. Sang sineas selanjutnya menggarap film animasi Predator: Killer of Killers, dirilis pertengahan tahun ini juga yang kembali menyegarkan serinya melalui aksi dan kisahnya. Kini, dengan bujet lebih besar dan rilis layar lebar, sang sineas rupanya mampu membuktikan jika sukses sebelumnya adalah bukan kebetulan.

Seperti halnya Prey, Badlands adalah satu sajian aksi nonstop menghibur dan segar untuk serinya. Untuk kali pertama, tokoh protagonis adalah seorang predator yang sepanjang serinya selalu bertindak sebagai antagonis (Dalam Alien vs Predator adalah bukan protagonis, tetapi adalah sekutu). Sekarang, kita mengetahui latar cerita dan penokohan, mengapa ras predator membutuhkan pengakuan sebagai ksatria tangguh di alam semesta.

Baca Juga  The Fantastic Four: First Step | REVIEW

Rupanya ras predator pun memiliki “kasta” di mana seorang yautja adalah ras level tertinggi. Satu hal yang ada di otak mereka hanyalah pengakuan sebagai ksatria nomor satu. Poin ini yang dimanfaatkan naskah Badlands untuk menambahkan sentuhan “manusiawi” berupa nilai persahabatan. Sesuatu yang nihil di seri sebelumnya. Untuk pertama kalinya pula, sang predator berkomunikasi verbal dan punya rasa serta emosi. Tak pernah terpikir sedikit pun, kisah seri Predator bisa memiliki nuansa yang hangat.

Bicara soal aksi, nyaris tak ada rehat selama durasi, seperti dijanjikan premisnya. Seisi planet yang berisi flora dan fauna ganas, serta set hutan dan padang yang ekstrem, membuat aksi-aksinya berbeda dengan seri sebelumnya, didukung efek visual (CGI) yang meyakinkan. Bahkan selipan komedi pun bisa dimasukkan secara pas tanpa memaksa, melalui dua karakter, yakni Thia dan Bud. Satu faktor lain yang mengiringi penuh semua adegan adalah ilustrasi musik menghentak dan powerful, yang memiliki gaya senada dengan Prey. Hingga keluar bioskop pun, score-nya masih terngiang-ngiang di telinga kita.

Predator: Badlands adalah salah satu contoh film Hollywood terbaik yang bekerja sempurna dari semua lini untuk memberikan hiburan maksimal bagi penonton, khususnya fans franchise-nya. Belum pernah, sejak beberapa dekade terakhir, kita bisa merasa puas meninggalkan bioskop. Film ini adalah sebuah kejutan kesar yang jauh dari ekspektasi fansnya sekali pun. Relasi dengan franchise Alien (Weyland-Yutani Corp) telah terpapar dengan tegas yang ini tentu bisa dieksplorasi lebih luas di masa mendatang. Harus diakui, Trachtenberg adalah satu talenta berbakat yang sangat menjanjikan. Tidak mudah menghidupkan kembali seri ikonik yang telah ada sejak lebih dari tiga dekade lalu.

1
2
PENILAIAN KAMI
Overall
100 %
Artikel SebelumnyaSirāt | REVIEW
Artikel BerikutnyaNouvelle Vague | REVIEW
A lifelong cinephile, he cultivated a deep interest in film from a young age. Following his architectural studies, he embarked on an independent exploration of film theory and history. His passion for cinema manifested in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience subsequently led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched the minds of students by instructing them in Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, "Understanding Film," which delves into the core elements of film, both narrative and cinematic. The book's enduring value is evidenced by its second edition, released in 2018, which has become a cornerstone reference for film and communication academics across Indonesia. His contributions extend beyond his own authorship. He actively participated in the compilation of the Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1-3 and "30 Best Selling Indonesian Films 2012-2018." Further solidifying his expertise, he authored both "Horror Film Book: From Caligari to Hereditary" (2023) and "Indonesian Horror Film: Rising from the Grave" (2023). A lifelong cinephile, he developed a profound passion for film from an early age. After completing his studies in architecture, he embarked on an independent journey exploring film theory and history. His enthusiasm for cinema took tangible form in 2006 when he began writing articles and film reviews. This extensive experience eventually led him to a teaching position at the esteemed Television and Film Academy in Yogyakarta. From 2003 to 2019, he enriched students’ understanding through courses such as Film History, Introduction to Film Art, and Film Theory. His scholarly pursuits extended well beyond the classroom. In 2008, he published his seminal work, Understanding Film, an in-depth examination of the essential elements of cinema, both narrative and visual. The book’s enduring significance is reflected in its second edition, released in 2018, which has since become a cornerstone reference for film and communication scholars across Indonesia. His contributions to the field also encompass collaborative and editorial efforts. He participated in the compilation of Montase Film Bulletin Compilation Book Volumes 1–3 and 30 Best-Selling Indonesian Films 2012–2018. Further establishing his authority, he authored Horror Film Book: From Caligari to Hereditary (2023) and Indonesian Horror Film: Rising from the Grave (2023). His passion for cinema remains as vibrant as ever. He continues to offer insightful critiques of contemporary films on montasefilm.com while actively engaging in film production with the Montase Film Community. His short films have received critical acclaim at numerous festivals, both nationally and internationally. In recognition of his outstanding contribution to film criticism, his writing was shortlisted for years in a row for Best Film Criticism at the 2021-2024 Indonesian Film Festival. His dedication to the discipline endures, as he currently serves as a practitioner-lecturer in Film Criticism and Film Theory at the Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta, under the Independent Practitioner Program from 2022-2024.

1 TANGGAPAN

BERIKAN TANGGAPANMU

Silahkan berikan tanggapan anda
Silahkan masukan nama anda disini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses