Seri Predator mengawali debut animasi feature-nya melalui Predator: Killer of Killers yang kembali digarap oleh Dan Tracthenberg. Sang sineas juga mengarahkan Prey (2022) serta Predator: Badlands yang akan dirilis akhir tahun 2025. Film berdurasi 90 menit ini dirilis oleh Disney+ serentak secara global. Apa yang kini coba ditawarkan versi animasinya serta mampukah bersaing dengan film sebelumnya (Prey) yang sukses kritik dan komersial?
Kisah filmnya dibagi dalam empat chapter, di mana tiga babak awal adalah eksposisi tiga tokoh utamanya, yakni Ursa, Kenji, serta Torres. Dalam tiga segmen ini formula plotnya nyaris sama. Sang predator datang ke wilayah asing dan menantang para pejuang lokal yang ada di sana. Akhir tiga kisahnya juga senada dengan menyajikan duel klimaks antara sang predator dengan masing-masing protagonis. Sementara segmen keempat adalah klimaks yang mempertemukan semua protagonisnya dengan antagonis nan tangguh.
Bagi fans seri Predator, tahu persis bahwa kisahnya selama ini didominasi lokasi di Planet Bumi. Tercatat hanya satu film yang berlatar di planet asing, yakni Predators (2010). Sementara Prey (2022) mengambil kisah jauh sebelum peristiwa dalam film-film sebelumnya terjadi, yakni 1719 di wilayah Amerika Utara. Namun, Killer of Killers kini membuat aturan main baru, yakni adanya indikasi perjalanan waktu. Walau terasa dipaksakan, namun ini tentu sah-sah saja, mengingat kisah Predator tidak diadaptasi dari sumber mana pun dan bisa dieksplorasi secara bebas.
Kisah Ursa berlatar di era Viking tahun 841 di Skandinavia. Sementara Kenji berlatar di Jepang tahun 1609 pada era feodal. Sementara kisah Torres berlatar era PD II dan berlokasi di Samudera Atlantik. Lantas bagaimana mereka bisa bertemu dalam satu masa dan satu lokasi? Ini memang belum terjelaskan. Para predator rupanya tidak hanya berpetualang mencari ksatria tangguh di jagad semesta, namun juga menjelahi masa yang berbeda.
Asumsinya tentu mereka memiliki teknologi time travel. Terasa absurd memang. Bukankah jika memiliki teknologi mesin waktu, mereka sesungguhnya telah menang (mereka bisa kembali jika kalah)? Tanpa itu pun, secara fisik dan teknologi, mereka telah jauh superior dari lawan-lawan mereka, lalu mengapa kemenangan begitu penting? Jika mereka (misalnya) bertemu dengan sosok yang jauh lebih superior, lantas bagaimana? Apakah planet tersebut dihancurkan? Bisa jadi era dinosaurus musnah bukan karena faktor alam, namun adalah ulah mereka. Poin besarnya, ini adalah sebuah konsep absurd yang kelak harus dijawab tuntas oleh pembuat naskahnya.
Lupakan dulu sementara motif permainan waktu dalam plotnya. Sejak awal serinya, seri ini memang menawarkan aksi “David vs Goliath” dan “cat vs mouse” yang amat menegangkan. Pertarungan klasik “Arnold vs Predator” hingga kini masih yang terbaik, namun aksi-aksi sang pemburu dalam Killer of Killers harus diakui adalah salah satu yang terbaik di serinya (walau masih di bawah Prey). Pertarungan satu lawan satu dengan senjata masih dominan (segmen Ursa dan Kenji), namun kini rupanya tidak hanya tarung fisik semata, namun juga duel di udara menggunakan pesawat. Ini sesuatu yang sangat menyegarkan bagi serinya. Segmen klimaks di penghujung adalah satu sajian aksi yang sebelumnya tidak pernah ada dalam serinya.
Predator: Killer of Killers dijamin memuaskan para fans loyalnya, walau pengembangan kisahnya kini jauh lebih liar dan absurd dari sebelumnya. Kisahnya belum kelar dan bahkan menyisakan banyak pertanyaan besar yang belum terjawab tuntas. Bahkan di segmen penutup, sosok protagonis seri sebelumnya diperlihatkan secara tegas. Predator: Badlands mungkin bakal menjawab semuanya. Kekacauan bisa bertambah jika kelak mereka kembali menyilangkan kisahnya dengan seri Alien yang kini juga mulai panas. Kita sejatinya hanya ingin menikmati aksi pertarungan sang protagonis yang inferior melawan antagonis yang superior. Prey telah memberikan contoh yang sempurna. Semoga kisahnya kelak tidak berujung dalam satu kebodohan absurd yang mengaburkan potensi premisnya.







